Dirilis

27 September 2021

Penulis

dr.Zeth Boroh, Sp.KO

Olahraga setiap hari dapat membantu mengurangi risiko penyakit, yaitu dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menangkal beragam penyakit. Sebut saja menangkal penyakit seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung, yang membuat kita lebih rentan terhadap COVID-19 yang serius. 

Sebuah penelitian menunjukan bahwa berolahraga ringan yang dilakukan sebelum atau setelah terkena infeksi, akan mampu memperbaiki morbiditas dan mortalitas terhadap infeksi.

Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik atau olahraga dapat meningkatan kerentanan terhadap infeksi, dan tentu saja meningkatan komorbiditas yang terkait dengan COVID-19. 

Sayangnya, banyak pasien COVID-19 tidak memiliki kebugaran fisik yang baik sebelum terinfeksi. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi respon pasien tersebut terhadap COVID-19 dan akan menimbulkan gejala yang lebih berat. 

Aktivitas fisik atau olahraga sangat penting untuk kesehatan jantung dan beberapa organ tubuh lainnya. Sementara, jika kita tidak aktif bergerak karena alasan apapun, dapat mengurangi kesehatan jantung dan meningkatkan risiko jangka panjang penyakit jantung dan pembuluh darah. 

Studi terkini menunjukan bahwa aktivitas fisik atau olahraga yang teratur akan meningkatkan kesehatan kardiovaskular, dan mereka yang memiliki tingkat kebugaran yang lebih tinggi akan memiliki hasil test stress olahraga yang lebih baik. 

Efek COVID-19 Terhadap Jantung


COVID-19 dapat memicu kerusakan jaringan yang lebih luas di organ jantung, infeksi otot jantung menyebabkan miokarditis dengan potensi infark miokard akut, gagal jantung, dan aritmia. 
Pada fase infeksi akut, pelepasan adrenergik dapat memicu sindrom koroner akut atau aritmia yang fatal. Infeksi virus sistemik juga menyebabkan reaksi inflamasi yang dapat menyebabkan iritasi lapisan arteri. 

Pada arteri koroner, peradangan memungkinkan terjadinya robekan pada jaringan yang menahan flak sehingga menyebabkan pembekuan pada ruptur flak ,d aritmia  fatal atau hipoksia lokal dan kematian jaringan jantung. Ruptur flak adalah penyebab umum serangan jantung mendadak dan kematian baik saat istirahat maupun saat berolahraga. Jaringan parut yang disebabkan oleh infeksi virus dapat memicu aritmia pasca infeksi yang berpotensi fatal. 

Efek COVID-19 terhadap jantung dapat muncul bersamaan atau setelah gejala pernapasan mereda pada beberapa pasien. Semua kerusakan yang ditimbulkan oleh COVID-19 pada organ jantung, secara langsung mempengaruhi fungsi kapasitas jantung, dalam hal ini penyebab  terjadinya penurunan kebugaran jantung.

Baca juga: Olahraga di Rumah? Kenapa Enggak!

Efek Ventilator COVID-19 Terhadap Pernapasan


Banyak pasien COVID-19 mengalami kegagalan pernapasan dan memerlukan ventilasi mekanis (ventilator) untuk mempertahankan pertukaran gas paru-paru yang memadai. Dalam sebuah laporan diungkapkan bahwa sekitar 54% pasien yang dirawat di Rumah Sakit karena COVID-19 mengalami kegagalan pernapasan, dan lebih dari 30% memerlukan ventilator. 

Meskipun ventilator merupakan intervensi untuk menyelamatkan jiwa, tapi konsekuensi dari penggunaan ventilator berkepanjangan akan menyebabkan kelemahan otot-otot pernapasan, karena adanya atrofi otot diafragma dan disfungsi kontraktil. 

Banyak pasien COVID-19 yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menggunakan ventilator sehingga dapat meningkatkan risiko masalah pemulihan pernapasan. 

Mengingat bahwa kelemahan otot pernapasan merupakan faktor risiko utama kegagalan pernapasan dari ventilator, diperlukan strategi untuk melindung diafragma terhadap kelemahan yang diakibatkan oleh penggunaan ventilator. 

Menariknya, efek latihan daya tahan pada sistem pernapasan telah membantu beberapa pasien yang mengalami penurunan otot-otot diafragma. Secara khusus, latihan daya tahan mendorong banyak perubahan biokimia pada otot diafragma yang menghasilkan tipe otot yang terlindungi dari beberapa hal termasuk penggunaan ventilator yang berkepanjangan. 

Latihan daya tahan selama 10 hari berturut-turut akan menghasilkan perlindungan yang cukup signifikan terhadap kerusakan otot-otot diafragma akibat penggunaan ventilator. Oleh karena itu, diperkirakan pasien COVID-19 yang terlatih ketahanannya dan membutuhkan ventilator, akan mendapatkan manfaat dari kondisi diafragma yang lebih baik karena sering olahraga. 

Sayangnya banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 tidak terlatih ketahanannya sebelum terinfeksi. Hal ini disebabkan oleh kerusakan yang lebih pada otot-otot diafragma yang akan mempengaruhi kapasitas paru-paru secara langsung dan mengurangi kebugaran paru-paru. Hal ini dapat diperparah apabila ada kerusakan fibrosis paru-paru sehingga akan mengurangi kebugaran paru-paru.


 

Efek COVID-19 Terhadap Otot


Nyeri otot rangka yang menyertai infeksi influenza dan virus corona adalah gejala yang sudah banyak diketahui, dan dapat mengakibatkan kerusakan langsung dan tidak langsung pada jaringan otot. Nyeri otot kemungkinan diakibatkan oleh kombinasi infeksi jaringan langsung dan respon inflamasi dari sitokin yang berlebihan (badai sitokin), yang dilepaskan untuk melawan invasi virus. 

Menjaga massa otot melalui aktivitas fisik atau olahraga sangat penting, karena olahraga mampu menjaga aktivasi sintesis protein otot. Sebaliknya kurangnya aktivitas kontraktil otot terutama pada orang tua akan menyebabkan resistensi anabolik dan atrofi otot (pengecilan otot). 

Atrofi otot yang signifikan (sekitar 1-4%) dapat terjadi pada orang dewasa muda dan tua ketika terjadi pengurangan aktivitas fisik selama 14 hari. Otot rangka yang beradaptasi dengan aktivitas fisik berkepanjangan tidak hanya dapat mengurangi ukuran serat otot tapi juga fungsi dan kualitas otot. Hal ini biasanya terjadi pada pasien COVID-19 dengan tirah baring (bed rest) 14  hari atau lebih. 

Pada suatu penelitian dengan tirah baring jangka panjang disebutkan bahwa homeostasis mitochondria terganggu oleh imobilisasi otot yang mengakibatkan penurunan sintesis protein dan meningkatkan degradasi protein (kerusakan protein otot). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas otot pasca COVID-19 sehingga menyebabkan terjadinya penurunan kebugaran (kekuatan daya tahan otot).

Baca Juga: Cara Mencegah COVID-19





Dapat disimpulkan bahwa ada 3 organ tubuh yang mengalami penurunan kapasitas dan kebugaran post COVID-19 yaitu kebugaran jantung, kebugaran paru dan kebugaran otot. Tapi semua ini bisa diperbaiki dengan pemberian latihan yang sesuai dan dibawah monitoring dokter olahraga untuk mengembalikan kebugaran sebelum terkena COVID-19.

Apabila ada hal yang ingin Anda konsultasikan mengenai cedera saat berolahraga, manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk berkonsultasi langsung dengan saya, dr.Zeth Boroh, Sp.KO., dokter Spesialis Kedokteran Olahraga. Dan untuk mendapatkan manfaat penuh dari website daya.id, Anda cukup mendaftar sebagai pengguna daya.id. Salam Olahraga!




 

Sumber:

Indonesia Sports Medicine Centre

Penilaian :

5.0

9 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Zeth Boroh, Sp.KO

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS