Dirilis

21 Agustus 2018

Penulis

Tim Daya Tumbuh Usaha

Sebagai pebisnis, Katharine Graham tak hanya menorehkan namanya di sejarah sebagai CEO wanita pertama di Dunia, tetapi juga membuka pintu bagi para wanita lainnya untuk menjadi seseorang seperti dirinya. Atau bahkan lebih hebat. Kiprahnya sebagai CEO Washington Post yang sudah menjadi perusahaan keluarga membuat koran tersebut menjadi salah satu koran terbaik di zamannya. Tetapi sebenarnya, bagaimana ia mampu melakukannya? Bagaimana caranya mendobrak batas gender pada zaman itu? Berikut kisahnya.

Siapa Sebenarnya Wanita Ini?

Dengan nama panjang Katharine Meyer Graham, dirinya lebih sering dipanggil sebagai Kay oleh para kolega dan keluarganya. Dirinya menikah dengan Philip Graham yang saat itu duduk di kursi kepemimpinan Washington Post. Koran ini sendiri adalah koran yang dibeli oleh ayah Katharine, Eugene Graham. Setelah ayah Katharine pensiun, dirinya menyerahkan posisi CEO pada Philip.

Sayangnya, bagaimana Katharine mendapatkan posisi suaminya tersebut bukanlah cerita yang menyenangkan. Philip memutuskan untuk mengambil nyawanya sendiri dengan pistol pada tahun 60-an. Membuat Katharine menduduki posisi tersebut sebagai pengganti suaminya. Di masa kepemimpinan Philip, Washington Post menjadi sebuah koran yang tak hanya memuaskan masyarakat lokal tetapi juga Amerika. Oleh karena itu, ketika Kataharine hadir sebagai CEO sebenarnya Washington Post sedang dalam masa kejayaannya. Namun justru di sinilah tantangannya.

Sebenarnya, Katharine bukanlah anak yang dekat orang tuanya. Bahkan Ayahnya lupa memberi tahu jika dirinya membeli Washington Post. Di buku biografinya, Katharine mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa iri dengan suaminya yang dipilih oleh ayahnya sebagai pemimpin Washington Post, dan bukan dirinya. Katharine justru berpikir bahwa ayahnya tak mungkin memberikan posisi tersebut padanya.

Kiprahnya di Washington Post

Tidak banyak pemimpin wanita di zaman Katharine, apalagi wanita yang menduduki jabatan tinggi di dalam koran. Sebagai wanita tanpa role model, Katharine mengaku bahwa dirinya mendapatkan banyak kesusahan. Apalagi setelah suaminya meninggal dengan banyak hal yang membuat perusahaan ini terkesan "mudah" untuk diteruskan olehnya.

Katharine mengatakan bahwa ia merasa susah untuk tidak dilihat dengan sebelah mata oleh para rekan kerjanya. Terutama yang laki-laki. Tak hanya yang memiliki jabatan tinggi, tetapi juga para pekerjanya yang merupakan bawahan dari dirinya. Hal ini sempat membuat Katharine merasa minder dan susah untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Namun, Katharine tidak menyerah.

Dirinya tetap meneruskan apa yang baik dan menambahkan sesuatu di Washington Post, yakni hal-hal yang mendukung kesetaraan gender. Apalagi pada saat itu, di Amerika memang sedang gencar-gencarnya para wanita melakukan perubahan. Dengan posisinya, Katharine kemudian membantu gerakan ini dan membuat dirinya didukung oleh banyak orang dari luar. Baik itu dari laki-laki ataupun perempuan.

Memilih Pegawai Secara Pribadi

Berbeda dengan cara suaminya yang memilih pegawai dengan bantuan pihak ketiga, Katharine memutus rantai tersebut. Dirinya memutuskan untuk memilih pegawai dengan tangannya sendiri dan akhirnya ia bertemu dengan Benjamin Bradlee. Lelaki ini bekerja sebagai editor di Washington Post dan membuat berita-berita yang luar biasa. Membuat koran ini menjadi media cetak yang sangat hebat di zamannya.

Katharine dan Bradlee dikenal sebagai partner yang sering mengalami cekcok, namun keduanya memiliki tujuan yang sama. Sehingga, pada akhirnya mereka bisa mengesampingkan perasaan pribadi dan bekerja bersama untuk membuat Washington Post menjadi lebih baik. Bradlee di bagian isi dan Katharine sebagai orang yang memimpin perusahaan.

Langkah yang Berat

Katharine melakukan langkah-langkah yang tergolong berat di masa kepemimpinannya. Yang mana hal ini berujung pada kemampuannya untuk mengangkat Washington Post sebagai media yang sangat untung di zamannya. Hal ini adalah dengan pemilihan berita yang cenderung kontroversial dan menantang pemerintah di zaman itu.

Salah satunya adalah dengan perilisan pentagon papers dan skandal Watergate. Pentagon papers adalah keputusan pertama dari Katharine yang membuatnya mengangkat Washington Post sebagai salah satu koran yang menantang pemerintah Amerika Serikat. Pada saat itu dirinya merasa takut untuk mengeluarkan berita yang menceritakan tentang bagaimana sebenarnya peran pemerintah Amerika Serikat di perang Vietnam. Sehingga hal ini tentu bisa berakibat pada dirinya dipanggil oleh pemerintah pada saat itu untuk datang ke pengadilan.

Namun, oleh sebab dukungan dari banyak orang di sekitarnya, dan juga Bradlee, Katharine akhirnya mau untuk melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya berujung pada dukungan publik pada dirinya dan Washington Post. Meskipun ia dipanggil oleh pengadilan tinggi Amerika Serikat, namun dirinya bisa membela Washington Post dengan pasal-pasal yang melindungi media cetak pada saat itu. Keputusannya ini menjadi sejarah yang besar di Amerika Serikat. Bahkan ada film yang dibuat berdasarkan keputusan ini dengan judul The Post yang dirilis pada tahun 2017.

Tak hanya pentagon papers, Washington Post yang turut andil dalam perilisan berita tentang skandal Watergate juga membuatnya semakin dipercaya oleh masyarakat.  Skandal Watergate adalah sebuah hal yang menunjukkan bobroknya pemerintah Amerika Serikat pada saat itu, termasuk juga dengan Presidennya, Richard Nixon. Skandal ini kemudian berujung pada turunnya Presiden Nixon dari jabatannya. Terutama setelah ia terbukti mengancam Washington Post pada percakapannya dengan seseorang pada waktu itu.

Dengan adanya dua skandal besar dari pemerintahan, serta kualitas tulisannya yang luar biasa, Washington Post menjadi salah satu kekuatan terbesar di Amerika Pada saat itu. Di dalam biografinya, Katharine menulis tentang kegalauannya ketika merilis kedua berita tersebut. Namun dengan dukungan tim dan masyarakat dirinya akhirnya memberanikan diri untuk melakukannya. Meski harus mendapatkan gugatan dari pemerintah.

Katharine di Kultur Populer

Tak hanya memberikan para wanita di zamannya (dan hingga saat ini) kepercayaan diri untuk menjadi seorang pemimpin, Katharine juga meninggalkan jejak di kultur populer. Yakni dengan buku biografinya dan film berjudul The Post. Buku ini menceritakan tentang Katharine sebagai sosok yang juga seorang wanita dan juga CEO yang handal. Di buku tersebut, banyak diceritakan tentang komentar-komentar pribadinya terhadap segala keputusan yang terjadi di Washington Post di masa kepemimpinannya.

Sedangkan film The Post yang dirilis pada tahun 2017, berfokus pada kiprahnya sebelum pentagon papers hingga kejadian tersebut dirilis di koran. Film ini diperankan oleh Meryl Streep dan menjadi salah satu film terbaik pada tahun tersebut. Bila Anda termasuk dari salah satu penggemar film yang diangkat dari kisah nyata, The Post menjadi salah satu yang wajib Anda tonton.

Kiprah wanita ini sebagai salah satu CEO yang menggebrak dunia, utamanya Amerika Serikat membuatnya menjadi begitu dihormati. Apalagi dirinya juga tak henti ikut membela hak-hak wanita dan kaum marginal. Membuat dirinya tak hanya mendapatkan dukungan dari kolega, tetapi juga para wanita yang terbantu oleh dirinya. Kini sudah banyak perempuan yang mengikuti jejak Katharine, menjadi CEO dari sebuah media cetak dan hal ini adalah sebuah tanda pergerakan masa depan yang ikut dibangun olehnya.

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

4.7

3 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS