Dirilis

09 Agustus 2021

Penulis

Decky Kristanto

Apakah Anda merasakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir suhu udara di sekitar kita semakin hangat atau panas? Bagi Anda yang terutama tinggal di daerah pesisir pantai, apakah Anda merasakan adanya kenaikan permukaan air laut hingga menggenangi daratan? 

Jika salah satu atau keduanya pernah Anda lihat atau rasakan, maka fenomena tersebut bisa jadi merupakan pertanda atau dampak dari adanya pemanasan gobal (global warming). 

 

Apa itu Pemanasan Global?

Pemanasan global adalah suatu proses bertambahnya suhu rata-rata daratan (bumi), air laut, dan atmosfer yang disebabkan adanya peningkatan gas rumah kaca (gas yang menyerap gelombang panas dari matahari) dan menimbulkan efek rumah kaca.

Gas rumah kaca adalah unsur pembentuk efek rumah kaca dan berada dibawah atmosfer bumi yang terdiri atas uap air, karbondioksida, metana, nitrogen oksida, dan gas lainnya. Sedangkan efek rumah kaca adalah kemampuan atmosfer untuk menjaga suhu udara panas yang nyaman dalam perubahan nilai yang kecil.

Efek rumah kaca berperan untuk menjaga agar cahaya matahari yang masuk ke dalam lapisan atmosfer menuju permukaan bumi dan diubah menjadi energi panas, tidak seluruhnya dipantulkan kembali ke luar angkasa, tapi akan ditahan atau diperangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfer bumi, sehingga suhu di permukaan bumi tetap hangat dan layak ditinggali oleh berbagai mahluk hidup.

Terkait pemanasan global, jumlah gas rumah kaca tersebut terperangkap di bawah lapisan atmosfer secara berlebih, sehingga menyebabkan suhu di bumi menjadi bertambah hangat atau bahkan panas. Itu artinya, jumlah gas rumah kaca yang berada dibawah atmosfer, khususnya karbondioksida, metana, dan beberapa gas lainnya semakin bertambah banyak. 

Penambahan jumlah gas rumah kaca seperti karbondioksida, metana, dan beberapa gas lainnya semakin meningkat sejak adanya revolusi industri pertama di abad ke-18, yang ditandai dengan penemuan mesin uap untuk dipergunakan dalam proses produksi. 

 

Apa Penyebab Gas Rumah Kaca Bertambah?

Penambahan konsentrasi berbagai gas rumah kaca memang bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya: 
 
Apa Penyebab Gas Rumah Kaca Bertambah?

1. Penebangan liar dan pembakaran hutan 
Hutan yang berisi berbagai macam tumbuhan sebagai mahluk hidup yang melakukan fotosintesis guna menyerap karbondioksida dan uap air, merupakan salah satu benteng pertahanan dalam menjaga kestabilan jumlah karbondioksida di udara. Penebangan liar dan pembakaran hutan akan menyebabkan benteng tersebut runtuh dan pemanasan global meningkat. 

2. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan 
Penggunaan minyak bumi dan batu bara secara berlebihan dapat mempercepat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. 

3. Pencemaran lautan 
Laut sebagai tempat ekosistem berbagai mahluk hidup di dalamnya merupakan penyerap karbondioksida dalam jumlah besar. Pencemaran lautan dengan limbah industri dan sampah akan mematikan berbagai ekosistem tersebut. 

4. Limbah rumah tangga
Pengelolaan limbah rumah tangga yang tidak tepat, akan menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbondioksida dan metana yang timbul dari bakteri-bakteri pengurai sampah. 

5. Industri pertanian dan peternakan 
Penggunaan pupuk non organik di pertanian dan kotoran sapi yang tidak diolah, akan melepaskan konsentrasi gas nitrous oksida, karbondioksida dan metana ke udara dalam jumlah besar. 

Mengingat besarnya dampak dari kelebihan gas rumah kaca, maka kita sebagai mahluk Tuhan, tentu harus ikut mengambil peran dalam pencegahan guna mengurangi konsentrasi gas rumah kaca. 

 

Bagaimana Cara Kurangi Gas Rumah Kaca?

Berikut beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca:
 
Bagaimana Cara Kurangi Gas Rumah Kaca?

1. Lakukan reboisasi atau penanaman pohon dan tanaman lainnya 
Mulai dari hal sederhana seperti menanam pohon atau tanaman di pekarangan rumah. Berikan edukasi kepada keluarga terdekat untuk ikut serta menanam dan memelihara tanaman sebagai penyerap karbondioksida di udara.
 
2. Bijak dalam menggunakan listrik 
Matikan lampu, pesawat televisi, komputer, dan perangkat lainnya yang memakai listrik, jika tidak dipergunakan. Gunakan listrik seperlunya dan secukupnya. Selain berdampak kepada penghematan biaya, juga akan berdampak kepada keberlangsungan alam. Karena sebagian besar energi listrik dihasilkan dari bahan bahan bakar fosil seperti batu bara. 

3. Bijak mengelola sampah 
Kelola sampah di rumah tangga Anda. Pisahkan antara sampah plastik dan organik. Manfaatkan sampah organik sebagai pupuk bagi tanaman Anda, dan manfaatkan sampah plastik untuk didaur ulang, baik secara pribadi maupun dengan menggandeng komunitas daur ulang sampah plastik yang saat ini mulai banyak bermunculan. 

4. Bijak dalam menggunakan bahan bakar fosil 
Jika memungkinkan, pergunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, misal yang menggunakan panel surya atau tenaga listrik. Sebagai alat transportasi, jika ingin menempuh jarak dekat, bisa berjalan kaki, atau bersepeda. 

5. Pergunakan pupuk organik untuk pertanian, dan kelola limbah peternakan 
Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian, mulailah dengan mempergunakan pupuk organik. Pelajari pengetahuan seputar pupuk organik bersama komunitas pertanian yang sudah lebih unggul dalam penggunaan pupuk organik.

Begitu pula dengan pengelolaan limbah peternakan. Manfaatkan limbah kotoran ternak Anda untuk dijadikan biogas. Pelajari pengetahuan seputar penggunaan biogas kepada komunitas peternakan yang sudah lebih dahulu memanfaatkan limbah peternakan untuk dijadikan biogas.

Seluruh upaya tersebut memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Sebagai manusia, kita perlu konsisten dan persisten dalam mencoba semua upaya di atas, agar anak cucu kita bisa merasakan dampaknya di masa yang akan datang. Jika Anda ingin belajar seputar agribisnis, silahkan bertanya kepada para ahli kami di sini. Pastikan Anda mendaftar daya.id dan dapatkan informasi mengenai kesehatan secara gratis.
 

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

5.0

4 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Sanny Yanisyah Cutfriana

Dokter Umum

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS