Bursa saham Indonesia mengalami kenaikan 55.97% sejak April 2025, dari level 5.882 sampai menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah (all time high) di 9.174 pada Januari 2026. Namun pada 28 Januari 2026 IHSG dibuka gapdown (harga lompat turun) di level 8.393, di mana sehari sebelumnya ditutup di level 8.980.
Penurunan di atas 5% memicu trading halt di bursa saham. Trading halt adalah penghentian perdagangan sementara untuk seluruh aktivitas perdagangan. Tujuannya untuk menenangkan pasar, mencegah kepanikan dan memberi waktu buat investor mencerna informasi dan menyiapkan aksi apa yang akan diambil.

Pemicu Pasar Saham Jatuh
Apa yang sebenarnya memicu pasar saham sampai jatuh begitu dalam?
Pemicunya adalah MSCI yang membekukan evaluasi indeks saham Indonesia, termasuk penghentian penambahan saham baru dan perubahan bobot indeks. MSCI menilai kurangnya informasi transparansi data kepemilikan saham dan free float yang rendah. Free float adalah jumlah saham yang benar-benar bisa diperdagangkan publik. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada proses rebalancing Februari 2026.
MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks global dan menjadi standar klasifikasi pasar modal dunia. Indeks MSCI dipakai oleh manajer investasi global, dana pensiun dan Sovereign Wealth Fund, ETF dan reksadana asing, investor institusi serta pemerintah dan regulator. Mereka menggunakan MSCI sebagai acuan alokasi aset, tolok ukur kinerja, rebalancing berkala dan cerminan reputasi pasar.
Bursa Efek Indonesia menanggapi keputusan tersebut dengan mengeluarkan press release No:005/BEI.SPR/01-2026. BEI memahami masukan MSCI akan mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia. BEI telah melakukan sejumlah langkah perbaikan, termasuk meningkatkan keterbukaan data free float dengan mempublikasikannya melalui situs resmi BEI. Namun, MSCI menilai upaya tersebut masih belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran investor internasional.
29 Januari 2026 IHSG kembali dibuka gapdown dan jatuh di .bawah level 8000. Menyentuh level 74.81 dan kembali diberlakukan trading halt. Trading halt berturut-turut dalam 2 hari. Penurunan tajam kali ini dipicu sentimen Goldman Sachs menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight menyusul peringatan MSCI sehari sebelumnya. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi risiko Indonesia di mata global dan memicu aksi jual investor asing. Goldman Sachs memperkirakan dapat terjadi potensi outflow pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar sebagai dampak lanjutan dari kebijakan MSCI tersebut.
MSCI adalah acuan produk investasi global. Kalau saham Indonesia masuk atau bobotnya naik di MSCI, maka dana asing wajib beli saham Indonesia. Sebaliknya bila bobotnya diturunkan, maka dana asing harus jual. Oleh karena itu, MSCI berpengaruh.
Sedangkan Goldman Sachs adalah referensi investor global. Rekomendasinya dijadikan acuan fund manager, hedge fund dan investor institusi besar. Bila Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia, maka itu sinyal ke pasar bahwa resiko Indonesia meningkat.
Sentimen negatif MSCI dan penurunan rating Goldman Sachs menekan IHSG. Tekanan jual investor meningkatkan keluarnya arus modal asing yang berdampak pada pelemahan Rupiah. Rupiah melemah sampai level 16.976 per Januari 2026. Pada saat tulisan ini dibuat nilai tukar Rupiah berada di level 16.770. Rekomendasi Goldman Sachs umumnya berdampak besar pada saham perbankan besar dengan bobot indeks tinggi dan banyak dimiliki investor asing.
Sehingga saham dengan berkapitalisasi besar menerima efek terbesar karena bobotnya yang signifikan dalam indeks dan tingginya kepemilikan asing. Kondisi ini memicu volatilitas pasar dan resiko outflow bila sentimen terus berlangsung.
Sentimen ini menyoroti tantangan struktural yang sudah lama membayangi pasar modal kita. Salah satunya tentang free float dan dominasi pemegang saham pengendali pada banyak emiten yang membatasi likuiditas dan fleksibilitas investasi. Keterbatasan informasi data kepemilikan saham memicu ketidakpastian investor global.
Kejatuhan IHSG saat ini mencerminkan sentimen global memiliki peran besar di pasar saham Indonesia. Peringatan MSCI dan sentimen Goldman Sachs memperjelas masalahnya timbul dari persoalan struktural. Pemulihan kepercayaan investor bergantung pada tindakan dan langkah yang akan diambil regulator dan pemangku kepentingan dalam meningkatkan transparansi, likuiditas dan tata kelola pasar modal. Dengan perbaikan konsisten, peluang Indonesia masih terbuka untuk mempertahankan posisi sebagai pasar yang menarik untuk investor global.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda