Informasi Artikel

Dirilis

19 Juni 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belakangan ini menjadi tantangan nyata terhadap pengelolaan keuangan keluarga. Bagi kita profesional yang aktivitas bekerja dengan tempat tinggal yang jauh, ongkos transportasi harian bisa memakan porsi yang semakin besar dari pendapatan bulanan.

Di tengah kondisi ini, melakukan audit pengeluaran transportasi menjadi langkah krusial. Namun, efisiensi biaya tentu tidak boleh mengorbankan aspek mendasar lainnya, yaitu keamanan dan kenyamanan.

Sebelum melakukan efisiensi pos transportasi, ada baiknya apabila kita mengetahui berapa angka atau biaya yang dikeluarkan untuk transportasi setiap bulannya. 

Sebagian orang tahu bahwa mereka merasa boros di transportasi setiap bulannya, tetapi tidak tahu persisnya berapa. Coba catat pengeluaran transportasi selama satu bulan penuh, seperti untuk BBM, tol, parkir, ojek online, hingga servis kendaraan.

Idealnya, pos transportasi berada di kisaran 10–15% dari penghasilan bersih bulanan. Jika sudah melampaui angka itu, terutama setelah kenaikan harga BBM, maka sudah saatnya melakukan evaluasi serius. 

 

Ilustrasi Perbandingan Biaya Mobilisasi Pekerja

Seorang pekerja tinggal di BSD, berkantor di Palmerah. Asumsi jarak rumah dengan kantor adalah 22km selama 22 hari bekerja per bulan. Tabel di bawah ini menunjukkan perbandingan biaya mobilisasi dengan menggunakan mobil pribadi, motor pribadi dan transportasi umum: 

Potensi penghematan jika menggunakan transportasi umum dibanding mobil pribadi lebih dari 60%nya, sekitar Rp2.000.000 per bulan atau Rp24.000.000 per tahun,

 

Analisis Perbandingan Biaya, Keamanan, dan Kenyamanan

Untuk mengambil keputusan yang bijak, kita akan menyeimbangkan faktor finansial dengan kualitas hidup selama di perjalanan.

 

1. Aspek keamanan 

  • Motor pribadi merupakan risiko paling tinggi. Pengendara motor menghadapi risiko kecelakaan lalu lintas tertinggi, paparan polusi udara radikal, serta risiko cuaca buruk (hujan deras/banjir). Pada studi kasus di atas (pekerja dari BSD yang bekerja di Palmerah), jalur arteri dari Tangerang - Jakarta dan sebaliknya memiliki kepadatan lalu lintas yang tinggi.
  • Mobil pribadi lebih aman secara fisik. Pada studi kasus tersebut, mobil memberikan perlindungan fisik terbaik dari benturan luar dan cuaca. Tetapi, risiko kelelahan (fatigue) akibat mengemudi di tengah kemacetan berjam-jam dapat menurunkan refleks dan meningkatkan risiko senggolan di jalan. Serta berkendara dengan menggunakan mobil memiliki waktu yang relatif lebih lama dikarenakan macet.
  • Transportasi publik & ojek online:
  1. KRL/MRT/LRT termasuk sarana mobilitas dengan tingkat keselamatan yang lebih tinggi. Stasiun dan gerbong modern kini dilengkapi CCTV 24 jam serta petugas pengamanan yang cukup responsif. Terdapat juga Gerbong Khusus Wanita (GKW) untuk menjamin keamanan dari pelecehan.
  2. Ojek online, perjalanan first-mile dan last-mile bisa terlindungi oleh fitur pelacakan GPS secara real-time, identitas pengemudi yang terverifikasi, serta jaminan asuransi keselamatan otomatis dari penyedia layanan.


 

2. Aspek kenyamanan 

  • Mobil pribadi memberikan kenyamanan paling tinggi. Kita mendapatkan ruang privat, AC, dan musik pilihan. Namun, kenyamanan ini sering kali sirna oleh stres akibat kemacetan di jalan. Dari contoh kasus di atas, jika berkendara menggunakan mobil pribadi, kita melewati Tol Jakarta-Serpong atau Tol Dalam Kota yang tidak dapat diprediksi. Waktu tempuh bisa membengkak hingga 1,5 – 2 jam sekali jalan.
  • Motor pribadi memberikan kualitas berkendara dengan tingkat risiko paling tinggi. Motor pribadi menuntut konsentrasi penuh dan fisik yang prima. Tingkat stres dan kelelahan sangat tinggi setibanya di kantor atau rumah.
  • Transportasi publik terintegrasi, memiliki keunggulan sebagai berikut:
  1. Kepastian waktu. Dari studi di atas, KRL Serpong-Palmerah berjalan di jalur steril dengan waktu tempuh yang konsisten (25–30 menit). Anda terbebas dari stres kemacetan jalan raya.
  2. Hemat energi dibanding dengan menyetir. Daripada menghabiskan energi untuk mengemudi, di dalam kereta atau MRT, kita bisa memanfaatkan waktu untuk bekerja (membalas email), membaca buku, atau sekadar beristirahat agar tiba di kantor dalam kondisi segar.
  3. Tantangan karena kepadatan (crowded) pada jam sibuk masuk kerja (07.00–08.00) dan pulang kerja (17.00–18.30). Namun, hal ini bisa disiasati dengan bergeser 30 menit lebih awal dari jadwal biasanya.


 

Strategi Mobilisasi di Era Kenaikan Harga BBM

Berdasarkan studi kasus di atas serta mempertimbangkan aspek kenyaman dan keamanan, penggabungan penggunaan kendaraan pribadi dengan transportasi umum bisa jadi strategi paling optimal di era tren kenaikan harga BBM dan minyak dunia ini.

Berikut beberapa hal yang bisa diterapkan:

 

a.    Gabungan penggunaan antara kendaraan pribadi dan transportasi umum

Jika enggan menggunakan ojek online dari rumah, Anda bisa mengendarai motor/mobil pribadi dari rumah dan menitipkannya di fasilitas Park & Ride Stasiun terdekat dengan tarif flat yang murah, lalu melanjutkan perjalanan dengan KRL.

 

b.    Manfaatkan fitur langganan taksi online

Tekan biaya ojek online penyambung stasiun-kantor dengan membeli paket voucher perjalanan bulanan yang menyediakan potongan berkisar 20%–30%. 

 

c.    Evaluasi kepemilikan kendaraan

Apakah kendaraan yang saat ini kita miliki sudah efisien secara finansial? Misalnya kendaraan tua yang boros konsumsi BBM dan sering masuk bengkel, atau kendaraan dengan kapasitas CC mesin besar padahal lebih banyak digunakan untuk mobilitas dari rumah ke kantor. Dalam konteks, personal finance kadang mengganti kendaraan bisa menjadi lebih irit atau justru menjualnya sama sekali dan beralih menggunakan moda transportasi umum secara penuh. Contoh: mengganti kendaraan usia > 5 tahun atau dan kapasitas cc mesin besar menjadi city car (mobil kecil) dan berbasis listrik.

Penggunaan transportasi umum bisa jadi pilihan paling optimal bagi Anda yang berkantor dan tempat tinggalnya dekat dengan area stasiun MRT/KRL/LRT, jadwal berangkat dan pulang relatif tetap, dan tidak perlu membawa banyak barang. Ini juga bisa jadi pilihan bijak bagi yang sedang aktif membangun tabungan atau investasi.

Di sisi lain, kendaraan pribadi masih lebih masuk akal jika kantor jauh dari jaringan rel, ada kewajiban antar jemput anak di jam tidak fleksibel, atau pekerjaan menuntut mobilitas tinggi yang tidak terprediksi.

Mengubah kebiasaan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum memang memerlukan adaptasi gaya hidup. Namun, mempertimbangkan integrasi moda transportasi Jabodetabek yang makin aman dan teratur, beralih ke KRL/MRT/LRT bisa jadi pilihan cerdas untuk menghemat biaya transportasi. Efisiensi ini dapat mempercepat tercapainya tujuan keuangan sekaligus meningkatkan kualitas waktu dan kesehatan mental.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari
Tabungan

Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari

18 Mei 2026

5.0
Kontrol Pengeluaran Gaya Hidup: Cara Bijak Tidak Terjebak Doom Spending
Tabungan

Kontrol Pengeluaran Gaya Hidup: Cara Bijak Tidak Terjebak Doom Spending

14 Mei 2026

5.0
6 Tips Menabung untuk Liburan Sekolah Anak Tanpa Ganggu Keuangan
Tabungan

6 Tips Menabung untuk Liburan Sekolah Anak Tanpa Ganggu Keuangan

06 Mei 2026

5.0
Strategi Menabung Otomatis Setiap Bulan untuk Karyawan Kantoran
Tabungan

Strategi Menabung Otomatis Setiap Bulan untuk Karyawan Kantoran

22 April 2026

Berikan Pendapat Anda

0 dari 100 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS