Kristian, atau yang akrab dipanggil Kris, sekarang menjalani keseharian yang cukup padat. Ia berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas negeri, tepatnya di jurusan Sains dan Analisa Data. Selain itu, ia juga bekerja di bidang analisis data dan membuka bimbingan belajar di rumah bersama istrinya.
Di bimbel tersebut, Kris mengajar matematika dan sains. Rumahnya menjadi tempat ia berbagi ilmu dengan murid-murid yang datang belajar. Bagi Kris, kegiatan ini bukan hanya soal mengisi waktu atau mencari penghasilan. Mengajar membuatnya tetap punya ruang untuk berkembang, bertemu murid, dan merasa bahwa ilmu yang ia miliki masih bisa bermanfaat.
Sebelum berada di dunia pendidikan seperti sekarang, Kris bekerja sebagai arsitek. Pekerjaan itu sangat dekat dengan gambar bangunan, rancangan ruang, ukuran, garis, dan detail visual. Semua proses kerja membutuhkan ketelitian mata.
Saat masih menjadi arsitek, Kris sering larut di depan komputer. Jika sudah fokus menggambar, ia bisa bekerja sangat lama sampai waktu istirahat terlewat. Kebiasaan seperti itu dulu terasa biasa saja. Namun, setelah kondisi matanya berubah, Kris mulai melihat bahwa tubuh sebenarnya membutuhkan jeda.
“Dulu kalau menggambar itu tidak kenal waktu. Kadang pagi jadi siang, siang jadi malam,” ujar Kris.
Awal Perubahan pada Mata Kris
Perubahan pada penglihatan Kris mulai terasa sekitar tahun 2017. Pada awalnya, ia hanya merasa matanya tidak senyaman biasanya. Ia sempat memeriksakan diri ke dokter spesialis mata, tetapi saat itu belum ada kondisi yang dianggap serius.
Pada 2019, keadaan berubah cukup besar. Penglihatan Kris menurun setelah ia mengalami gangguan autoimun yang disebut NMO atau Neuromielitis Optica. Setelah menjalani perawatan, kemampuan melihatnya tidak kembali seperti sebelumnya.
Dari penjelasan dokter, kondisi mata Kris juga berkaitan dengan penyumbatan darah ke pupil. Pupilnya membesar sehingga cahaya tidak masuk dengan maksimal. Kris juga merasa kebiasaan bekerja terlalu lama di depan layar, kurang istirahat, dan sering memaksa diri ikut membuat tubuh dan matanya lelah.
Kris tidak mengalami kebutaan total. Ia masih bisa menangkap cahaya, membedakan gelap dan terang, serta melihat warna yang sangat mencolok. Namun, ruang pandangnya sudah sangat terbatas. Ia menggambarkan kondisinya seperti melihat dari celah kecil.
“Kalau melihat orang itu seperti melihat dari lubang kunci,” jelas Kris.
Perubahan ini membuat Kris tidak bisa lagi menjalani pekerjaan lamanya sebagai arsitek. Meski berat, pengalaman tersebut menjadi titik balik baginya untuk lebih memperhatikan tubuh, pikiran, dan cara menjalani hari.
Baca juga : Menjaga Kesehatan Walau Hidup Super Sibuk dan Multi Fokus
Mulai Membuat Batas untuk Diri Sendiri
Setelah penglihatannya berkurang, Kris tidak langsung bisa menemukan pola yang nyaman. Ia perlu menyesuaikan banyak hal, termasuk cara bekerja dan cara beristirahat.
Dulu, Kris bisa mengikuti ritme pekerjaan tanpa terlalu memikirkan waktu. Sekarang, ia mulai belajar membuat batas. Ketika sudah terlalu lama menghitung, mengajar, atau mengerjakan data, ia mengambil jeda sebentar. Bagi Kris, berhenti sejenak bukan berarti menyerah pada pekerjaan. Justru, jeda membantu tubuh dan pikirannya tetap siap melanjutkan aktivitas.
“Kalau sudah dua jam, berhenti istirahat dulu,” kata Kris.
Beberapa kebiasaan yang kini lebih diperhatikan Kris, yaitu:
- memberi jeda saat pekerjaan terasa panjang;
- tidak memaksa badan ketika mulai lelah;
- mengatur waktu makan;
- menyediakan waktu untuk istirahat;
- memilih aktivitas fisik yang ringan.
Perubahan kecil seperti ini membuat aktivitas Kris terasa lebih tertata. Ia tetap sibuk, tetapi tidak lagi memperlakukan tubuh seperti mesin yang harus terus berjalan.
Tetap Berkarya Lewat Mengajar
Keterbatasan penglihatan tidak membuat Kris berhenti belajar. Setelah tidak lagi bekerja sebagai arsitek, ia melanjutkan pendidikan S2 di bidang Matematika Terapan. Dari sana, Kris menemukan jalan baru yang masih dekat dengan minat dan kemampuannya.
Kini, Kris menjadi dosen di jurusan Sains dan Analisa Data. Di luar kampus, ia tetap menjalani pekerjaan di bidang analisis data. Sementara itu, bimbel di rumah menjadi ruang lain baginya untuk mengajar matematika dan sains.
Dalam proses mengajar, tentu ada tantangan. Beberapa materi matematika menggunakan gambar, grafik, simbol, atau bentuk tertentu. Untuk bagian seperti itu, istrinya membantu menjelaskan secara lisan. Setelah mendapat gambaran, Kris bisa memahami materi tersebut dan menyampaikannya kembali kepada muridnya.
Dari proses ini, Kris belajar bahwa produktif tidak selalu berarti mengerjakan semuanya sendirian. Ada saatnya seseorang perlu mengubah cara kerja, menerima bantuan, dan bekerja sama dengan orang terdekat.
Bagi Kris, bimbel di rumah bukan hanya usaha keluarga. Tempat itu juga menjadi ruang untuk menjaga rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menghapus kemampuan seseorang untuk berbagi ilmu.
“Harapannya, menjalani bimbel ini ingin jadi berkat buat orang,” ujar Kris.
![]()
Olahraga Ringan Bersama Keluarga
Untuk menjaga tubuh tetap aktif, Kris memilih kegiatan yang mudah dilakukan. Ia biasa berjalan santai atau berlari kecil di sekitar rumah bersama istri dan anak-anaknya. Mereka menikmati sore dengan berjalan di sekitar rumah.
Kegiatan ini sederhana, tetapi memberi manfaat bagi Kris. Tubuhnya tetap bergerak, pikiran terasa lebih segar, dan waktu bersama keluarga menjadi lebih hangat.
Aktivitas yang biasa dilakukan Kris bersama keluarga antara lain:
- berjalan di sekitar rumah;
- menikmati suasana sore;
- bergerak santai bersama anak-anak;
- menjadikan olahraga sebagai waktu keluarga;
- melepas lelah setelah kegiatan harian.
Bagi Kris, menjaga badan tidak harus selalu dilakukan dengan olahraga berat. Selama dilakukan sesuai kemampuan dan cukup rutin, aktivitas ringan tetap bisa membantu tubuh terasa lebih nyaman.
Membiasakan Anak untuk Hidup Seimbang
Kris dan istrinya memiliki anak kembar, laki-laki dan perempuan. Di rumah, mereka juga berusaha mengenalkan kebiasaan baik kepada anak-anak.
Hal yang diperhatikan bukan hanya makanan. Waktu tidur dan penggunaan gadget juga ikut diatur. Anak-anak diberi batas menggunakan gadget sekitar satu jam sehari. Kadang aturan ini membuat anak-anak kurang senang, tetapi Kris dan istrinya tetap berusaha konsisten.
Kris ingin anak-anaknya memahami bahwa tubuh perlu dirawat sejak kecil. Tidur cukup, makan dengan baik, dan tidak terlalu lama menatap layar adalah hal sederhana yang bisa membantu mereka tumbuh lebih seimbang.
“Yang paling penting, istirahatnya cukup, makanannya dijaga, dan main gadget dibatasi,” jelas Kris.
Aturan di rumah tidak dibuat rumit. Kris dan istrinya hanya mencoba menjalankan kebiasaan yang bisa dilakukan setiap hari.

Belajar Meredakan Emosi
Perubahan penglihatan tidak hanya berdampak pada pekerjaan Kris. Perubahan itu juga memengaruhi perasaannya. Pada masa awal, Kris pernah merasa marah, sedih, kecewa, dan bingung. Banyak hal berubah dalam waktu yang tidak mudah, termasuk pekerjaan yang dulu sangat ia tekuni.
Sampai sekarang, ada waktu ketika Kris merasa lelah atau kesal. Tantangan saat mengajar, keterbatasan penglihatan, dan respons orang lain kadang membuat emosinya naik.
Ketika hal itu terjadi, Kris biasanya mengambil waktu untuk menjauh sebentar. Ia masuk ke kamar atau ruang bimbel, mendengarkan lagu, lalu menenangkan diri. Setelah suasana hatinya lebih baik, ia kembali berbicara dengan istrinya. Jika sempat marah, Kris meminta maaf.
Cara sederhana yang biasa membantu Kris adalah:
- diam sejenak saat emosi mulai naik;
- menjauh sebentar dari suasana yang membuatnya kesal;
- mendengarkan lagu;
- berbicara kembali setelah lebih tenang;
- meminta maaf jika sempat terbawa emosi;
- mengingat hal-hal yang masih bisa disyukuri.
“Lebih banyak bersyukur sih,” ujar Kris.
Bagi Kris, menjaga pikiran sama pentingnya dengan menjaga tubuh. Tubuh perlu istirahat, tetapi perasaan juga perlu diberi ruang agar tidak menumpuk terlalu lama.
Baca juga : Kesehatan Fisik atau Mental? Kisah Joshua Membuktikan Keduanya Penting!
Penutup
Kisah Kris menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu berarti akhir dari semuanya. Setelah penglihatannya menurun, ia memang tidak lagi bekerja sebagai arsitek. Namun, ia menemukan jalan baru sebagai dosen, analis data, dan pengajar bimbel di rumah.
Dari Kris, Anda bisa belajar bahwa hidup yang lebih seimbang bisa dimulai dari kebiasaan kecil. Berhenti sejenak saat lelah, mengatur waktu makan, membatasi gadget, berolahraga ringan, dan menenangkan diri saat emosi naik adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan dari rumah.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait informasi kesehatan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Berikan Pendapat Anda