Informasi Artikel

Penulis Artikel

Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog

Belakangan ini, publik ramai membicarakan sejumlah figur publik yang menceritakan pengalaman masa lalunya sebagai korban child grooming. Kisah-kisah ini membuka ruang diskusi mengenai apa itu child grooming. Ada yang sangat berempati, tetapi ada juga yang mempertanyakan, “Kenapa baru sadar sekarang?” atau “Bukankah dulu hubungannya terlihat baik-baik saja?”

Pertanyaan tersebut terasa masuk akal, tetapi justru menunjukkan betapa menyeramkannya fenomena child grooming. Ia jarang terlihat sebagai kekerasan. Child grooming seringkali menyamar sebagai kedekatan, sehingga kerap diabaikan oleh orang-orang di sekitar.

 

Apa Itu Child Grooming?

Dalam psikologi, child grooming dipahami sebagai proses manipulasi bertahap di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak, dengan tujuan eksploitasi. Artinya, child grooming dilakukan oleh orang dewasa yang memang memiliki intensi negatif terhadap anak di bawah usia. Grooming bukan soal apa yang dilakukan pelaku di akhir, melainkan bagaimana relasi itu dibangun sejak awal. Grooming bisa terjadi secara langsung, misalnya di rumah, sekolah, bahkan tempat ibadah; dan juga secara daring (online) melalui media sosial, video games, atau pesan pribadi. 

 

Siapa yang Rentan Menjadi Korban?

Anak yang mengalami grooming bukan hanya anak yang memiliki “pergaulan bebas” atau “kurang kasih sayang orang tua”. Studi menunjukkan bahwa pelaku sering menargetkan anak yang sedang membutuhkan validasi emosional, terbiasa patuh pada figur otoritas, atau berada dalam relasi hierarkis (misalnya murid-guru, atlet-pelatih, penggemar-idola, senior-junior, dan sebagainya).

Kerentanan ini bukan kelemahan personal, melainkan konsekuensi dari tahap perkembangan anak. Secara neurologis dan emosional, anak memang belum memiliki kapasitas yang setara untuk memahami niat tersembunyi orang dewasa. Perkembangan otak manusia baru sempurna di pertengahan usia 20 tahun-an. Di usia remaja, meskipun secara biologis tubuh terlihat sudah berkembang dengan matang, kemampuan remaja untuk berencana dan memikirkan konsekuensi jangka panjang masih terbatas.

 

Tapi Mereka Saling Suka Kok, Kenapa Tetap Berbahaya?

Dalam psikologi perkembangan, anak di bawah tidak dapat memberikan persetujuan (consent) yang setara karena keterbatasan pada pemahaman risiko jangka panjang, kemampuan menilai relasi kuasa, dan kematangan regulasi emosi.

Saat berpasangan dengan sosok yang jauh lebih dewasa, relasi kuasa antara anak dengan pasangan menjadi tidak setara, sehingga memberikan ruang untuk tekanan dan manipulasi. Anak mungkin saja terlihat menjalani hubungan dengan suka rela, tetapi sebenarnya ia belum benar-benar memahami dinamika relasi yang sedang dibangun dengan pasangannya. Riset menunjukkan bahwa grooming sering membuat anak merasa “dipilih” dan spesial, bingung mengenai apa yang sedang dirasakan, serta memikul rasa tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya.

Ketika relasi terasa “sukarela”, justru di situlah manipulasi bekerja paling efektif. Anak tidak merasa disakiti, tetapi sedang diarahkan oleh orang yang lebih memahami dunia karena sudah lebih berpengalaman. Karena tidak ada paksaan, rasa bersalah sering berpindah ke korban, bukan pelaku.

 

Mengapa Banyak yang Baru Sadar Saat Dewasa?

Kesadaran sering muncul belakangan karena otak anak memaknai pengalaman berdasarkan apa yang ia ketahui saat itu. Di usia dewasa, individu memiliki kapasitas refleksi yang lebih matang. Banyak yang baru menyadari setelah menjalani terapi, membangun relasi intim di usia dewasa, atau bahkan menjadi orang tua. Hal ini dikenal sebagai delayed meaning-making: pengalaman lama baru dipahami secara utuh ketika sistem saraf dan kognitif sudah cukup aman dan matang.

 

Apa Dampak Negatif dari Child Grooming?

Child grooming jarang meninggalkan luka yang kasat mata, kecuali diiringi dengan kekerasan fisik dan seksual. Akan tetapi, dampaknya kerap muncul dalam bentuk: kesulitan menetapkan batasan, rasa bersalah atau malu, relasi yang terasa tidak aman, atau kebingungan dalam menavigasi hubungan.

 

Bagaimana Pencegahannya?

Riset menegaskan bahwa pencegahan grooming bukan sekadar mengajarkan anak tentang bahaya, tetapi membangun ekosistem yang aman. 

Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:

  • Ajarkan anak tentang batasan (boundaries).
  • Normalisasi anak untuk bertanya, menolak, dan merasa tidak nyaman.
  • Hindari budaya “rahasia” antara anak dan orang tua, khususnya rahasia yang membuat anak merasa tidak nyaman dan aman.
  • Bangun komunikasi yang membuat anak merasa aman bercerita tanpa takut disalahkan.
  • Orang dewasa perlu waspada terhadap relasi yang terlalu intens, eksklusif, dan tertutup.


Child grooming bukan tentang kelalaian korban, melainkan tentang penyalahgunaan kepercayaan dalam relasi yang timpang. Dengan semakin tingginya kesadaran publik mengenai relasi yang sehat, semoga kasus-kasus child grooming lebih bisa dicegah dan diatasi. 

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

4.9
Kesehatan Mental

Utang Tidur: Apa Itu dan Bagaimana Cara Melunasinya?

28 April 2024

4.8
Kesehatan Mental

Mengenal Jenis-Jenis Relawan untuk Kegiatan Sosial

06 Desember 2022

5.0
Kesehatan Mental

Menikah itu Baik untuk Jantung

20 Agustus 2018

5.0
Kesehatan Mental

Ayah, Ini Alasan Anda Harus Ikut Mengasuh Anak Anda

25 Juli 2018

Berikan Pendapat Anda

5 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS