Informasi Artikel

Dirilis

03 Oktober 2026

Penulis Artikel

Linda Parman


Tag

Mulai 28 September 2026 batas harga saham terendah berubah dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut diikuti dengan penyesuaian batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk saham yang diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Perubahan batas harga bawah menjadi Rp1 berhubungan dengan ketentuan batas ARA dan ARB. 

Auto Rejection Atas (ARA) merupakan batas kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan. Auto Rejection Bawah (ARB) merupakan batas penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. 

Penyesuaian batas Auto Rejection akan diterapkan dalam dua tahap, yaitu selama masa transisi pada 28 September hingga 31 Desember 2026, kemudian berlaku dengan ketentuan baru mulai 1 Januari 2027. 

 

Tujuan Perubahan Batas Harga Saham

Perubahan batas harga saham tersebut bertujuan untuk memberikan ruang perdagangan yang lebih luas, meningkatkan kualitas pembentukan harga (price discovery yaitu proses pembentukan harga berdasarkan permintaan dan penawaran), serta mendorong likuiditas saham. 

Bagi investor, perubahan ini berarti saham yang sebelumnya tertahan di batas Rp50, kini memiliki ruang perdagangan yang lebih rendah. Tapi bukan berarti saham Rp50 otomatis akan turun menjadi Rp1. Harga tetap ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar. 

Perubahan Ini berdampak untuk investor yang memiliki saham Rp50, perubahan batas minimum menjadi Rp1 membuat ruang penurunan harga menjadi lebih panjang. Bila sebelumnya harga saham di bawah Rp50 tidak dapat diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Kini harga dapat bergerak hingga Rp1 sesuai mekanisme pasar.  

Misalnya seorang investor memiliki 10.000 lembar saham di harga Rp50, total modal yang dikeluarkan Rp500.000. Jika harga saham tersebut melalui mekanisme pasar kemudian turun menjadi Rp1, nilai investasinya menjadi Rp10.000. Artinya, secara nilai pasar, investasi tersebut mengalami penurunan sebesar Rp490.000 atau 98%. 

Risiko floating loss menjadi lebih besar. Floating loss adalah kondisi ketika portofolio atau posisi investasi mengalami kerugian sementara karena nilai aset turun, tetapi kerugian tersebut belum direalisasikan karena investor belum menjual atau menutup posisi aset tersebut. Selain Risiko harga juga terdapat Risiko likuiditas. 

 

Harga Saham Rendah Belum Tentu Murah

Harga saham yang rendah tidak otomatis berarti saham tersebut murah. Saham Rp1 dengan kinerja bisnis yang buruk belum tentu lebih murah secara fundamental dibandingkan saham Rp500 dari perusahaan yang memiliki kinerja keuangan sehat.  Investor tetap perlu melihat kondisi fundamental perusahaan, seperti pendapatan, laba, arus kas, utang, prospek bisnis, dan tata kelola perusahaan. Mempertimbangkan likuiditas juga penting. Saham yang harganya sangat rendah belum tentu mudah dijual jika jumlah pembelinya terbatas.

Apa yang harus dilakukan investor yang sudah memiliki saham berisiko? 

  1. Evaluasi alasan membeli saham tersebut. Apakah berdasarkan analisis fundamental, teknikal, atau sekadar mengikuti tren? Jika kondisi atau alasan investasinya sudah berubah, strategi juga perlu disesuaikan. 
  2. Berikutnya periksa kondisi perusahaannya. Lihat laporan keuangan, arus kas, tingkat utang, kinerja bisnis, serta keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan. Investor perlu mengelola Risiko dengan menentukan batas risiko.
  3. Tentukan seberapa besar kerugian yang mampu ditanggung dan pastikan dana yang digunakan untuk investasi bukan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. 
  4. Terakhir, jangan menganggap saham yang turun drastis otomatis menjadi murah. Penurunan harga tidak selalu berarti peluang untuk membeli lebih banyak. Keputusan untuk menambah, mempertahankan, atau mengurangi kepemilikan sebaiknya didasarkan pada analisis, tingkat risiko, dan tujuan investasi.

Bagi calon investor, harga saham yang murah secara nominal tidak selalu berarti murah secara valuasi. Harga adalah angka; nilai perusahaan perlu dilihat dari fundamental dan prospeknya. Saham merupakan investasi dengan Risiko tinggi karena fluktuasi harganya dapat naik dan turun, sehingga tidak ada jaminan keuntungan meskipun harga belinya terlihat sangat rendah. Sebelum membeli saham, tentukan terlebih dahulu tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan tingkat risiko yang mampu ditanggung. Pelajari kualitas perusahaan, mulai dari bisnis, kinerja keuangan, arus kas, hingga prospeknya. Jangan hanya terpaku pada harapan harga saham akan naik berkali-kali lipat.

Jangan menggunakan ‘uang panas’ yaitu dana untuk kebutuhan hidup, dana darurat dan keperluan keluarga atau dana dengan pinjaman/ hutang. Gunakan ‘uang dingin’ yaitu dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Selain itu, pertimbangkan diversifikasi agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu saham, terutama bagi investor yang masih belajar. Investasi saham bukan tentang mencari harga paling murah, tetapi memahami nilai, risiko, dan prospek investasi.

 

Fleksibilitas dalam Perdagangan Saham

Perubahan batas harga minimum saham menjadi Rp1 memberikan fleksibilitas baru dalam perdagangan saham. Namun, perubahan harga minimum tersebut tidak mengubah prinsip dasar investasi yaitu mengelola uang agar aset berkembang secara aman dan menghindari risiko kerugian besar.  Setiap saham tetap memiliki risiko dan membutuhkan pertimbangan yang matang. Bagi investor yang sudah memiliki saham, perubahan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali portofolio secara rasional. Perhatikan kondisi perusahaan, kinerja bisnis, dan alasan di balik keputusan investasi, bukan hanya pergerakan harga. Untuk calon investor sebaiknya tidak menjadikan harga murah sebagai alasan utama untuk mulai membeli saham. Pahami bisnis perusahaan, ukur Risiko, tentukan tujuan investasi, dan gunakan dana yang sesuai dengan kemampuan.Harga saham bisa berubah dari Rp50 menjadi Rp1, tetapi keputusan investasi seharusnya tidak pernah ditentukan hanya oleh murahnya harga. 

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Investasi Saat Inflasi Tinggi: Instrumen Apa yang Aman?
Investasi

Investasi Saat Inflasi Tinggi: Instrumen Apa yang Aman?

30 September 2026

5.0
Mitos atau Fakta: Emas Tidak Selalu Naik Saat Krisis Ekonomi?
Investasi

Mitos atau Fakta: Emas Tidak Selalu Naik Saat Krisis Ekonomi?

23 September 2026

5.0
7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya
Investasi

7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya

11 September 2026

5.0
Kebiasaan Kecil yang Membuat Uang Cepat Habis Tapi Sering Tidak Disadari
Investasi

Kebiasaan Kecil yang Membuat Uang Cepat Habis Tapi Sering Tidak Disadari

24 Agustus 2026

Berikan Pendapat Anda