Dirilis

01 Pebruari 2018

Penulis

Alviko Ibnu Nugroho

Bagaimana kondisi keuangan keluarga Anda tahun ini? Apakah surplus (kelebihan) atau defisit (kekurangan)? Kalau defisit, pemboroson terjadi dimana? Transportasi, sembako, atau mungkin kebutuhan rumah tangga lainnya?

Riset sebuah perusahaan keuangan di Indonesia pada tahun 2014 menemukan, sebagian masyarakat Indonesia mengalami defisit keuangan. Masyarakat yang belum menikah mengalami defisit sebesar Rp1-4 juta per bulan. Sementara untuk yang telah menikah dengan tanggungan 1-2 anak, mengalami defisit Rp5-10 juta per bulan. Dan untuk yang telah menikah dengan tanggungan lebih dari 4 orang memiliki defisit lebih dari Rp10 juta per bulan.

Anehnya, keluarga-keluarga tersebut masih bisa menikmati sedapnya kopi di cafe, menonton bioskop, dan pesta di tempat yang fantastik.

Ciptakan Arus Kas yang Sehat
Arus kas keluarga biasanya dihitung bulanan, yaitu seluruh pendapatan (arus kas masuk) dikurangi seluruh pengeluaran (arus kas keluar). Pendapatan bisa berupa gaji, komisi, honor, bonus, laba penjualan, keuntungan usaha, bunga tabungan, atau hasil investasi. Pengeluaran bisa berupa biaya rumah tangga, transportasi, biaya anak, sosial, dan lainnya.

Tapi, demi tercapainya kesehatan arus kas, dalam pembahasan ini kita pisahkan beberapa hal berikut:
  • Utang, pinjaman, tabungan, dan penjualan aset tidak dikategorikan sebagai pendapatan atau arus kas masuk. Karena apabila Anda memenuhi pengeluaran dengan cara meminjam uang (baik secara kas maupun menggunakan kartu kredit) atau mengambil dari tabungan, Anda tetap disebut mengalami arus kas negatif, atau ”tekor”. Jadi arus kas yang kita bahas di sini adalah arus kas yang rutin. Hal ini dilakukan karena banyak orang yang memenuhi kebutuhan rutinnya dengan cara meminjam uang atau menggunakan kartu kredit, tanpa sadar bahwa sebenarnya ia telah mengalami arus kas negatif.
  • Uang tabungan atau penjualan aset juga tidak kita masukkan sebagai pendapatan, karena penggunaan uang tabungan dan penjualan aset menghilangkan aset atau kekayaan Anda, dan hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu terbatas. Apabila tabungan atau aset Anda telah habis, maka Anda tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan dengan tabungan atau aset tersebut.
  • Pinjaman atau hutang kita masukkan sebagai ”kewajiban” dalam Perencanaan Keuangan keluarga, dan tabungan kita kelompokkan sebagai ”aset”. Tapi bunga tabungan atau deposito, atau hasil investasi, bisa kita masukkan kedalam pendapatan atau arus kas masuk.

Nah, apabila total pendapatan lebih besar dari total pengeluaran, sehingga didapatkan surplus, maka bisa dikatakan keluarga Anda memiliki arus kas positif untuk bulan berjalan. Sebaliknya, apabila total pengeluaran lebih besar daripada total pendapatan, maka bisa dikatakan keluarga Anda memiliki arus kas negatif dan mengalami minus, dan inilah arus kas yang dikatakan ”tekor” oleh para penanya. Coba perhatikan, selama ini Anda termasuk di arus kas yang mana?
 

Sumber:

Alviko Ibnu Nugroho, Ahli Perencana Keuangan

Modul BTPN, Manajemen Keuangan - Memulai usaha

Penilaian :

0.0

2 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Koekoeh Gesang Setyonugroho

02 Pebruari 2018

Terima kasih tipsnya Pak Alviko 🙏

Balas

. 0

Mohammad Rizky Yudho

28 Desember 2017

Mantap infonya heheje

Balas

. 1

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Alviko Ibnugroho

Perencana Keuangan

Artikel Terkait

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS