Dirilis

05 Agustus 2022

Penulis

Majalah Franchise Indonesia

Untuk memulai usaha, Anda tidak melulu harus mulai dari nol, tapi bisa membeli merek usaha yang sudah jadi. Kita mengenal dua istilah, yaitu BO (Business Opportunities) dan franchise atau waralaba. Penawaran BO memiliki makna yang berbeda dari penawaran waralaba atau franchise. Penawaran BO biasanya digunakan untuk menyebut istilah ‘calon’ pemberi waralaba, dimana mereka juga menawarkan waralaba tetapi belum memenuhi beberapa syarat sebagai waralaba.

Terkadang penawaran bisnis yang dilakukan dalam BO memberikan proyeksi keuangan yang masih harus diuji dan diverifikasi kebenarannya. Beberapa ‘keanehan’ yang sering ditemukan diantaranya adalah alokasi upah di bawah UMR, serta target penjualan yang sulit untuk dicapai. Bahkan pihak pewaralaba tersebut (BO) belum tentu pernah atau terbilang jarang dalam berhasil mencapai angka penjualan.

Baca juga: Perbedaan Franchise, Business Opportunity, dan Lisensi

 

Tips Hitung-Hitungan Antara Franchisor dan Franchisee yang Win-Win

Berikut tips menyusun hitung-hitungan yang “win-win” bagi Anda yang berniat untuk menjadi pewaralaba atau franchisor, entah saat ini Anda menawarkan BO atau peluang waralaba. Tentunya, menggunakan perhitungan dengan target penjualan dan biaya operasional yang wajar.

 

1.    Royalti dan Franchise Fee yang Win-Win 

Dalam setiap bisnis, sudah sewajarnya memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal. Namun demikian, dalam usaha franchise, pandangan ‘keuntungan maksimal’ ini harus dibatasi dengan keadaan yang win-win.

Terdapat beberapa pedoman umum dalam menilai atau menentukan apakah Anda memiliki pandangan yang win-win. Misalnya, apakah Anda sebagai pihak franchisor mendapatkan bagian yang tidak lebih besar dari Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) yang diterima oleh pihak franchisee atau investor?

Untuk outlet yang dikelola oleh pihak franchisee, apabila pro-rata tiap bulan dari franchise fee ditambah dengan royalti yang diterima oleh franchisor mencapai angka Rp2 juta, maka sebaiknya pihak  franchisee juga menikmati nominal yang sama minimal Rp2 juta. Meski begitu, akan lebih baik apabila pihak franchisee dapat menikmati pemasukan dua kali lipatnya yaitu Rp4 juta.

Memang tidak ada aturan pasti yang menjelaskan bahwa pihak franchisor tidak berhak untuk mengambil bagian yang lebih besar dari EBITDA. Namun, jika dilihat dari aspek kemoralan, akan lebih baik apabila yang memegang kendali serta menganggu risiko investasilah yang memperoleh bagian yang lebih besar.

 

2.    Pengelolaan Nilai Modal

Nilai modal seperti aset, renovasi, biaya survey, training, dan franchise fee sangat perlu diperhatikan dan dikendalikan supaya tidak melebihi 36 kali dari nilai EBITDA (yang telah dikurangi dengan pembayaran kepada franchisor). 

Misalnya angka EBITDA terwaralaba mencapai angka Rp4 juta, maka batas investasi yang bisa dikeluarkan adalah Rp144 juta. Akan lebih baik apabila modal yang dikeluarkan dapat dipress, misalnya hanya menjadi 30 kalinya dari nilai EBITDA, 24 kalinya, atau bahkan lebih rendah.

 

3.    Pembebasan Royalti

Sering ditemukan, pihak franchisee yang mengajukan penghapusan atau pembebasan royalti apabila bisnisnya tidak berhasil mencapai goals sesuai dengan yang diproyeksikan. Beberapa franchisor biasanya akan memberikan potongan, melakukan penghapusan, atau menangguhkan pembayaran untuk sementara waktu.

Hitung-hitungan yang sama-sama menguntungkan atau win-win, tidak harus melulu membebaskan franchisee dari pembayaran royalti ketika franchisee masih merugi. Pada intinya, bila pihak franchisee merugi, berarti royalti yang dibayarkan kepada franchisor juga akan minim. Hal ini tentunya tidak akan cukup untuk membiayai support yang diberikan franchisor kepada franchisee.

 

4.    Berikan Bukti Pasti

Baik anda menawarkan BO atau peluang waralaba, sudah semestinya nilai penjualan yang dilampirkan dalam proyeksi keuangan Anda sudah pernah diraih sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa angka tersebut, bukanlah target fiktif dan sekadar angan-angan.

Jangan dengan mudah untuk percaya angka-angka yang terlalu tinggi dan menggiurkan. Meski tampak menggiurkan, bisa saja hal tersebut dapat menimbulkan masalah bagi Anda kedepannya. Seseorang yang sudah memahami cash flow atau arus kas yang realistis justru menjelaskan bahwa ‘proyeksi keuangan fiktif’ dapat dengan mudah untuk dikenali. Untuk itu Anda perlu hati-hati untuk menganalisa hal tersebut, supaya tidak menyesal ketika sudah terlanjur ‘kecebur’ nantinya.

Baca Juga: Pilihan Peluang Usaha Franchise Rp50 jutaan
 
Nah itu tadi empat hal yang perlu Anda perhatikan untuk bisa menciptakan hitung-hitungan penawaran dan kesepakatan yang win-win bagi franchisor dan franchisee. Jika Anda masih memiliki pertanyaan terkait bisnis franchise Anda, Anda dapat mengakses fitur Tanya Ahli dan dapat berdiskusi lebih lanjut dengan para ahli. Anda juga dapat mengunjungi Daya.id untuk mengetahui tips dan peluang usaha lainnya. Jangan lupa segera daftarkan diri Anda untuk bisa mendapatkan manfaat menarik lainnya!

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

2 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Rofian Akbar

Pakar Waralaba

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS