Informasi Artikel

Dirilis

04 November 2026

Penulis Artikel

Anastasia Ekachandra


Tag

Banyak keluarga muda sebenarnya sudah punya niat baik untuk menabung sejak awal berumah tangga. Tapi anehnya, meski sudah berusaha, tabungan tetap terasa jalan di tempat, bahkan kadang malah terkuras habis di tengah bulan. Kalau Anda pernah merasakan hal ini, tenang, kemungkinan besar bukan soal niat yang kurang, melainkan ada beberapa kebiasaan keliru yang selama ini tidak disadari.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi keuangan pada kelompok usia 26-35 tahun sudah mencapai 74,04%, cukup tinggi sebenarnya. Namun tingginya pengetahuan ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kebiasaan menabung yang benar-benar konsisten dijalankan.

Baca juga: 5 Kesalahan yang Membuat Tabungan Tidak Bertambah

 

6 Kesalahan Menabung yang Sering Terjadi pada Keluarga Muda

Yuk, kenali apa saja kesalahan menabung yang paling sering terjadi pada keluarga muda, sekaligus cara memperbaikinya!

 

1. Menabung dari Sisa, Bukan dari Awal

Banyak keluarga muda menganggap menabung bisa dilakukan setelah semua kebutuhan bulanan terpenuhi. Padahal, kalau menunggu sisa, biasanya yang tersisa di akhir bulan justru sangat kecil, bahkan tidak jarang tidak ada sisa sama sekali.

Cara memperbaikinya:
Balik logikanya, sisihkan dulu untuk tabungan begitu gajian, baru sisanya digunakan untuk kebutuhan lain. Cara ini jauh lebih efektif dibanding menunggu ada sisa uang di akhir bulan.

 

2. Tidak Punya Rekening Terpisah untuk Tabungan

Menyimpan tabungan di rekening yang sama dengan rekening transaksi harian membuat uang tersebut sangat mudah "tergoda" untuk dipakai, apalagi saat melihat saldo yang terlihat besar di aplikasi.

Cara memperbaikinya:
Buat rekening terpisah khusus untuk tabungan, dan jika perlu, jangan pasang kartu debit atau aplikasi mobile banking untuk rekening tersebut, agar tidak mudah diakses untuk transaksi harian.

 

3. Tidak Punya Tujuan Menabung yang Jelas

Menabung tanpa tujuan yang spesifik membuat uang yang sudah disisihkan jadi lebih mudah diambil kembali begitu ada kebutuhan mendadak yang sebenarnya bukan darurat sejati.

Cara memperbaikinya:
Tentukan tujuan konkret untuk setiap pos tabungan, misalnya dana darurat, dana pendidikan anak, atau dana liburan tahunan, lengkap dengan target nominal dan waktunya.

 

4. Sering Tergoda Promo dan Penggunaan Kartu Kredit Berlebihan

Godaan diskon dan promo kartu kredit, terutama di tanggal gajian, sering membuat keluarga muda berbelanja lebih dari yang direncanakan, sehingga alokasi untuk menabung ikut terganggu.

Cara memperbaikinya:
Batasi penggunaan kartu kredit hanya untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan, dan hindari mengaktifkan notifikasi promo yang justru memicu belanja impulsif.

 

5. Tidak Mencatat Pengeluaran Kecil

Banyak keluarga merasa sudah hafal pengeluaran bulanan tanpa perlu dicatat. Padahal, pengeluaran kecil seperti jajan atau parkir yang tidak tercatat, jika diakumulasi dalam sebulan, bisa mencapai 10-15% dari total pendapatan.

Cara memperbaikinya:
Biasakan mencatat pengeluaran secara rutin, meski hanya lewat aplikasi sederhana di ponsel, agar kebocoran kecil bisa segera terdeteksi dan diperbaiki.

 

6. Menunda Menabung karena Merasa Penghasilan Masih Kecil

Anggapan "nanti saja kalau gaji sudah lebih besar" justru menjadi jebakan paling umum. Menunda menabung berarti menunda kesiapan menghadapi kondisi darurat yang bisa datang kapan saja.

Cara memperbaikinya:
Mulai dari nominal kecil yang konsisten lebih baik dibanding menunggu penghasilan besar. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan disiplin sejak sekarang, bukan menunggu momen yang dianggap "lebih siap".

Baca juga: 7 Kesalahan Investasi yang Sering Dilakukan Pemula, Kenali Sebelum Terlambat

 

Kenapa Kebiasaan Ini Sulit Diubah?

Penelitian di bidang ekonomi perilaku menemukan bahwa kegagalan menabung sering kali bukan soal kurangnya pengetahuan, melainkan soal kesulitan mengendalikan diri saat menghadapi godaan belanja di depan mata. Pembelian impulsif cenderung dipicu oleh dorongan emosional sesaat yang mengalahkan rencana rasional yang sudah disusun sebelumnya. Ini menjelaskan kenapa banyak orang yang sebenarnya tahu pentingnya menabung, tetap kesulitan menjalankannya secara konsisten.

 

Penutup

Kesalahan menabung pada keluarga muda umumnya bukan soal besar kecilnya penghasilan, melainkan soal kebiasaan dan sistem yang belum tepat. Dengan menyisihkan uang di awal, memisahkan rekening tabungan, menentukan tujuan yang jelas, serta disiplin mencatat pengeluaran, tabungan keluarga bisa mulai terkumpul secara nyata, bukan sekadar niat yang berulang setiap bulan tanpa hasil.

Jika masih memiliki pertanyaan tekait informasi keuangan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahlinya melalui fitur Tanya Ahli dan untuk mendapatkan saran yang tepat. Dengan mendaftar di daya.id, seluruh informasi terkait keuangan dapat diakses dengan gratis dan mudah. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi dan daftarkan diri Anda di daya.id sekarang juga!

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Uang Bikin Ribut? Ini Cara Pasangan Muda Bebas dari Drama Keuangan
Tabungan

Uang Bikin Ribut? Ini Cara Pasangan Muda Bebas dari Drama Keuangan

15 Oktober 2026

5.0
5 Cara Mengatur Keuangan Suami Istri Bekerja
Tabungan

5 Cara Mengatur Keuangan Suami Istri Bekerja

13 Oktober 2026

5.0
Baru Menikah dan Gaji Habis Tanpa Jejak? Coba Metode Amplop
Tabungan

Baru Menikah dan Gaji Habis Tanpa Jejak? Coba Metode Amplop

06 Oktober 2026

5.0
ETF Emas Resmi Melantai di BEI, Apa Keuntungan dan Risikonya?
Artikel Ahli
Tabungan

ETF Emas Resmi Melantai di BEI, Apa Keuntungan dan Risikonya?

30 September 2026

Berikan Pendapat Anda