Informasi Artikel

Dirilis

12 September 2026

Penulis Artikel

Neysa Nadia Lestari, M.Psi.


Tag

Memilih kegiatan tambahan atau les untuk anak usia dini sering kali dikaitkan dengan minat dan bakat. Orang tua mungkin berpikir, jika anak terlihat suka bergerak, ia sebaiknya mengikuti les olahraga. Jika anak tampak pandai berhitung, mungkin les matematika adalah pilihan yang tepat. Cara berpikir ini cukup masuk akal, tetapi untuk anak usia dini, minat dan bakat sebaiknya tidak menjadi satu-satunya, apalagi dasar utama dalam menentukan les.

Pada usia sekitar 4–5 tahun, anak sudah dapat menunjukkan ketertarikan yang jelas terhadap aktivitas tertentu. Namun, ketertarikan tersebut masih sangat berkembang dan dapat berubah seiring pengalaman. Dalam perkembangan minat, ketertarikan awal sering kali muncul karena situasi tertentu yang menarik bagi anak, kemudian berkembang melalui pengalaman berulang hingga menjadi minat yang lebih personal dan menetap. Karena itu, anak yang sangat menyukai suatu aktivitas saat ini belum tentu akan mempertahankan ketertarikan yang sama beberapa tahun kemudian.

Hal yang sama berlaku ketika orang tua mencoba menentukan ‘bakat’ anak sejak dini. Bakat tidak sebaiknya dipahami sebagai kemampuan yang sudah terlihat menonjol sejak awal. Dalam kajian talent development, terdapat perbedaan antara kemampuan atau potensi alami dengan talent sebagai kemampuan yang telah berkembang menjadi kompetensi melalui proses belajar dan pengalaman. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk latihan, motivasi, lingkungan, dan kesempatan belajar.

Artinya, kita tidak selalu perlu menunggu sampai menemukan “anak ini berbakat apa” sebelum memberikan kesempatan belajar. Justru pengalaman belajar dapat membantu orang tua dan pendidik melihat bagaimana anak merespons suatu bidang, bagaimana ia berkembang dengan latihan, dan apakah ia menikmati prosesnya.

 

Lalu, apa yang sebaiknya menjadi pertimbangan ketika memilih les untuk anak usia dini?


Pertama, kebutuhan stimulasi. Anak usia dini membutuhkan pengalaman yang mendukung berbagai aspek perkembangan, termasuk kognitif, bahasa, motorik, sosial, dan emosional. Karena itu, kegiatan tambahan dapat dipilih untuk melengkapi pengalaman yang sudah diperoleh anak di rumah dan sekolah. Tidak berarti setiap aspek perkembangan harus dilengkapi dengan les khusus. Bermain, membaca bersama orang tua, melakukan aktivitas sehari-hari, dan berinteraksi dengan teman juga merupakan sumber belajar yang penting.

Kedua, kesesuaian metode dengan usia anak. Hampir semua bidang dapat diperkenalkan sejak dini, termasuk olahraga, musik, bahasa, matematika, maupun literasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan tersebut diberikan. Pembelajaran sebaiknya sesuai dengan kemampuan anak untuk memperhatikan, bergerak, mengeksplorasi, dan memahami konsep secara konkret. Anak belum bisa duduk diam dalam waktu panjang atau menghadapi pembelajaran yang didominasi latihan berulang (drilling). Praktik pendidikan anak usia dini justru menekankan pengalaman belajar yang aktif, bermakna, dan menyenangkan.

Ketiga, ketertarikan anak. Meskipun minat pada usia dini belum tentu menetap, tetap penting untuk mempertimbangkannya. Anak biasanya lebih mudah terlibat ketika memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk mengikuti suatu aktivitas. Ketertarikan tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pengalaman baru. Namun, orang tua tidak perlu menganggap setiap ketertarikan sebagai petunjuk pasti mengenai bakat atau masa depan anak.

Keempat, kualitas program dan pendidiknya. Program yang baik untuk anak usia dini bukan hanya memiliki materi yang menarik, tetapi juga menggunakan pendekatan yang sesuai perkembangan. Anak perlu merasa aman untuk mencoba, melakukan kesalahan, bergerak, bertanya, dan belajar tanpa dibandingkan atau diberi tekanan. Kualitas interaksi dengan pendidik dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dengan bidang yang dipelajari.

Kelima, pertimbangan praktis. Jadwal, lokasi, biaya, dan kondisi keluarga tentu perlu diperhatikan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan kegiatan terstruktur tidak mengambil terlalu banyak waktu bermain bebas anak. Perlu diingat, bermain bebas bukan berarti menyia-nyiakan waktu luang. Melalui bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan sosial, bahasa, pemecahan masalah, regulasi diri, kreativitas, dan pemahaman tentang lingkungan.

Bagaimana jika anak baru mengikuti beberapa kali pertemuan lalu ingin berhenti? Orang tua tidak harus langsung mengizinkan, tetapi juga tidak harus memaksa. Dengarkan alasannya terlebih dahulu. Apakah anak memang tidak tertarik, terlalu lelah, tidak cocok dengan metode, atau justru memiliki masalah dengan lingkungan belajarnya? Setelah itu, orang tua dapat membuat kesepakatan yang realistis dan tetap mempertimbangkan kondisi anak.

Pada akhirnya, tujuan mengikuti les di usia dini bukan untuk secepat mungkin menemukan minat dan bakat anak. Tujuannya memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, belajar, berkembang, dan mengenali dirinya melalui berbagai pengalaman. Pada usia ini, eksplorasi lebih penting daripada spesialisasi. Anak tidak perlu segera memiliki satu bidang yang harus ditekuni. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk menemukan apa yang mereka sukai, apa yang mereka kuasai, dan apa yang ingin mereka perjuangkan ketika mereka tumbuh lebih besar. Tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan mereka berbagai pengalaman untuk bekal membuat keputusan di masa depan.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait topik ini atau masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Pig Butchering Scam: Manipulasi Psikologis Berujung Investasi Palsu
Artikel Ahli
Sosial

Pig Butchering Scam: Manipulasi Psikologis Berujung Investasi Palsu

29 Agustus 2026

5.0
Ide Komunitas untuk Usia 50 Tahun: Kembali Produktif Atasi Rasa Sepi
Sosial

Ide Komunitas untuk Usia 50 Tahun: Kembali Produktif Atasi Rasa Sepi

10 Agustus 2026

5.0
Belajar dari Spider-Man: Brand New Day, Saat Hidup Memaksa Kita Mulai Lagi
Sosial

Belajar dari Spider-Man: Brand New Day, Saat Hidup Memaksa Kita Mulai Lagi

04 Agustus 2026

5.0
Peter Pan Syndrome: Ketika Menjadi Dewasa Terasa Menakutkan
Artikel Ahli
Sosial

Peter Pan Syndrome: Ketika Menjadi Dewasa Terasa Menakutkan

27 Juli 2026

Berikan Pendapat Anda