Informasi Artikel

Dirilis

11 Juli 2026

Penulis Artikel

Linda Lee, CFTe, CSA


Tag

Pernah melihat seseorang yang baru mempelajari suatu bidang, tetapi sudah berbicara seolah-olah paling memahami semuanya? Atau pernah menemukan konten di media sosial yang penuh klaim tanpa dasar, namun disampaikan dengan keyakinan tinggi hingga memancing emosi publik?

Fenomena ini bukan sekadar persoalan ego atau kepribadian. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect, sebuah bias kognitif yang membuat seseorang merasa lebih kompeten daripada kemampuan sebenarnya.

Istilah ini diperkenalkan oleh dua psikolog, David Dunning dan Justin Kruger, melalui penelitian mereka pada tahun 1999. Dunning-Kruger Effect menggambarkan kondisi ketika seseorang dengan pengetahuan atau keterampilan yang terbatas justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap kemampuannya.

Fenomena ini berlawanan dengan impostor syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang yang sebenarnya kompeten justru meragukan kemampuannya sendiri. Pada Dunning-Kruger Effect, individu cenderung merasa lebih pintar, lebih ahli, atau lebih berpengalaman dibandingkan orang lain yang sebenarnya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang jauh lebih baik.

 

Dunning-Kruger Effect dalam Dunia Investasi

Dalam dunia investasi, efek ini sering terlihat pada investor pemula. Seseorang yang baru mempelajari saham mungkin merasa siap mengalahkan pasar hanya karena memahami beberapa konsep dasar. Sementara itu, investor atau analis berpengalaman justru cenderung lebih berhati-hati karena menyadari banyaknya variabel yang dapat memengaruhi hasil investasi.

Ketidakseimbangan antara pengetahuan dan rasa percaya diri inilah yang sering membuat investor pemula mengambil keputusan berisiko dan akhirnya mengalami kerugian.

Jika digambarkan sebagai perjalanan belajar, Dunning-Kruger Effect umumnya melalui empat tahapan berikut.

 

1. Puncak Kepercayaan Diri Berlebihan

Pada tahap ini, seseorang baru memahami sedikit informasi, tetapi sudah memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi.

Misalnya, seseorang baru mengenal istilah cut loss, support-resistance, membaca beberapa artikel, serta bergabung dalam komunitas investasi. Namun, ia mulai merasa mampu mengalahkan pasar.

Fase ini menjadi salah satu tahap paling berbahaya karena sering ditandai dengan perilaku seperti:

  • Berani melakukan investasi secara penuh (all-in);
  • Menggunakan margin secara agresif;
  • Mengikuti saham spekulatif karena takut ketinggalan peluang (fear of missing out/FOMO).

Kepercayaan diri yang tinggi muncul karena seseorang belum menyadari seberapa banyak hal yang sebenarnya belum dipahaminya.

 

2. Lembah Keputusasaan

Pada tahap berikutnya, realitas mulai memberikan pelajaran.

Investasi mengalami kerugian, salah mengambil keputusan, atau berulang kali gagal menentukan waktu masuk dan keluar pasar. Saat itulah seseorang mulai menyadari bahwa pasar jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan.

Akibatnya, kepercayaan diri menurun drastis. Sebagian orang bahkan memilih berhenti berinvestasi atau menjadi terlalu takut untuk kembali masuk ke pasar.

 

3. Lereng Pembelajaran

Tahap ini ditandai dengan proses belajar yang lebih serius dan terstruktur.

Seseorang mulai memahami pentingnya:

  • Analisis fundamental dan teknikal;
  • Manajemen risiko;
  • Diversifikasi portofolio;
  • Psikologi investasi dan pengendalian emosi.

Kepercayaan diri mulai meningkat kembali, tetapi kali ini didasarkan pada kompetensi yang nyata, bukan sekadar asumsi atau keberhasilan sesaat.

 

4. Tahap Investor Matang

Pada tahap ini, seseorang menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.

Ia memiliki sistem, proses, dan aturan yang jelas dalam mengambil keputusan. Prediksi tidak lagi didasarkan pada intuisi semata, melainkan pada data, pengalaman, dan evaluasi yang berkelanjutan.

Menariknya, semakin tinggi tingkat kompetensi seseorang, biasanya semakin besar pula kesadarannya akan keterbatasan yang dimiliki. Sikap inilah yang membuat individu menjadi lebih rendah hati dan lebih berhati-hati dalam membuat keputusan.

 

Mengapa Dunning-Kruger Effect Bisa Terjadi?

Salah satu penyebab utama Dunning-Kruger Effect adalah keterbatasan pengetahuan.

Seseorang yang belum memahami suatu bidang secara mendalam belum memiliki kemampuan untuk menilai sejauh mana keterbatasan dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia belum mengetahui apa yang sebenarnya belum diketahuinya.

Semakin banyak belajar, seseorang biasanya akan semakin menyadari bahwa masih terdapat begitu banyak hal yang perlu dipahami. Pengetahuan yang telah dimiliki terasa seperti setitik air dibandingkan luasnya samudra ilmu pengetahuan.

Selain itu, keberhasilan awal atau beginner's luck juga dapat memperkuat bias ini.

Misalnya, seorang investor memperoleh keuntungan beberapa kali dalam waktu singkat. Pengalaman tersebut dapat memunculkan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan luar biasa dalam mengalahkan pasar, padahal hasil tersebut belum tentu mencerminkan keahlian yang konsisten.

Gabungan antara pengetahuan yang terbatas dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi merupakan inti dari Dunning-Kruger Effect.

 

Dunning-Kruger Effect Bisa Dialami Siapa Saja

Bias ini tidak hanya dialami investor pemula. Siapa pun dapat terjebak dalam Dunning-Kruger Effect, mulai dari trader, pengusaha, profesional, akademisi, hingga pakar sekalipun.

Seorang profesional dapat merasa bahwa pendapatnya selalu benar karena pengalaman yang dimiliki. Seorang pengusaha yang mengalami peningkatan penjualan pada masa awal bisnis juga bisa menganggap dirinya telah sepenuhnya memahami pasar.

Akibat rasa percaya diri yang berlebihan, ia mungkin membuka banyak cabang sekaligus tanpa melakukan riset pasar yang memadai. Ketika tren berubah dan biaya operasional meningkat, bisnis tersebut akhirnya mengalami kerugian hingga beberapa cabang terpaksa ditutup.

Fenomena serupa juga semakin mudah ditemukan di media sosial.

Saat ini, siapa pun dapat membuat konten dan menyampaikan pendapat kepada publik dalam hitungan detik. Jumlah pengikut dan popularitas sering dianggap sebagai indikator keahlian, padahal belum tentu demikian.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung mempertemukan pengguna dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Kondisi ini menciptakan echo chamber, yaitu lingkungan yang memperkuat keyakinan seseorang tanpa adanya kritik atau sudut pandang yang berbeda.

Inilah salah satu alasan mengapa kita sering menjumpai individu yang sangat yakin terhadap pendapatnya, meskipun belum tentu memiliki pemahaman yang benar dan mendalam.

 

Cara Menghindari Dunning-Kruger Effect

Kebiasaan belajar dan evaluasi diri merupakan langkah paling efektif untuk menghindari Dunning-Kruger Effect.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan;
  • Terbuka terhadap kritik dan masukan;
  • Tidak hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan pribadi;
  • Membedakan keberhasilan jangka pendek dengan kemampuan jangka panjang;
  • Mengambil keputusan berdasarkan data dan evaluasi objektif.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang mampu berlari sejauh 10 kilometer belum tentu siap mengikuti maraton. Dibutuhkan latihan, pengalaman, dan konsistensi jangka panjang untuk mencapai kemampuan tersebut.

Hal yang sama berlaku dalam investasi, bisnis, maupun karier. Satu atau dua keberhasilan belum cukup menjadi bukti bahwa seseorang telah menguasai suatu bidang.

Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin dalam pengetahuan yang dipelajari, dan semakin objektif proses evaluasi yang dilakukan, semakin kecil kemungkinan seseorang terjebak dalam Dunning-Kruger Effect.

Pada akhirnya, tanda berkembangnya kompetensi yang sesungguhnya bukanlah merasa paling tahu, melainkan menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

Premium sparkles
5.0
Indonesia Belum Krisis Ekonomi! Tips Antisipasi Keuangan Pribadi
Artikel Ahli
Investasi

Indonesia Belum Krisis Ekonomi! Tips Antisipasi Keuangan Pribadi

28 April 2026

Premium sparkles
5.0
Strategi Buy on Weakness (BOW): Peluang Saat Market Merah Membara
Artikel Ahli
Investasi

Strategi Buy on Weakness (BOW): Peluang Saat Market Merah Membara

27 April 2026

5.0
Instrumen Investasi Paling Ramah untuk Pemula
Investasi

Instrumen Investasi Paling Ramah untuk Pemula

10 April 2026

Premium sparkles
5.0
Crypto, Diminati Generasi Muda, Investasi Berisiko Tinggi
Artikel Ahli
Investasi

Crypto, Diminati Generasi Muda, Investasi Berisiko Tinggi

09 April 2026

Berikan Pendapat Anda

5 dari 100 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS