Informasi Artikel

Dirilis

19 Oktober 2026

Penulis Artikel

Linda Lee


Tag


Akhir 2024, suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) berada di level 6%. Awal 2025, BI mulai menurunkan suku bunga secara bertahap.

Pada Juni 2025, BI-Rate turun menjadi 5,75%, kemudian kembali turun hingga mencapai 4,75% pada September 2025. Level 4,75% ini bertahan hingga April 2026. Arah kebijakan tersebut berubah ketika tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meningkat. 

Pada Mei 2026, Rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di Rp18.180 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi 5,25%, dan kemudian meningkat menjadi 5,75% pada Juni 2026. 

Hingga Agustus 2026, BI-Rate masih bertahan di level 5,75%. Bank Indonesia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus menjaga inflasi tetap dalam sasaran  

Artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun, kita melihat perubahan arah suku bunga yang cukup signifikan: dari 6% pada akhir 2024, turun hingga 4,75%, kemudian kembali naik menjadi 5,75%. 

 

Suku Bunga Ubah Daya Tarik Instrumen Investasi

Suku bunga mempengaruhi biaya pinjaman, daya tarik deposito dan obligasi, nilai tukar, hingga kondisi pasar saham. Suku bunga berkaitan dengan harga uang dan biaya pinjaman. 

Saat suku bunga tinggi, biaya meminjam uang juga ikut menjadi tinggi. Akibatnya, masyarakat jadi lebih berhati-hati kalau ingin mengambil pinjaman dan cicilan serta pengeluaran. Di sisi lain perusahaan juga harus membayar biaya pendanaan yang lebih tinggi, efeknya harus memikirkan kembali rencana investasi atau ekspansi. 

Bagi masyarakat dan pelaku pasar, investasi seperti deposito dan obligasi jadi lebih menarik karena menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif kompetitif. 
Suku bunga tinggi tidak berarti saham pasti menjadi investasi yang buruk. Lebih tepat dikatakan bahwa suku bunga mengubah daya tarik relatif berbagai instrumen investasi, sehingga investor perlu menyesuaikan pilihan dengan kondisi ekonomi dan tingkat risikonya. 

Jadi ketika suku bunga kembali tinggi, haruskah berhenti berinvestasi?”

 

Tiga Pertimbangan Pemilihan Instrumen Investasi

Strategi investasi tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor saja. Ketika suku bunga berubah, investor perlu kembali melihat risiko, potensi imbal hasil, jangka waktu investasi, dan diversifikasi portofolio sebelum mengambil keputusan. Dalam berinvestasi jangan hanya fokus menghitung return (imbal hasil) yang ditawarkan saja. 

Ada tiga hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam investasi: 

  1. Risiko
  2. Imbal hasil (return)
  3. Jangka waktu (time horizon)

Risiko adalah kisaran besaran nilai investasi mengalami penurunan. Return adalah potensi hasil yang diharapkan dari investasi Jangka waktu investasi adalah waktu sampai dana tersebut akan digunakan. 

Pemilihan instrumen investasi disesuaikan dengan jangka waktu sampai dana itu akan digunakan. Misalnya: 

  • Dana untuk kebutuhan 6–12 bulan sebaiknya tidak ditempatkan pada aset yang sangat fluktuatif karena waktunya terlalu singkat. 
  • Dana pendidikan anak yang akan digunakan 5–10 tahun lagi memiliki pilihan instrumen yang lebih beragam. 
  • Dana pensiun untuk 15–20 tahun mendatang memiliki waktu lebih panjang untuk menghadapi naik turunnya pasar. 

Return harus dilihat bersama risiko dan jangka waktu investasi. Jadi pemilihan instrumen investasi tidak hanya dilihat dari satu faktor namun juga ada faktor lain yang menjadi pertimbangan. 

 

Diversifikasi Investasi, Seimbangkan Potensi Risiko

Don’t put your eggs in one basket. Tujuan diversifikasi untuk mengurangi risiko investasi dengan tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen atau aset. 

Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Jika salah satu aset mengalami penurunan, aset lain yang berkinerja lebih baik dapat membantu menahan dampaknya terhadap keseluruhan portofolio. 

Bukan berarti dengan diversifikasi risikonya jadi hilang, justru diversifikasi membantu menciptakan keseimbangan antara risiko, potensi return, dan kebutuhan dana. 

  • Cash dan deposito dapat digunakan untuk kebutuhan jangka pendek dan menjaga likuiditas. 
  • Deposito, obligasi, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan return relatif stabil. 
  • Saham dan reksa dana saham dapat dipertimbangkan untuk pertumbuhan aset dalam jangka panjang. 

Komposisi investasi setiap orang berbeda karena dipengaruhi oleh tujuan, jangka waktu, profil risiko, dan kondisi keuangan. Anda sebagai investor juga perlu mempertimbangkan inflasi, pajak, likuiditas, serta jangka waktu penggunaan dana. Bila seluruh dana hanya ditempatkan pada instrumen berisiko rendah, pertumbuhan aset dalam jangka panjang berpotensi terbatas karena hasil investasi belum tentu mampu mengimbangi inflasi. Sebaliknya, menempatkan seluruh dana pada aset berisiko tinggi juga dapat menimbulkan fluktuasi yang tidak sesuai dengan risk profile dan tujuan keuangan. 

 

Suku Bunga Tinggi Bukan Tanda untuk Berhenti Berinvestasi

Suku bunga hari ini tidak selalu berada pada level yang sama. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kondisi seperti “suku bunga sedang tinggi” atau “IHSG sedang turun.” Diversifikasi membantu investor tetap memiliki strategi yang lebih seimbang dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi. Oleh sebab itu strategi yang lebih bijak adalah membagi dana ke beberapa instrumen sesuai tujuan, risiko, dan jangka waktu. Bukan memilih satu instrumen terbaik, tetapi membangun kombinasi instrumen yang sesuai.

Suku bunga tinggi bukan tanda untuk berhenti berinvestasi. Justru, ini saatnya menjadi lebih selektif. Bukan mengejar return tertinggi, tetapi mencari kombinasi risiko, return, jangka waktu dan diversifikasi yang sesuai dengan tujuan keuangan. Dengan strategi yang tepat, setiap kondisi ekonomi dapat menjadi bagian dari perjalanan membangun aset secara berkelanjutan.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Harga Saham Bisa Turun hingga Rp1: Apa Dampaknya bagi Investor?
Investasi

Harga Saham Bisa Turun hingga Rp1: Apa Dampaknya bagi Investor?

03 Oktober 2026

5.0
Investasi Saat Inflasi Tinggi: Instrumen Apa yang Aman?
Investasi

Investasi Saat Inflasi Tinggi: Instrumen Apa yang Aman?

30 September 2026

5.0
Mitos atau Fakta: Emas Tidak Selalu Naik Saat Krisis Ekonomi?
Investasi

Mitos atau Fakta: Emas Tidak Selalu Naik Saat Krisis Ekonomi?

23 September 2026

5.0
7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya
Investasi

7 Tips Memulai Investasi bagi Anak Muda: Modal Seadanya

11 September 2026

Berikan Pendapat Anda