Informasi Artikel

Dirilis

19 September 2026

Penulis Artikel

Oky Setiarso


Tag

Monosodium glutamat (MSG) merupakan salah satu bahan tambahan pangan yang sering digunakan di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, MSG banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan cita rasa masakan rumahan, makanan siap saji, sampai hidangan restoran. Meskipun telah digunakan selama puluhan tahun, masih banyak masyarakat yang menganggap MSG sebagai bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Berbagai mitos MSG disampaikan, seperti menyebabkan sakit kepala, kerusakan otak, hingga gangguan ginjal, masih sering beredar di media sosial maupun dari mulut ke mulut.
Lalu, benarkah MSG berbahaya? Apa yang dikatakan oleh penelitian ilmiah? Berikut penjelasannya.

 

Apa Itu Monosodium Glutamat?

MSG adalah garam natrium dari asam glutamat, yaitu salah satu asam amino yang secara alami terdapat pada berbagai bahan makanan seperti tomat, jamur, keju, rumput laut, jagung, ikan, dan daging. Asam glutamat juga diproduksi secara alami oleh tubuh manusia dan berperan penting dalam berbagai proses metabolisme.

MSG memberikan rasa umami, yaitu rasa gurih yang dikenal sebagai rasa dasar kelima selain manis, asin, asam, dan pahit. Karena mampu memperkuat cita rasa makanan, MSG sering digunakan dalam jumlah kecil untuk membuat makanan menjadi lebih lezat.

 

Mengapa MSG Pernah Dianggap Berbahaya?

Kekhawatiran terhadap MSG mulai muncul pada akhir tahun 1960-an setelah adanya laporan mengenai gejala seperti sakit kepala, wajah terasa panas, kesemutan, dan jantung berdebar setelah mengonsumsi makanan di restoran tertentu. Gejala tersebut kemudian dikenal sebagai Chinese Restaurant Syndrome. Pertama kali muncul di tahun 1968 ketika seorang dokter bernama Dr. Ho Man Kwok menulis surat ke New England Journal of Medicine, perihal Sindrom Restoran China menggambarkan pengalamannya setelah makan di restoran Cina.

Namun, penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade berikutnya menunjukkan bahwa hubungan antara MSG dengan gejala tersebut belum dapat dibuktikan secara konsisten. Banyak penelitian yang menggunakan metode ilmiah yang ketat menemukan bahwa sebagian besar orang tidak mengalami efek samping setelah mengonsumsi MSG dalam jumlah yang umum digunakan pada makanan.

Baca juga : Apa  itu hipertensi dan DASH diet?


 

Apa Kata Organisasi Kesehatan Dunia?

Berbagai organisasi kesehatan internasional telah mengevaluasi keamanan MSG dan menyimpulkan bahwa MSG aman dikonsumsi.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
  • Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).
  • Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).
  • Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).
  • European Food Safety Authority (EFSA).
  • Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.

Lembaga-lembaga tersebut menyatakan bahwa MSG aman digunakan sebagai bahan tambahan pangan apabila digunakan sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) atau secukupnya dalam pengolahan makanan.

 

Apakah Semua Orang Aman Mengonsumsi MSG?

Sebagian besar orang dapat mengonsumsi MSG tanpa masalah. Namun, sejumlah kecil individu mungkin memiliki sensitivitas terhadap MSG apabila mengonsumsinya dalam jumlah yang sangat besar tanpa makanan pendamping. Gejala yang mungkin muncul antara lain:

  • sakit kepala,
  • wajah terasa hangat,
  • rasa kesemutan,
  • rasa tidak nyaman pada dada,
  • atau mual ringan.

Gejala tersebut biasanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya. Hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal menyebabkan penyakit kronis.

Baca juga : Dampak sering makan mie instan

Beberapa mitos yang ditemui :

 

1.    Apakah MSG Menyebabkan Hipertensi?

MSG mengandung natrium, tetapi kandungan natriumnya sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan garam dapur (natrium klorida). Oleh karena itu, penggunaan MSG dalam jumlah yang tepat justru dapat membantu mengurangi penggunaan garam tanpa mengurangi kenikmatan rasa makanan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengganti sebagian garam dengan MSG dapat membantu menurunkan asupan natrium harian, yang berpotensi mendukung pengendalian tekanan darah bila diterapkan sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan.

 

2.    Apakah MSG Menyebabkan Obesitas?

Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa MSG secara langsung menyebabkan obesitas. Kenaikan berat badan lebih dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi.

Makanan tinggi kalori, tinggi gula, tinggi lemak jenuh, serta kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor utama penyebab obesitas. Penggunaan MSG dalam jumlah wajar bukanlah penyebab langsung peningkatan berat badan.

 

3.    Apakah MSG Aman untuk Anak?

MSG dinilai aman dikonsumsi oleh anak-anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Namun, prinsip utama dalam pemberian makanan pada anak tetap mengutamakan makanan segar, bergizi seimbang, dan membatasi konsumsi makanan ultra-proses yang umumnya tinggi garam, gula, dan lemak.
Fokus utama bukan hanya pada keberadaan MSG, tetapi juga pada kualitas pola makan secara keseluruhan.

 

Tips Menggunakan MSG dengan Bijak

Agar penggunaan MSG tetap memberikan manfaat tanpa meningkatkan konsumsi natrium secara berlebihan, beberapa hal berikut dapat dilakukan:

  • Gunakan MSG secukupnya sesuai kebutuhan masakan.
  • Kurangi jumlah garam apabila sudah menggunakan MSG.
  • Perbanyak penggunaan bumbu alami seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, lada, daun salam, serai, atau rempah lainnya.
  • Perbanyak konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, ikan, dan sumber protein berkualitas.
  • Batasi konsumsi makanan olahan yang umumnya mengandung natrium tinggi.


 

Kesimpulan

Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia saat ini, MSG bukanlah bahan pangan yang berbahaya apabila digunakan dalam jumlah yang wajar sebagai bagian dari pola makan sehat dan seimbang. Berbagai organisasi kesehatan dunia telah menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi, dan hingga kini belum ada bukti yang meyakinkan bahwa MSG menyebabkan penyakit kronis seperti kanker, kerusakan otak, atau penyakit ginjal pada orang sehat.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya penggunaan MSG, tetapi juga keseluruhan pola makan dan gaya hidup. Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak, memperbanyak konsumsi pangan segar, serta rutin beraktivitas fisik tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan.

Dengan memahami fakta berdasarkan penelitian ilmiah, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak mengenai penggunaan MSG. Alih-alih terpengaruh oleh mitos yang belum terbukti, mari menjadikan informasi berbasis bukti sebagai dasar dalam memilih dan mengolah makanan yang sehat, lezat, dan aman untuk seluruh keluarga.

Pada akhirnya, hidup sehat dimulai dari pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari. Dengan membatasi konsumsi gula secara bijak dan memilih makanan bergizi seimbang, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga memberikan contoh yang baik bagi keluarga. Ingatlah bahwa setiap sendok gula yang berhasil dikurangi hari ini merupakan investasi untuk kesehatan yang lebih baik di masa depan.

Jika masih memiliki pertanyaan tekait informasi keuangan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahlinya melalui fitur Tanya Ahli dan untuk mendapatkan saran yang tepat. Dengan mendaftar di daya.id, seluruh informasi terkait kesehatan dapat diakses dengan gratis dan mudah. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi dan daftarkan diri Anda di daya.id sekarang juga! 

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Beauty Food Ala Jepang: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Bercahaya dari Dalam
Artikel Ahli
Makanan Sehat

Beauty Food Ala Jepang: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Bercahaya dari Dalam

31 Agustus 2026

5.0
Cara Mengurangi Konsumsi Gula Sehari-hari: Langkah Sederhana Menuju Hidup Lebih Sehat
Makanan Sehat

Cara Mengurangi Konsumsi Gula Sehari-hari: Langkah Sederhana Menuju Hidup Lebih Sehat

09 Agustus 2026

5.0
Sayuran Berisiko untuk Lansia: Perhatikan Jumlah dan Cara Pengolahan
Makanan Sehat

Sayuran Berisiko untuk Lansia: Perhatikan Jumlah dan Cara Pengolahan

16 Juli 2026

5.0
10 Cara Mengatur Pola Makan Sehat Saat Liburan
Makanan Sehat

10 Cara Mengatur Pola Makan Sehat Saat Liburan

04 Mei 2026

Berikan Pendapat Anda