Dirilis

22 Mei 2018

Penulis

Tim Daya Tumbuh Usaha

Menentukan harga jual tidak seperti main tebak-tebakan, tapi yang menjadi pertimbangan adalah kebutuhan Anda. Maksudnya?

Kebutuhan adalah besar nominal yang bisa menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mengelola usaha. Jika tidak bisa menutupi biaya-biaya, maka dampaknya akan negatif terhadap keuntungan usaha. Apabila jika terjadi terus-menerus, usaha Anda bisa gulung tikar.

Lalu, jika Anda berjualan es kelapa muda, kira-kira berapa harga jual yang tepat? Nah, untuk itu, ada tiga cara yang bisa Anda terapkan, yaitu:

1. Cost-Plus
 
Anda perlu menghitung besar modal (biaya produksi), ditambah dengan nilai keuntungan yang diinginkan (margin).
 
Rumus Cost-Plus:
Harga Jual = Modal (Biaya Produksi) + Laba
 

Biasanya pemilik usaha yang menentukan harga dengan cara ini berharap seluruh modal yang telah dikeluarkan dapat kembali lagi. Sehingga para pelaku usaha merinci total modal, lalu memasukkannya ke dalam harga jual. Namun, kendala yang sering dihadapi adalah harga jual terlalu tinggi.

Tingginya biaya operational (supplier, sewa ruko, listrik, dan sebagainya) membuat harga modal semakin besar, sehingga berdampak pada harga jual.

Nah, kembali ke usaha es kelapa muda Anda. Misalnya Anda membuat 50 gelas es kelapa muda per hari, dengan modal membeli bahan baku Rp300.000 dan biaya operasional Rp200.000. Jadi total biaya per hari adalah Rp500.000. Lalu Anda ingin mendapatkan keuntungan sebesar 20%. Maka harga jual satu porsi es kelapa muda Anda adalah:

 
Untuk harga jual 50 porsi: Rp500.000 + (20% x Rp500.000) = Rp600.000
 
Untuk harga jual 1 porsi: Rp600.000 / 50 = Rp12.000
 

Agar Anda bisa berkompetisi dengan pelaku usaha lain yang menjual es kelapa muda lebih murah, Anda bisa memberi keunikan atau pembeda. Misalnya, dengan pelayanan yang lebih baik, cara membungkus atau rasa yang unik, dan sebagainya.

2. Competitive
 
Penentuan harga berbasis competitive biasanya digunakan saat pasar sudah memiliki harga tetap. Cara ini dipakai oleh pemilik usaha dengan harapan lebih mudah mendapatkan pelanggan.

Misalnya, seluruh penjual es kelapa muda di sekitar Anda memasang harga Rp15.000 per porsi. Harga itu pulalah yang sebaiknya Anda pasang. Namun kelemahannya, bila harga lebih kecil dari total biaya operasional, Anda bisa rugi.

Untuk memilih cara ini, pastikan harga pasaran bisa menutup biaya operasional usaha dan Anda mendapatkan keuntungan untuk kebutuhan pribadi, keluarga, serta rencana pengembangan usaha.

3. Mark-Up Pricing
 
Markup pricing biasanya digunakan oleh pelaku yang menjalankan usaha dengan cara membeli barang dari orang lain untuk dijual kembali. Ia akan menambahkan biaya-biaya sebelum dijual.

Misalnya, saat ini Anda adalah pelaku usaha warung makan, tapi selama bulan puasa Ramadan ini Anda ingin berjualan es kelapa muda. Agar tidak repot, Anda melakukan kerjasama dengan penjual es kelapa muda lain. Nah, di sinilah Anda bisa menetapkan harga dengan cara markup pricing. Besarnya markup berdasar jumlah biaya operasional dan keuntungan yang diinginkan.
 
Rumus Markup Pricing:
Harga Jual = Harga Beli + Markup (Biaya Operasional & Keuntungan)

 
Contohnya, biaya membeli seporsi es kelapa muda Rp10.000, dan harga jual yang Anda berikan adalah Rp12.000, maka nilai markup adalah Rp2.000. Untuk menghitung persentase markup, Anda perlu membagi nilai markup dengan biaya pembuatan produk: Rp2.000 / Rp10.000 = 20%. Yang paling penting adalah memastikan persentase markup tersebut mampu menutupi biaya-biaya operasional dan tetap memberi keuntungan.

Jadi, cara mana yang cocok untuk menentukan harga seporsi es kelapa muda Anda?

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

4.0

1 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS