Informasi Artikel

Dirilis

14 Oktober 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

SBN atau surat Berharga Negara merupakan salah satu instrumen investasi yang bisa dikategorikan sebagai instrumen yang rendah risikonya karena dijamin oleh negara. SBN ada yang bisa dibeli saat peluncuran atau pasar perdana, ada juga yang bisa dibeli melalui mekanisme pasar sekunder.

Ketika kita membeli SBN Indonesia, artinya kita memberikan utang kepada Negara Republik Indonesia yang mana kita akan menerima imbal hasil berupa kupon yang dibayarkan setiap bulan. Ada beberapa jenis SBN yang memberikan kupon setiap enam bulan.

Khusus untuk pembelian SBN melalui pasa sekunder. Ada mekanisme harga pasar. Harga pasar bisa menjadi lebih murah (diskon) dan bisa menjadi lebih mahal (premium). Karena ada perbedaan harga tersebut, maka imbal hasil aktual yang diterima investor bisa lebih besar dari kupon bisa juga lebih kecil dari kupon. Imbal hasil aktual tersebut disebut dengan yield, lebih tepatnya yield obligasi. 

 

Apa Itu Yield dan Kenapa Bisa Naik?

Yield adalah tingkat imbal hasil efektif yang diterima investor dari sebuah obligasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN). Yield berbeda dengan kupon (bunga tetap yang tertulis saat penerbitan) karena yield bergerak mengikuti harga pasar. Ketika harga obligasi turun di pasar sekunder, maka yield akan naik dan begitu juga sebaliknya.
 

Per pertengahan September 2026, imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di level 7,17%, naik dari sekitar 6,96% di akhir Agustus. Kenaikan ini dipicu beberapa faktor, yakni pelebaran defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar 3,3% terhadap PDB pada kuartal II 2026, kebutuhan pembiayaan fiskal dalam negeri yang besar, serta rupiah yang masih sensitif terhadap dolar AS. Tekanan global juga berperan seperti  yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,01%, level tertinggi sejak 2007 dikarenakan suku bunga the Fed AS juga meningkat.

 

Peluang buat Investor Pemula


 

1. Kupon lebih tinggi untuk penerbitan baru

Saat yield naik, pemerintah biasanya menetapkan kupon SBN ritel baru lebih tinggi agar tetap kompetitif. Sebagai contoh, penawaran SR025-T3 menawarkan kupon 6,8% dan SR025-T5 sebesar 6,9% per tahun, angka ini jauh di atas rata-rata bunga deposito bank umum.

 

2. Entry point lebih menguntungkan di pasar sekunder. 

Buat yang membeli obligasi existing di harga diskon (karena yield naik = harga turun), potensi capital gain terbuka ketika yield kembali turun di masa depan.

 

3. Pilihan instrumen kian beragam. 

Terdapat SBR015 yang dijadwalkan ditawarkan 28 September - 22 Oktober 2026, memberi kesempatan baru bagi pemula untuk masuk dengan kupon mengambang yang biasanya disesuaikan dengan BI Rate (saat ini bertahan di 5,75%). 

 

Beberapa Risiko yang Perlu Diwaspadai


 

1. Risiko harga (market risk) bila dijual sebelum jatuh tempo. 

Ini hal yang sering diabaikan oleh investor pemula. Jika Anda beli SBN di pasar sekunder lalu yield naik lebih lanjut, harga jual obligasi bisa turun dan Anda berpotensi rugi bila terpaksa menjual sebelum jatuh tempo.

 

2. Volatilitas belum tentu selesai. 

Data terbaru menunjukkan yield SBN sempat naik-turun tajam hanya dalam hitungan hari dari 7,229% ke 7,102% lalu kembali ke atas 7,15% dalam waktu kurang dari tiga minggu. Artinya, arah pasar masih fluktuatif dan sulit ditebak dalam jangka pendek.

 

3. Risiko eksternal masih membayangi. 

Kombinasi yield US Treasury di atas 5% dan harga minyak yang tinggi memperbesar risiko suku bunga global yang lebih tinggi, yang bisa ikut menyeret yield SBN naik lebih jauh.

Contoh Perhitungan Sederhana

Skenario 1: Beli SBN Ritel baru (hold to maturity)

Misalnya Anda investasi Rp10.000.000 di SR025 - T3 dengan kupon 6,8% per tahun, maka:

  • Kupon bulanan kotor = Rp10.000.000 × 6,8% ÷ 12 = Rp56.667
  • Setelah pajak kupon 10% = Rp51.000/bulan
  • Selama 3 tahun (36 bulan) = sekitar Rp1.836.000, di luar pokok kembali utuh di akhir tenor.

Karena SBN ritel biasanya dipegang hingga jatuh tempo (tidak diperdagangkan bebas seperti SUN/ORI di pasar sekunder), risiko harga di sini relatif minim, sehingga cocok untuk pemula yang ingin arus kas pasti.

Skenario 2: Beli obligasi di pasar sekunder (bisa jual beli lebih agresif)

Di sini risiko harga menjadi lebih terasa. Sebagai gambaran, hubungan antara perubahan yield dan harga obligasi bisa didekati dengan rumus:

Perubahan Harga (%) ≈ −Durasi × perubahan yield

Jika obligasi punya durasi sekitar 7 tahun, dan yield naik 1% (100 bps), maka harga obligasi tersebut bisa turun sekitar 7%. Artinya, obligasi senilai Rp10.000.000 berpotensi turun nilainya menjadi sekitar Rp9.300.000 di atas kertas (floating loss) meski Anda tetap menerima kupon dan pokok penuh jika dipegang sampai jatuh tempo. Artinya jika Anda menjualnya saat ini, artinya nilai obligasi Rp 10.000.000 dihargai market Rp 9.300.000. 

Pelajaran dari dua skenario ini adalah  semakin panjang tenor dan semakin sering diperdagangkan, semakin besar sensitivitas harga terhadap perubahan yield. Sedangkan bila Anda memegang obligasi hingga jatuh tempo, harga obligasi kembali ke harga dasar dan tidak perlu khawatir.

 

Mana yang cocok untuk pemula?

Untuk pemula, tiga prinsip ini bisa jadi pegangan:

  1. Kenali tujuan dan time horizon. Kalau dana ini tidak akan dipakai dalam waktu dekat, beli-dan-tahan (hold to maturity) di SBN ritel jauh lebih aman daripada trading di pasar sekunder.
  2. Jangan taruh semua di satu instrumen. Kombinasikan SBN dengan reksa dana pasar uang untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek.
  3. Masuk bertahap, bukan sekaligus, terutama bila yield masih berpotensi naik lagi ke depan dan hindari all-in pada satu harga dengan menebak ini sudah berada pada titik terendah.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
7 Kesalahan Investasi yang Sering Dilakukan Pemula, Kenali Sebelum Terlambat
Investasi

7 Kesalahan Investasi yang Sering Dilakukan Pemula, Kenali Sebelum Terlambat

28 Agustus 2026

5.0
Kapan Sebaiknya Menjual Emas? Ini Cara Mempertimbangkan Waktu yang Tepat
Investasi

Kapan Sebaiknya Menjual Emas? Ini Cara Mempertimbangkan Waktu yang Tepat

19 Agustus 2026

Premium sparkles
4.0
Saham Sebagai Mas Kawin dan Seserahan Pernikahan di Era Modern
Artikel Ahli
Investasi

Saham Sebagai Mas Kawin dan Seserahan Pernikahan di Era Modern

03 Maret 2026

5.0
Panduan Lengkap Cairkan Saldo BPJS Ketenagakerjaan
Investasi

Panduan Lengkap Cairkan Saldo BPJS Ketenagakerjaan

15 Desember 2025

Berikan Pendapat Anda