Informasi Artikel

Dirilis

17 September 2026

Penulis Artikel

Linda Parman


Tag

Pada awal 2026, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang cukup besar. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mengalami koreksi tajam hingga berada di area 5.300-an pada Juni 2026. Pada 8 Juni 2026, misalnya, IHSG ditutup di level 5.342,14 setelah melemah 4,52 persen dalam sehari.

Setelah mengalami tekanan tersebut, IHSG mulai menunjukkan pemulihan. Pergerakannya beberapa kali kembali ke atas level 6.000. Pada 19 Juni 2026, IHSG ditutup di level 6.177,14, meskipun pasar masih menghadapi berbagai sentimen dari dalam negeri maupun global.

Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan bagi investor: setelah IHSG naik cukup jauh dari titik terendah, apakah sekarang masih menarik untuk berinvestasi?

Menariknya, kekhawatiran investor sering berubah mengikuti arah pasar. Ketika harga turun, investor takut membeli karena khawatir harga akan kembali jatuh. Sebaliknya, ketika harga mulai naik, muncul kekhawatiran bahwa harga sudah terlalu mahal.

Lalu, bagaimana sebaiknya investor menyikapi kondisi tersebut?

 

IHSG Naik, Apakah Pasar Sudah Pulih?

Penguatan IHSG dari area terendah menunjukkan adanya pemulihan harga. Namun, kenaikan tersebut tidak otomatis berarti pasar sudah sepenuhnya pulih atau terbebas dari risiko penurunan berikutnya.

Pergerakan IHSG tidak berdiri sendiri. Indeks dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global, seperti kondisi ekonomi, suku bunga, nilai tukar, kinerja perusahaan, aliran dana investor, serta sentimen pasar.

Sebagai contoh, pada Juni 2026 pergerakan IHSG masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik. Tekanan geopolitik, arah suku bunga global, serta sentimen terhadap kondisi pasar Indonesia turut menjadi perhatian investor.

Karena itu, sebaiknya jangan hanya melihat seberapa tinggi IHSG sudah naik dari titik terendah. Yang lebih penting adalah memahami apa yang mendorong kenaikan tersebut dan apakah faktor pendukungnya dapat bertahan.

Memahami dinamika pasar menjadi bagian penting dalam menyusun strategi investasi sekaligus mengelola risiko.

 

Jangan Hanya Melihat Angka IHSG

Ada beberapa indikator yang dapat diperhatikan ketika pasar mengalami rebound atau pemulihan, antara lain:

  • Kekuatan tren harga
  • Volume transaksi
  • Aliran dana investor asing
  • Pergerakan sektor
  • Luasnya kenaikan saham di pasar
  • Kinerja dan valuasi perusahaan

Jika kenaikan IHSG hanya ditopang oleh beberapa saham berkapitalisasi besar, kondisinya tentu berbeda dengan kenaikan yang didukung oleh lebih banyak saham dan sektor.

Sebagai contoh, pada 12 Juni 2026 ketika IHSG naik 2,07 persen ke level 6.007,66, tercatat 615 saham menguat, 108 saham melemah, dan 93 saham tidak berubah. Pada hari yang sama, investor asing juga mencatatkan net buy di seluruh pasar.

Data tersebut menunjukkan bahwa untuk memahami kondisi pasar, investor tidak cukup hanya melihat angka IHSG. Perlu dilihat pula bagaimana saham dan sektor di dalam indeks tersebut bergerak.

Rebound merupakan sinyal yang perlu dicermati, bukan alasan untuk langsung mengejar harga.

 

Investor Tidak Perlu Sibuk Menebak Titik Terendah

Tidak ada yang benar-benar dapat memastikan kapan dan di level berapa IHSG akan berhenti turun atau mencapai titik terendah.

Karena itu, bagi investor jangka panjang, menebak titik terendah IHSG bukan satu-satunya tujuan.

Pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya: “Apakah IHSG masih murah?”

Tetapi juga: “Apakah investasi ini sesuai dengan tujuan keuangan saya?”

Sebelum mengambil keputusan investasi, investor sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

  1. Tujuan investasi
  2. Jangka waktu investasi
  3. Profil risiko
  4. Kualitas aset yang dipilih
  5. Valuasi aset
  6. Kemampuan menghadapi fluktuasi harga

Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

 

Investasi Bertahap Bisa Menjadi Alternatif

Bagi investor yang khawatir salah menentukan waktu masuk pasar, investasi secara bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan.

Dengan strategi tersebut, dana investasi dialokasikan secara berkala sesuai rencana, bukan sekaligus berdasarkan perkiraan bahwa harga sedang berada di titik terendah.

Tujuannya bukan untuk memastikan investor membeli pada harga termurah, karena hal tersebut sulit dipastikan. Pendekatan ini lebih menekankan konsistensi investasi dan pengelolaan risiko timing.

Namun, DCA tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, kondisi keuangan, profil risiko, serta aset yang dipilih.

 

Bagaimana dengan Trader?

Pendekatan trader berbeda dengan investor jangka panjang.

Trader berusaha memanfaatkan pergerakan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Karena itu, kenaikan IHSG dapat menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan untuk mencari peluang.

Namun, trader tidak seharusnya sekadar membeli karena harga sedang naik.

Trader perlu mempertimbangkan apakah momentum masih memiliki ruang untuk berlanjut dan apakah potensi keuntungan sebanding dengan risiko yang harus ditanggung.

Beberapa hal yang dapat menjadi bagian dari analisis trader antara lain:

  • Tren harga
  • Support dan resistance
  • Volume transaksi
  • Momentum
  • Risk-reward ratio
  • Trading plan

Jika tren masih kuat dan muncul setup yang sesuai dengan trading plan, trader dapat mempertimbangkan peluang berdasarkan strategi yang telah ditetapkan.

Sebaliknya, jika harga sudah bergerak terlalu jauh dan risiko koreksi meningkat, menunggu kesempatan berikutnya juga merupakan bagian dari pengelolaan risiko.

 

Investor dan Trader Memiliki Pendekatan yang Berbeda

Pertanyaan “Apakah sekarang waktunya membeli?” tidak memiliki jawaban yang sama untuk setiap orang.

Jawabannya bergantung pada tujuan, jangka waktu, strategi, dan profil risiko masing-masing.

Bagi investor jangka panjang, kenaikan IHSG tidak otomatis berarti seluruh peluang investasi sudah berakhir. Jika fundamental aset masih sesuai dengan tujuan investasi dan valuasinya dapat diterima berdasarkan analisis yang dilakukan, investasi secara bertahap dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan.

Sementara itu, bagi trader, perhatian lebih banyak diarahkan pada peluang dari pergerakan harga. Selama terdapat momentum dan setup yang sesuai dengan trading plan, peluang dapat muncul.

Namun, trader juga perlu disiplin terhadap batas risiko dan menghindari keputusan membeli hanya karena takut ketinggalan atau FOMO (fear of missing out).

 

Jangan Hanya Fokus pada Arah IHSG

Keputusan membeli atau menjual saham bukan sekadar tentang memprediksi apakah pasar akan naik atau turun.

Bagi trader, disiplin menjalankan trading plan dan membatasi risiko ketika skenario tidak berjalan sesuai rencana merupakan bagian penting dari strategi.
Sementara bagi investor, perhatian dapat diarahkan pada kualitas aset, valuasi, diversifikasi, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi.

Dengan demikian, ketika IHSG mengalami kenaikan, investor tidak perlu terburu-buru mengejar harga. Sebaliknya, ketika pasar mengalami koreksi, investor juga tidak harus langsung mengambil keputusan hanya karena harga terlihat lebih murah.

Yang lebih penting adalah memiliki strategi yang terukur, memahami risiko, dan menjalankan rencana sesuai tujuan keuangan.

Pada akhirnya, investasi bukan sekadar tentang menebak apakah IHSG akan naik atau turun. Investasi adalah proses membuat keputusan berdasarkan informasi, menyesuaikannya dengan kondisi keuangan dan profil risiko, serta menjaga disiplin terhadap rencana yang telah dibuat.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumbe

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya
Investasi

7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya

11 September 2026

5.0
Kebiasaan Kecil yang Membuat Uang Cepat Habis Tapi Sering Tidak Disadari
Investasi

Kebiasaan Kecil yang Membuat Uang Cepat Habis Tapi Sering Tidak Disadari

24 Agustus 2026

5.0
Saat Nilai Investasi Tidak Stabil, Apa yang Perlu Anda Lakukan?
Investasi

Saat Nilai Investasi Tidak Stabil, Apa yang Perlu Anda Lakukan?

06 Agustus 2026

5.0
Tips Investasi untuk Karyawan Berpenghasilan UMR
Investasi

Tips Investasi untuk Karyawan Berpenghasilan UMR

25 Juli 2026

Berikan Pendapat Anda