Pernahkah Anda membuka media sosial awalnya berniat hanya lima menit atau hanya untuk mengecek sesuatu sebentar saja, tetapi tanpa sadar satu jam telah berlalu? Awalnya mungkin hanya ingin membalas pesan, melihat unggahan teman, atau mencari hiburan sejenak. Namun, satu video berganti ke video berikutnya, satu unggahan diikuti unggahan lain, hingga akhirnya kita terus menggeser (scroll) layar tanpa benar-benar menyadari berapa banyak waktu yang telah berlalu. Bahkan mungkin hingga menjadi tidak ada dorongan untuk melakukan hal-hal lain atau hal yang telah kita rencanakan sebelumnya, selain scrolling media sosial. Jika Anda pernah mengalaminya, tentu Anda tidak sendirian. Kebiasaan ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya disiplin atau kemauan. Ada berbagai faktor psikologis yang membuat scrolling terasa begitu sulit dihentikan.
![]()
Otak Menyukai Hal Menyenangkan yang Tidak TerdugaOtak Menyukai Hal Menyenangkan yang Tidak Terduga
Salah satu alasan utama kita terus scrolling adalah karena otak menyukai ketidakpastian yang menyenangkan. Saat membuka media sosial, kita tidak pernah tahu konten apa yang akan muncul berikutnya. Bisa jadi video lucu, informasi yang menarik, kabar dari teman, dan lain-lain. Apalagi algoritma informasi media sosial kita sudah disesuaikan dengan hal yang kita sukai, sehingga hal tidak terduga yang muncul umumnya menyenangkan untuk kita.
Ketidakpastian ini membuat otak terus berharap menemukan sesuatu yang lebih menarik di scroll berikutnya. Setiap kali menemukan konten yang menghibur atau membuat penasaran, otak memberikan sensasi menyenangkan yang mendorong kita untuk terus mencari pengalaman serupa. Akibatnya, muncul pikiran seperti, "Satu video lagi," atau "Scroll sedikit lagi, mungkin ada yang lebih menarik." Tanpa disadari, menit demi menit pun berlalu.
Scroll Menjadi Cara Kabur dari Hal Tidak Nyaman dalam Keseharian Scroll Menjadi Cara Kabur dari Hal Tidak Nyaman dalam Keseharian.
Scrolling tidak selalu dilakukan karena kita sedang mencari hiburan. Sering kali, kebiasaan ini muncul ketika kita sedang merasa bosan, cemas, lelah, kesepian, atau bahkan kewalahan menghadapi pekerjaan ataupun tugas-tugas keseharian kita. Media sosial memberikan distraksi yang cepat. Ketika perhatian teralihkan ke layar, untuk sementara kita tidak perlu memikirkan tugas yang menumpuk, konflik yang belum selesai, atau perasaan yang sedang tidak nyaman. Masalahnya, perasaan tersebut biasanya tidak benar-benar hilang. Setelah menutup media sosial, tugas tetap menunggu, rasa cemas masih ada, dan bahkan kita mungkin merasa bersalah karena telah menghabiskan begitu banyak waktu tanpa sadar.
Algoritma Dirancang untuk Mempertahankan PerhatianAlgoritma Dirancang untuk Mempertahankan Perhatian
Platform digital memang dibuat agar pengguna bertahan selama mungkin. Fitur seperti infinite scroll, video yang diputar otomatis, hingga rekomendasi konten yang semakin sesuai dengan minat pengguna membuat kita tidak banyak berpikir untuk terus melihat konten berikutnya. Semuanya mengalir secara otomatis. Semakin lama kita menggunakan suatu aplikasi, algoritma semakin memahami apa yang menarik perhatian kita. Akibatnya, konten yang muncul terasa semakin relevan dan semakin sulit untuk ditinggalkan. Ini bukan berarti kita tidak memiliki kendali, tetapi kita memang sedang berhadapan dengan sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Untuk menjaga kesehatan mental kita, penting untuk mengatur konten-konten yang kita sukai atau berikan perhatian lebih lama adalah konten yang memang baik untuk kita, edukatif, dan bermanfaat.
Saat Otak Sedang Overload, Sulit Membuat KeputusanSaat Otak Sedang Overload, Sulit Membuat Keputusan
Ketika terus menerima informasi tanpa jeda, otak bekerja tanpa henti memproses gambar, suara, teks, dan emosi yang datang silih berganti. Lama-kelamaan, kita bisa mengalami information overload, yaitu kondisi ketika jumlah informasi yang diterima melebihi kapasitas otak untuk mengolahnya secara efektif. Ironisnya, semakin lelah otak, semakin sulit pula kita mengambil keputusan, termasuk keputusan untuk berhenti scrolling. Akibatnya, kita justru terus menggeser layar meskipun sudah merasa tidak menikmati kontennya. Begitu pun saat sedang lelah bekerja, atau menjalankan peran tertentu dan kita memulai scrolling, untuk nantinya ingin memutuskan berhenti, akan menjadi lebih sulit.
Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Ini?
Mengurangi scrolling bukan berarti harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara lebih sadar atau mindful.
Beberapa langkah yang dapat dicoba antara lain:
- Sadari tujuan sebelum membuka media sosial. Tanyakan pada diri sendiri, "Aku membuka aplikasi ini untuk apa?" Tujuan yang jelas dapat membantu mencegah scrolling tanpa arah.
- Tetapkan batas waktu. Gunakan pengingat, alarm, atau fitur pembatas waktu layar agar Anda memiliki sinyal kapan saatnya berhenti.
- Kenali pemicunya. Apakah Anda lebih sering scrolling saat bosan, stres, menunda pekerjaan, atau sebelum tidur? Mengenali pola ini bisa membantu Anda mencari alternatif atau solusi yang lebih sehat.
- Beri jeda sebelum scroll berikutnya. Ketika jari ingin terus menggulir layar, berhentilah sejenak dan tanyakan, "Apakah aku masih menikmati ini, atau hanya melakukannya karena sudah terbiasa?"
- Isi waktu harian dengan aktivitas lain yang benar-benar memulihkan energi, seperti berjalan kaki, membaca beberapa halaman buku, mengobrol dengan orang terdekat, atau melakukan peregangan singkat.
- Ciptakan zona bebas gadget. Fokus aktivitas di rumah, peregangan, atau berdiam diri tanpa gadget dalam beberapa waktu. Melakukan digital detox secara berkala juga dapat bermanfaat untuk membiasakan diri tidak bergantung pada gadget dan kegiatan scrolling. Hal ini juga bisa membuat kita lebih kreatif dalam memikirkan aktivitas lain selain scrolling.
Selamat mencoba! Jika Anda masih memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait topik ini atau masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda