Kesibukan di kantor terkadang membuat seseorang menunda makan, terlalu banyak minum kopi, atau langsung duduk kembali setelah makan siang. Kebiasaan tersebut sering dianggap sepele. Namun, ketika perut mulai terasa perih atau dada terasa panas, keluhan itu kerap langsung disebut sebagai “maag”. Padahal, maag dan gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan dua kondisi yang berbeda.
Memahami perbedaannya penting agar Anda dapat mengenali keluhan dan mengambil langkah yang tepat sejak awal.

Apa Perbedaan Maag dan GERD?
Maag bukanlah nama penyakit tertentu, melainkan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan sekumpulan gejala gangguan pencernaan atau dispepsia. Keluhannya biasanya terasa di sekitar lambung atau perut bagian atas, seperti nyeri ulu hati, perut kembung, cepat kenyang, sering bersendawa, mual, atau muntah.
Keluhan maag dapat muncul akibat pola makan yang tidak teratur, makan terlalu cepat atau terlalu banyak, stres, gastritis, tukak lambung, infeksi bakteri Helicobacter pylori, serta penggunaan obat pereda nyeri tertentu dalam jangka panjang.
Sementara itu, GERD terjadi ketika isi dan asam lambung berulang kali naik menuju kerongkongan. Kondisi ini dapat terjadi karena katup yang membatasi kerongkongan dan lambung tidak bekerja dengan baik. Gejala khasnya adalah sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, makanan seperti naik kembali, sulit menelan, batuk, atau suara serak.
Sederhananya, keluhan maag lebih banyak dirasakan di area lambung dan perut bagian atas. Adapun GERD lebih berkaitan dengan naiknya isi lambung ke kerongkongan. Meski demikian, keduanya dapat muncul bersamaan dan memiliki beberapa gejala yang serupa.
Baca juga: Terapi Asam Lambung dan Tips Mengatasi GERD di Rumah
Mengapa Pekerja Kantoran Rentan Mengalaminya?
Jadwal rapat yang padat dan pekerjaan yang harus segera diselesaikan sering membuat karyawan melewatkan sarapan atau menunda makan siang. Ketika lapar, makanan kemudian dikonsumsi terburu-buru dalam porsi besar. Kebiasaan ini dapat memperberat kerja sistem pencernaan.
Kopi yang diminum untuk menjaga konsentrasi, camilan tinggi lemak, makanan pedas, minuman bersoda, kebiasaan merokok, dan makan larut malam juga dapat memicu keluhan pada sebagian orang. Selain itu, duduk terlalu lama dan langsung membungkuk di depan laptop setelah makan dapat membuat keluhan refluks terasa semakin mengganggu.
Tekanan pekerjaan juga perlu diperhatikan. Stres tidak selalu menjadi penyebab langsung, tetapi dapat memengaruhi pola makan, waktu tidur, dan sensitivitas saluran pencernaan sehingga keluhan terasa lebih berat.
Tips Konkret Mencegah Maag dan GERD di Kantor

1. Buat jadwal makan yang realistis
Pasang pengingat waktu sarapan dan makan siang di ponsel atau kalender kerja. Jika rapat berlangsung panjang, siapkan camilan sederhana seperti pisang, roti gandum, oatmeal, atau kacang dalam porsi secukupnya.
2. Makan perlahan dengan porsi wajar
Luangkan sekitar 15–20 menit untuk makan tanpa bekerja. Kunyah makanan secara perlahan dan hindari “membalas” makan yang terlambat dengan porsi terlalu besar.
3. Kenali makanan pemicu pribadi
Tidak semua orang mempunyai pemicu yang sama. Catat makanan atau minuman yang dikonsumsi ketika keluhan muncul. Makanan pedas, asam, berlemak, cokelat, kopi, dan minuman bersoda merupakan beberapa pemicu yang perlu diamati.
Baca juga: 6 Tips Makanan untuk Asam Lambung
4. Jangan langsung berbaring setelah makan
Berikan jeda setidaknya dua sampai tiga jam sebelum tidur. Setelah makan siang, berjalan santai selama 10–15 menit dapat menjadi pilihan daripada terus duduk membungkuk.
5. Batasi kopi secara bertahap
Jika kopi memicu keluhan, kurangi jumlah atau kekuatannya dan jangan meminumnya saat perut kosong. Anda dapat menggantinya dengan air putih atau minuman lain yang tidak berkafein.
6. Kelola stres dan waktu istirahat
Ambil jeda singkat untuk melakukan peregangan atau latihan pernapasan. Usahakan tidur cukup dan berolahraga secara teratur agar tubuh lebih mampu menghadapi tekanan pekerjaan.
Keluhan yang berulang, semakin berat, mengganggu tidur, disertai sulit menelan, muntah darah, feses berwarna hitam, nyeri dada berat, atau penurunan berat badan tanpa sebab perlu segera diperiksakan kepada dokter. Hindari mendiagnosis dan mengonsumsi obat terus-menerus tanpa mengetahui penyebab keluhan. Dengan pola makan yang lebih teratur dan kebiasaan kerja yang sehat, risiko maag maupun GERD dapat dikendalikan tanpa harus mengganggu produktivitas.
Daftar di Daya.id untuk mengakses berbagai tips usaha lainnya
Atau jika Anda ingin berdiskusi langsung, manfaatkan fitur Tanya Ahli dan dapatkan masukan dari praktisi berpengalaman.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda