Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih terjadi sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan itu diikuti dengan aksi saling balas. Konflik memicu ketidakpastian global dan menyebabkan volatilitas di pasar komoditas serta pasar saham dunia.
Walaupun Indonesia secara geografis jauh dari pusat konflik tersebut, sebagai bagian dari sistem ekonomi global dampaknya tetap dapat dirasakan, terutama melalui perubahan harga komoditas, arus modal asing, dan pergerakan nilai tukar.
Berikut beberapa dampak utama konflik geopolitik tersebut terhadap pasar keuangan Indonesia.
Lonjakan Harga Minyak Dunia

Salah satu dampak langsung dari konflik di Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama di dunia, sehingga gangguan terhadap stabilitas kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Jika konflik memicu gangguan produksi atau distribusi minyak, maka harga energi dapat meningkat secara signifikan.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kenaikan harga minyak memiliki beberapa konsekuensi ekonomi, antara lain:
- Meningkatkan tekanan inflasi
- Menambah beban subsidi energi pemerintah
- Memperbesar biaya produksi di berbagai sektor industri
Kondisi ini pada akhirnya juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan pasar keuangan domestik.
Arus Dana Asing Berpotensi Keluar dari Pasar Saham
Ketika ketidakpastian global meningkat akibat konflik geopolitik, investor biasanya cenderung mengurangi investasi pada aset berisiko seperti saham di negara berkembang (emerging markets).
Baca Juga: Saat Dolar Turun, Baiknya Investasi Apa?
Sebagai gantinya, mereka akan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti:
- Dolar Amerika Serikat
- Obligasi pemerintah Amerika Serikat
- Emas
Perubahan preferensi ini dapat memicu capital outflow dari pasar saham Indonesia, yang pada akhirnya menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah.
Pada 27 Februari 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 0,173% terhadap dolar AS ke level sekitar Rp16.774 per dolar AS. Jika tekanan berlanjut, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguji kisaran Rp16.928 hingga Rp16.976, level yang sempat terjadi pada Januari 2026.
Baca Juga: Strategi Hadapi Gejolak IHSG Setelah Lebaran
Terkoreksinya Kenaikan Harga Emas
Dalam situasi ketidakpastian global seperti perang atau konflik geopolitik, investor biasanya mencari instrumen investasi yang lebih stabil atau dikenal sebagai safe haven.
Salah satu aset yang paling sering dipilih adalah emas, karena nilainya cenderung lebih stabil bahkan dapat meningkat ketika kondisi ekonomi tidak menentu.
Pada 27 Februari 2026, harga emas tercatat naik sekitar 2% hingga mencapai Rp2.846.715 per gram. Secara teori, harga emas sebetulnya berpotensi kembali menguji level tertinggi sebelumnya di sekitar Rp3.019.021 per gram, yang tercatat pada 29 Januari 2026.
Tapi kenyataannya, harga emas yang sempat naik itu justru terkoreksi. Kenapa itu bisa terjadi? Dan bagaimana dampaknya terhadap perusahaan tambang emas yang tercatat di pasar saham Indonesia? Ayo diskusi bersama analis keuangan di Tanya Ahli.
Potensi Tekanan pada Pasar Saham
Ketegangan geopolitik sering memicu panic selling di pasar saham global. Investor cenderung melakukan aksi jual untuk mengurangi risiko, sehingga menyebabkan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Saham dengan kapitalisasi besar (big caps) biasanya lebih sensitif terhadap arus keluar dana asing karena sebagian besar kepemilikannya berasal dari investor institusi global.
Akibatnya, pergerakan IHSG dapat menjadi lebih fluktuatif dalam jangka pendek.
Sektor Saham yang Berpotensi Diuntungkan

Meskipun konflik geopolitik sering menimbulkan tekanan pada pasar saham secara keseluruhan, beberapa sektor justru berpotensi mendapatkan keuntungan.
Beberapa sektor yang berpotensi mendapatkan sentimen positif antara lain:
1. Sektor Energi dan Migas
Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan pendapatan perusahaan energi dan migas.
Pada penutupan perdagangan 27 Februari 2026:
-
Minyak Brent naik 2,45% menjadi 72,48 dolar AS per barel
-
West Texas Intermediate (WTI) naik 2,78% menjadi 67,02 dolar AS per barel
Kenaikan harga ini dapat menjadi katalis positif bagi emiten energi.
2. Sektor Batu Bara dan Komoditas
Ketegangan geopolitik sering mendorong kenaikan harga berbagai komoditas global, termasuk batu bara. Emiten batu bara Indonesia yang berorientasi ekspor berpotensi mendapatkan manfaat dari kenaikan harga tersebut.
3. Sektor Pertambangan Emas
Sebagai aset safe haven, kenaikan harga emas dapat meningkatkan kinerja perusahaan tambang emas serta menarik minat investor terhadap saham-saham di sektor ini. Tapi nyatanya harga emas terkoreksi. Apa yang sebaiknya Anda pertimbangkan? Ayo diskusi bersama analis keuangan di Tanya Ahli.
Dampak Bergantung pada Durasi Konflik
Besarnya dampak konflik terhadap pasar saham Indonesia sangat bergantung pada durasi dan eskalasi konflik.
- Jika konflik bersifat terbatas dan cepat mereda, dampaknya kemungkinan hanya berupa volatilitas jangka pendek.
- Namun jika konflik meluas dan mengganggu distribusi energi global dalam waktu lama, maka tekanan terhadap inflasi, rupiah, dan pasar saham dapat menjadi lebih signifikan.
Tips Menghadapi Gejolak Geopolitik bagi Investor
Dalam kondisi pasar yang tidak stabil, investor perlu menjaga disiplin dan tidak mengambil keputusan secara emosional.
Berikut beberapa tips menghadapi gejolak pasar akibat konflik geopolitik:
- Tetap tenang dan hindari FOMO
Jangan mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti kepanikan pasar. - Kelola risiko dengan baik
Gunakan strategi diversifikasi portofolio dan pertimbangkan penggunaan stop-loss. - Pertimbangkan rotasi sektor
Perhatikan sektor defensif atau sektor komoditas yang berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga global. - Analisis data teknikal dan fundamental
Pastikan keputusan investasi didasarkan pada analisis yang matang. - Pantau kondisi makro global
Perkembangan ekonomi global sering kali memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan konflik itu sendiri.
Kesimpulan
Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menimbulkan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia. Dampaknya dapat terlihat melalui kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, serta potensi arus keluar dana asing.
Namun di tengah gejolak tersebut, peluang tetap dapat muncul melalui rotasi sektor, terutama pada sektor energi, pertambangan, dan komoditas.
Bagi investor maupun trader, kunci utama dalam menghadapi situasi seperti ini adalah disiplin dalam manajemen risiko, memahami profil risiko pribadi, serta tidak bereaksi secara emosional terhadap pergerakan pasar jangka pendek.
Dalam setiap krisis global, volatilitas memang meningkat. Namun bagi investor yang siap dan selektif, kondisi tersebut juga dapat membuka peluang investasi yang menarik.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai Sumber
Berikan Pendapat Anda