Fajar ‘Alexa Band’: Tidak Ada Kata Terlambat, Lihat Saja ‘Gue’

Dirilis

25 Januari 2019

Penulis

Tim Penulis Daya Sehat Sejahtera

Narasumber

Fajar Arifan (Alexa Band)

Pekerjaan

Penggiat Triathlon, Musisi, dan Influencer

Fajar Arifan (36) dikenal sebagai musisi penggebuk drum band lokal ternama, Alexa. Belakangan, ada satu kegiatan lain yang ia tekuni sama seriusnya, yaitu olahraga triathlon.

Triathlon adalah sebuah cabang multi-olahraga yang memadukan 3 jenis olahraga sekaligus, lari, renang, dan bersepeda. Olahraga ini merupakan jenis endurance yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental bagi para pelakunya.

Mau tau seberapa seriusnya Fajar?

Tahun 2018, Fajar sudah ikut serta di 9 acara triathlon yang cukup besar. Belum terhitung pertandingan-pertandingan kecil yang tidak ia sebutkan secara gamblang jumlahnya.

Walau menolak disebut atlet, namun bisa dibilang jam terbangnya dalam membukukan pertandingan tidak kalah dengan atlet handal. Porsi latihannya pun bisa dibilang hampir serupa. Cukup mencengangkan, mengingat olahraga bisa dibilang tidak pernah menjadi bagian hidup Fajar, hingga di usianya yang ke-29.

Akibat Ikut Promo Produk Sponsor Alexa Band
Perkenalannya dengan olahraga bisa dibilang tidak sengaja. Semuanya berawal dari kegiatan promo produk yang mensponsori band Alexa. Produk itu mengajak—atau bisa dibilang mewajibkan—ia dan teman-temannya untuk ikut serta dalam sebuah acara lari maraton di tahun 2011.

Fajar yang saat itu belum pernah berolahraga, terpaksa harus berpartisipasi. Tentu bisa ditebak hasilnya, ia tidak menang. Tetapi Fajar mengaku momen tersebut membuatnya menemukan kemenangan pribadi, dengan 'mengalahkan diri sendiri'. Ia yang nyaris tidak pernah berolahraga, tapi bisa mengikuti acara lari maraton.

Sensasi inilah yang membuatnya merasa bangkit. Menemukan babak baru dari kehidupannya. Dan mulai saat itu, lari menjadi bagian dalam kehidupan Fajar.

Tahun 2014, ia mengalami cedera yang mengharuskannya beristirahat dari olahraga lari. Dengan tubuh yang telah terbiasa untuk bergerak aktif, Fajar tidak ingin tinggal diam. Saran dokter agar ia beristirahat lari selama 2-3 bulan dan mencoba jenis olahraga yang lebih aman seperti renang dan bersepeda, akhirnya menghantarkannya berkenalan dengan  triathlon.

"Gue nggak mahir berenang sebelumnya. Ini adalah tantangan lain yang ingin gue kalahkan," tuturnya. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah dan mulai berlatih renang dari nol.

Tidak butuh lama untuk bangkit, di tahun 2015 bertepatan dengan hari ulang tahunnya, ia menghadiahkan diri dengan mengikuti pertandingan  triathlon pertama. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung mencoba half ironman atau yang biasa disebut Ironman 7.30, sebuah pertandingan  triathlon dengan jarak 70,3 miles atau 113 km.

Kapok? Tidak. Di tahun berikutnya, ia kembali berpartisipasi dalam ajang pertandingan Ironman dengan jarak full 14,6 miles (226 km) yang terbagi dari 3,8 km jarak renang, 180 km jarak bersepeda dan 42,2 km jarak berlari.

Bayangkan jarak yang harus ditempuh. Tapi kelelahan fisik karena harus mengarungi jarak demi jarak, bagi Fajar adalah sebuah proses yang harus ia lalui.  Hal yang paling sulit baginya adalah mengalahkan mental untuk ingin menyerah.

"Mengalahkan diri sendiri, untuk overcome ego adalah hal-hal yang gue pelajari dan berusaha hargai dalam race ini. Rasanya seperti saat sakit dan harus menelan obat pahit, tapi gue tahu kalau di akhir semua itu adalah kesembuhan."

Kepuasan untuk bisa 'menang melawan diri sendiri' bagi Fajar adalah reward yang manis dan cukup menjadi candu. Hingga kini ia sudah membukukan diri sebagai finisher di 4 ajang Full Distance Ironman, 6 ajang Half Ironman, dan 4 ajang pertandingan maraton serta pertandingan lainnya.

Di tahun ini juga ia sudah membidik 2 ajang Ironman dan 1 ajang besar maraton, serta menjadwalkan diri untuk setidaknya berpartisipasi dalam 1 ajang setiap bulannya.


Stres Hilang, Dapat Bonus Sehat
Dengan beban pertandingan yang seakan tidak berhenti, mungkin ia terdengar 'ngoyo' melakukan apa yang dilakukannya. Tapi menurut Fajar justru sebaliknya.

Dalam olahraga endurance seperti triathlon, ia memahami bahwa porsi istirahat sama pentingnya dengan latihan cukup dan makan sehat.

"Gue nggak memaksa diri untuk latihan menerapkan pola tarik ulur train dan recovery. Istirahat dan makan yang cukup untuk memperoleh hasil yang baik."

Tentu untuk terus meningkatkan level fitness saat ini, ia tetap berlatih rutin minimal 1 jam sehari, minimal 10 jam dalam 1 minggu. Ia juga tetap mengambil jarak 1-2 hari beristirahat total dalam satu minggu. Sambil tetap melakukan kegiatan sosial dan pekerjaannya sebagai musisi.     

"Gue sangat mengamini pepatah 'Mens sana in Corpore sano' saat menjalankan olahraga ini. Tubuh mungkin jadi lebih sehat, namun yang tidak kalah penting adalah jiwa yang sehat pula," ucapnya.

Fajar menjadikan ajang pertandingan sebagai cara untuk berkontemplasi, melepaskan beban stres dalam kehidupan. Sehat dan tubuh yang fit ideal baginya adalah bonus.

Pertandingan demi pertandingan dirasakan mengubahnya menjadi pribadi dengan pola pikir berbeda. Kini ada goal yang dituju dan proses yang dilalui dengan penuh penghargaan.

"Gue belajar untuk deal with problem dalam hidup dengan cara yang lebih tertata. Ada rencana jangka pendek, menengah dan panjang. Apa yang gue hadapi dalam race, juga dibawa dalam kehidupan pribadi. Yang penting adalah menghadapinya, karena masalah tantangan adalah bagian dari hidup. Just appreciate the proses and embrace the moment," ujarnya menggambarkan pelajaran yang telah ia petik.

Walau mengaku bermusik tetap jadi pekerjaan utamanya, Fajar merasa menemukan sebuah babak baru dalam kehidupannya yang membuat dirinya merasa 'lebih bersemangat' saat menjalani hari-hari. Perasaan ini membuatnya merasa perlu menjadi 'influencer' bagi orang-orang lain untuk juga mulai melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Olahraga pada khususnya.

"Mulai saja dulu! Karena bedanya hanya sesederhana itu, niat untuk mau dan tidak. Bukannya tidak punya waktu untuk berolahraga, tetapi apakah elo niat untuk menyisihkan waktu melakukan ini. Lari, bersepeda, dan renang, semua orang bisa kok melakukannya! Tidak ada kata terlambat, lihat saja gue!" tuturnya pria yang mengaku mengidolakan the Iron Nun, satu atlet triathlon tertua yang memulai pertandingan di usianya ke 55.  

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS