Sebuah video TikTok viral di pertengahan 2022, menampilkan seorang pemuda berkata tenang di depan kamera: "Kamu tidak harus resign untuk berhenti dari pekerjaan. Kamu cukup… berhenti melampaui ekspektasi." Jutaan penonton setuju dan lahirlah Quiet quitting.
Di satu sisi, fenomena ini terasa seperti tindakan masuk akal agar hidup lebih seimbang, menolak hustle culture yang memuja lembur tanpa batas. Di sisi lain, ketika dilihat dari kacamata keuangan pribadi dan karier jangka panjang, sebenarnya ada harga yang diam-diam harus dibayar.
Quiet quitting bukan berarti resign secara diam-diam. Ini adalah kondisi di mana seorang karyawan memilih untuk hanya menjalankan tugas minimum sesuai kontrak kerja. Tidak ada inisiatif ekstra, tidak ada lembur sukarela, dan tidak ada keterlibatan emosional terhadap visi perusahaan.
Umumnya mereka yang Quiet Quitting memiliki ciri-ciri seperti pulang tepat jam kantor selesai ("pulang tenggo"), tidak merespons pesan di luar jam kerja, pasif dalam rapat, tidak tertarik mengambil proyek baru, dan tidak mengejar promosi. Bukan malas tapi sengaja membatasi diri.
Jika ditarik mundur ke belakang, tren Quiet quitting bukan muncul tiba-tiba tetapi ada latar belakang sistemis yang mendorongnya, menurut data Gallup State of Global Workplace Report tahun 2022 dan 2023 menyatakan bahwa 59% karyawan global dalam kondisi quiet quitting (Gallup, 2023), 68% karyawan Asia Tenggara masuk kategori quiet quitting (Gallup, 2023), 24% pekerja Indonesia yang benar-benar engaged di pekerjaan mereka (Gallup, 2022)
Dari riset-riset tersebut, ditarik garis merah beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:

1. Pasca-pandemi
Pandemi COVID-19 mengubah batas antara kerja dan kehidupan pribadi secara drastis. Work from home membuat banyak karyawan bekerja lebih lama dari sebelumnya tanpa kompensasi tambahan. Kelelahan menjadi norma, bukan pengecualian.
2. Hustle culture yang tidak adil
Budaya kerja keras menjanjikan kesuksesan. Tapi ketika karyawan melihat bahwa 110% usaha dihargai sama dengan 100% usaha, perlawanan secara pasif dilakukan oleh karyawan.
3. Kurangnya apresiasi dan pengembangan karier
Menurut penelitian di Indonesia, karyawan Gen Z meninggalkan semangat mereka ketika tidak ada jalur karir yang jelas, tidak ada pengakuan atas kontribusi, atau lingkungan kerja yang toksik.
4. Pergeseran nilai generasi
Survei menunjukkan 71% pekerja Gen Z Indonesia menempatkan work-life balance sebagai prioritas nomor satu, dan 65% menilai kesehatan mental lebih penting dari promosi jabatan (TumaKarir, 2025).
5. Gelombang resign pasca pandemic
Gelombang pengunduran diri massal pasca-pandemi membuat banyak yang tidak berani keluar namun tetap ingin "keluar" secara emosional. Quiet quitting adalah jalan tengahnya.
Dampaknya ke Karier dan Keuangan Pribadi dan Keluarga
Inilah bagian yang sering luput dari percakapan tentang quiet quitting yaitu ada biaya dalam jangka panjang walaupun sesaat masih terasa aman dan tenang. Dampak dalam jangka panjang tersebut antara lain:
a. Stagnasi gaji dan karir yang tidak berkembang
Kenaikan gaji dan bonus biasanya diberikan pada karyawan dengan kinerja menonjol. Quiet quitter cenderung mendapatkan kenaikan gaji minimum atau bahkan tidak sama sekali. Begitupun dengan promosi jabatan yang sering kali mensyaratkan banyak inisiatif dan kontribusi ekstra.
b. Risiko PHK atau pemutusan kontrak kerja
Ketika perusahaan melakukan efisiensi, karyawan dengan performa minimum menjadi kandidat pertama yang masuk daftar pengurangan.
c. Skill tidak berkembang
Dengan menghindari proyek-proyek menantang, karyawan kehilangan kesempatan membangun keahlian baru. Dalam 3–5 tahun, kesenjangan kompetensi ini nyata terasa.
d. Jaringan profesional lemah
Keterlibatan rendah dalam tim dan proyek berarti lebih sedikit koneksi yang dibangun menjadi modal penting dalam karir jangka panjang. Ketika akhirnya memutuskan pindah kerja, portofolio yang kurang dan minimnya pencapaian membuat negosiasi gaji menjadi sulit.

Bagaimana cara mengatasinya fenomena quiet Quitting ini?
Quiet quitting seringkali jadi sinyal bahwa ada individu maupun ekosistem yang belum berjalan dengan baik. Sehingga, pendekatannya pun harus dua arah yaitu dari dalam diri sendiri dan dari lingkungan sekitar.
Pendekatan yang bisa dilakukan secara personal, dimulai dari mempertajam motivasi diri sendiri, apakah perasaan burnout ini sementara atau sebuah ketidakcocokan yang fundamental. Temukan tujuan hidup dan bekerja di luar dari mendapatkan penghasilan, misalnya ingin mengasah skill dan memperkaya pengalaman. Kemudian, beri batasan sejauh mana kita mengatakan ya pada pekerjaan jangan sampai mengerjakan di luar kesepakatan yang bahkan mengancam kesehatan misalnya lembur yang tidak mengenal waktu. Tidak lupa untuk komunikasi terbuka dengan atasan terkait dengan hambatan yang dirasakan.
Dari segi financial planning, coba investasi pada diri sendiri di luar jam kerja dan membangun portofolio yang bisa mendukung karir di masa mendatang. Serta bangun financial planning yang baik seperti dana darurat, proteksi di luar asuransi dari kantor, dan investasi untuk masa depan.
Perbaikan dari sisi perusahaan dan ekosistem tempat bekerja terkait fenomena quiet quitting bisa dimulai dari atasan dan manajerial yang menciptakan ruang kerja yang sehat, memberikan feedback kepada karyawan yang konstruktif, memastikan benefit perusahaan (kompensasi dan pengembangan diri) dilakukan dengan baik.
Bagi HR dan perusahaan bisa memberikan program employee wellness untuk memastikan karyawan sehat secara fisik, mental serta finansial. Sesekali mengadakan team building agar kedekatan dengan rekan kerja bisa membangun budaya saling mendukung dan berbagi apresiasi.
Quiet quitting bisa jadi titik istirahat yang diperlukan tapi tidak seharusnya menjadi titik akhir. Setiap tugas yang diselesaikan dengan sungguh-sungguh, setiap proyek yang dikerjakan melampaui ekspektasi minimum, setiap keahlian yang diasah di sela-sela rutinitas, semuanya akan menjadi modal yang tidak kelihatan, tapi sangat nyata nilainya.
Apa pun yang dikerjakan hari ini sebenarnya bukan hanya untuk perusahaan, melainkan untuk investasi diri sendiri. Setiap masalah yang diselesaikan dan setiap tanggung jawab ekstra yang diambil adalah "modal" membangun portofolio pengalaman diri.
Kesempatan besar sering kali tidak datang melalui pengumuman resmi, melainkan melalui pintu-pintu yang terbuka karena orang lain melihat dedikasi dan kualitas kerja seseorang.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda