Perempuan Indonesia Berhak Lebih Mencintai (Dirinya)

Dirilis

14 Desember 2018

Penulis

Tim Penulis Daya Sehat Sejahtera

Narasumber

Maeyasari Oey

Pekerjaan

Penulis Buku dan Motivator Muda

Sempat menyembunyikan statusnya yang tidak bekerja lagi selama enam bulan dari keluarga, demi mengejar mimpinya menulis cerita bahagia wanita Indonesia.

Maeyasari Oey (36 tahun) terbiasa menjalani hidup sebagai jurnalis. Berbagai media pernah ia selami sejak tahun 2005, mulai dari reporter televisi hingga wartawan majalah gaya hidup. Namun, isu keluarga di tahun 2012 yang menyita waktu dan emosinya membuat ia mantap memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai jurnalis. Akan tetapi, pada saat ia memutuskan berhenti bekerja, Maeya merahasiakan keputusannya selama 6 bulan dari keluarga. Setiap pagi ia tetap berangkat ke kantor demi menghindari tekanan dari keluarga besarnya. Untuk menyokong keuangannya, ia menulis artikel lepas untuk beberapa perusahan sekaligus. “Saat itu, saya tidak mungkin izin terus menerus di urusan keluarga kepada atasan saya. Apalagi saya juga sudah mau wisuda S2 Manajemen Komunikasi. Saya ingin berkontribusi lebih untuk hidup saya dan keluarga,” tutur wanita yang pernah mengenyam pendidikan S1 Psikologi di Universitas Indonesia ini.

Perjalanan Dimulai dari Sebuah Buku
Kontribusi lebih yang ingin ia berikan adalah menulis buku dan ingin membuat support community antara sesama wanita. Meski menulis bukan hal baru bagi Maeya, namun naskah buku yang sudah ada sejak tahun 2006 ternyata sudah tiga kali ditolak oleh penerbit. Ia tidak berkecil hati. Lucunya, sebuah draft buku baru yang kelak menjadi buku perdananya justru ia temukan saat bebenah kamar di tahun 2015. Draft buku tersebut sudah ia siapkan sejak lama. Sayangnya, buku tersebut ditolak lagi karena berbahasa Inggris. Maeya tidak menyerah, ia membawa draft buku tersebut ke distributor buku di Singapura dan disambut dengan baik. Dengan sisa keuangan yang dimilikinya, ia membiayai penerbitan buku pertamanya yang berjudul “31 Guys 31 Lessons” yang dijual di berbagai cabang toko buku besar di Singapura. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Vietnam dan terjual sebanyak lebih dari 2.000 eksemplar.

“Setelah berhasil menjual buku di Singapura, saya kembali ke Jakarta dan menceritakan positioning buku saya di luar negeri kepada salah satu penerbit besar. Setelah itu, mereka setuju menerbitkan buku saya dalam bahasaInggris. Bahkan, membuatkan roadshow untuk saya,” ujar Maeya yang bukunya terjual sebanyak lebih dari 5000 eksemplar di Indonesia.

Buku “31 Guys 31 Lessons” inilah awal dari Maeya berkecimpung di dunia wanita Indonesia. “Buku ini sebenarnya banyak membahas mengenai perempuan muda dan remaja putri untuk lebih memahami makna hubungan cinta yang sehat dan bagaimana mencintai diri sendiri dengan baik,” jelas Maeya. Berangkat dari isu tersebut, roadshow peluncuran buku ini dikemas dalam bedah buku sekaligus talkshow dengan tema berbeda setiap bulan sejak Desember 2015 hingga 2017 di berbagai kota besar di Indonesia. Setelah roadshow dan talkshow dengan usaha sendiri dan bantuan teman-teman dekat, aktivitas Maeya dilirik oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (KPPPA). Pihak kementerian mengundang Maeya untuk terlibat dalam Forum Komunikasi Nasional untuk memberi suara mengenai permasalahan perempuan, anak dan keluarga ke berbagai kota di Indonesia, seperti Gorontalo, Pontianak, Bangka-Belitung, dan Yogyakarta.

Konferensi Wanita Bahagia
Maeya juga diajak menulis buku untuk KPPPA RI yang menjadi buku kedua Maeya, yaitu “Candle Hope”. Buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia ini mengenai permasalahan keluarga dan contoh kasus kekerasan yang terjadi di dalam keluarga, terutama anak-anak. Selain menulis, Maeya juga menjadi narasumber talkshow radio untuk membahas masalah relasi.

Wanita lajang ini juga tergabung dalam Inspirator Muda di Komunitas PUSPA (Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) yang dinaungi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Maeya aktif dalam menjalankan program Three Ends (Stop Kekerasan Pada Anak, Stop Ketidakseteraan Ekonomi Pada Perempuan dan Stop Perdagangan Manusia). Selain forum pemerintah, Maeya juga terjun langsung ke berbagai kampus dan SMA hingga ke Hongkong University. Meski terlihat seperti aktivis, namun Maeya lebih nyaman disebut sebagai sahabat perempuan Indonesia.

Sudah tiga tahun ini bersama para sahabat wanitanya membuat gerakan  “Passionezee Happy Women’s Conference”. Forum komunitas yang selalu berada di Ubud, Bali ini membahas isu perempuan. Hasil diskusi ini ia rangkum dalam bentuk kajian yang dikirimkan ke berbagai instansi terkait. “Tujuannya sederhana, agar setiap perempuan dapat meningkatkan kualitas kebahagiaan dalam jiwa dan hidupnya,” ujar Maeya yang sedang menyelesaikan disertasinya yang masih seputar masalah perempuan. Sekarang ini Maeya juga sedang disibukan menyusun naskah untuk buku ketiganya.


“Wah, sukses selalu yah Maeya!”

Semoga kisah ini menginspirasi Anda...

Penilaian :

5.0

2 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS