Informasi Artikel

Dirilis

23 September 2026

Penulis Artikel

Qodri Perdana


Tag

Pernahkah Anda membuka aplikasi e-commerce hanya untuk melihat-lihat, tetapi tanpa sadar tiba-tiba melakukan checkout barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan? Atau merasa ingin membeli sepatu baru hanya karena warnanya terlihat menarik di layar ponsel?

Jika pernah mengalaminya, Anda mungkin sedang melakukan impulse buying atau pembelian impulsif.

Baca Juga: Belanja Impulsif Sulit Dihentikan? Ini 5 Cara Menguranginya

Fenomena ini semakin mudah terjadi di era digital. Kemudahan transaksi, berbagai promo, iklan yang dipersonalisasi, serta konten media sosial dapat membuat seseorang terdorong membeli sesuatu secara spontan.

Namun, kebiasaan belanja impulsif bukan berarti tidak bisa diubah. Salah satu pendekatan yang dapat dicoba adalah mindful buying, yaitu kebiasaan berbelanja secara lebih sadar dan penuh pertimbangan.

Baca Juga: Cash Stuffing, Tren Keuangan yang Bisa Menyembuhkan Impulse Buying

Mindful buying bukan berarti harus berhenti menikmati hasil kerja keras atau melarang diri membeli barang yang disukai. Konsep ini lebih menekankan pada kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memastikan setiap pembelian memiliki alasan yang jelas.

Lantas, bagaimana cara menerapkan mindful buying dalam kehidupan sehari-hari?

 

1. Terapkan Aturan Jeda 72 Jam

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi pembelian impulsif adalah memberikan jeda sebelum membeli barang yang tidak mendesak.
Ketika melihat barang yang menarik, jangan langsung melakukan checkout. Masukkan barang tersebut ke dalam keranjang atau daftar keinginan, kemudian tutup aplikasi.

Cobalah menunggu selama 72 jam atau tiga hari sebelum membuat keputusan.

Jeda ini memberi kesempatan kepada Anda untuk mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena dorongan sesaat.

Setelah beberapa hari, Anda mungkin menyadari bahwa keinginan membeli sudah berkurang. Jika masih ingin membelinya, pertimbangkan kembali manfaat, harga, dan kondisi keuangan sebelum melakukan transaksi.

Untuk barang dengan harga yang lebih mahal, Anda bahkan dapat menerapkan waktu tunggu yang lebih panjang, misalnya satu minggu atau satu bulan.

 

2. Jangan Hanya Bertanya, "Apakah Saya Suka?"

Pertanyaan seperti "Apakah saya suka barang ini?" hampir selalu mudah dijawab dengan "ya", terutama ketika barang tersebut memang terlihat menarik.
Agar keputusan lebih objektif, ubah pertanyaan tersebut menjadi:

"Apa fungsi barang ini dalam kehidupan saya?"

Anda juga bisa bertanya:

  • Masalah apa yang diselesaikan oleh barang ini?
  • Seberapa sering saya akan menggunakannya?
  • Apakah saya sudah memiliki barang dengan fungsi yang sama?
  • Apakah saya membutuhkan barang ini sekarang?
  • Apakah pembelian ini sesuai dengan anggaran saya?

Jika satu-satunya alasan membeli adalah karena sedang diskon, ingin mengikuti tren, atau ingin terlihat keren di media sosial, sebaiknya beri diri Anda waktu untuk berpikir kembali.

Diskon bukan berarti menghemat uang jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

 

3. Hitung Biaya Per Penggunaan atau Cost per Use

Harga murah tidak selalu berarti lebih hemat. Sebaliknya, barang dengan harga lebih mahal juga belum tentu merupakan pemborosan jika benar-benar sering digunakan dan memiliki manfaat yang sesuai.

Salah satu cara mempertimbangkannya adalah dengan menggunakan konsep cost per use atau biaya per penggunaan.

Secara sederhana:
Cost per Use = Harga Barang ÷ Perkiraan Jumlah Penggunaan

Misalnya, Anda membeli jaket seharga Rp600.000 dan memperkirakan akan menggunakannya sebanyak 120 kali.

Maka:
Rp600.000 ÷ 120 = Rp5.000 per penggunaan

Sementara itu, barang seharga Rp200.000 yang hanya digunakan satu kali memiliki biaya Rp200.000 per penggunaan.

Perhitungan ini memang bukan satu-satunya cara menentukan apakah suatu barang layak dibeli. Namun, konsep tersebut dapat membantu Anda melihat nilai barang berdasarkan manfaat dan frekuensi penggunaannya, bukan hanya berdasarkan harga di label.

 

4. Kurangi Pemicu Belanja di Ruang Digital

Kebiasaan belanja tidak hanya dipengaruhi oleh niat pribadi, tetapi juga oleh lingkungan tempat kita beraktivitas.

Di ruang digital, kita dapat terus-menerus melihat iklan, promo, rekomendasi produk, konten belanja, dan berbagai penawaran yang dirancang untuk menarik perhatian.

Karena itu, salah satu cara menerapkan mindful buying adalah mengurangi paparan terhadap pemicu belanja yang tidak diperlukan.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Matikan notifikasi promosi dari aplikasi belanja.
  • Berhenti berlangganan newsletter diskon yang jarang dibutuhkan.
  • Berhenti mengikuti akun yang membuat Anda terus terdorong berbelanja.
  • Hapus aplikasi belanja yang jarang digunakan jika memang diperlukan.
  • Hindari membuka marketplace ketika sedang bosan atau sekadar ingin melihat-lihat.

Tujuannya bukan menghindari teknologi sepenuhnya, melainkan menciptakan lingkungan digital yang membuat Anda lebih mudah mengendalikan keputusan belanja.

 

Mindful Buying Membantu Belanja Lebih Sadar

Mindful buying bukan tentang melarang diri membeli barang yang disukai. Sebaliknya, kebiasaan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak sebelum membeli dan memahami alasan di balik keputusan tersebut.

Ketika muncul keinginan untuk checkout, berikan waktu untuk bertanya:

Apakah saya membutuhkan barang ini, atau hanya menginginkannya karena dorongan sesaat?

Dengan memberikan jeda, mempertimbangkan fungsi barang, menghitung manfaat penggunaannya, dan mengurangi paparan terhadap pemicu belanja, keputusan pembelian dapat menjadi lebih terencana.
Mulailah dari langkah kecil. Tidak perlu langsung mengubah seluruh kebiasaan belanja. Cukup biasakan diri memberi jeda sebelum checkout dan memastikan setiap pembelian memang sesuai kebutuhan serta kemampuan finansial.
Dengan begitu, mindful buying bukan hanya membantu mengurangi pembelian impulsif, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan mengelola keuangan secara lebih sadar.


Jika Anda masih memiliki pertanyaan lanjutan, Anda dapat berkonsultasi gratis bersama ahli kami melalui Tanya ahli di daya.id. Untuk informasi lainnya terkait tips keuangan. Anda bisa medapatkan nya secara gratis di Daya.id. Dengan mendaftar di Daya.id semua informasi usaha bisa diakses dengan sangat mudah dan kapan saja!. Jadi, yuk kunjungi Daya.id sekarang juga! 

Sumber:

Berbagaiu sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

4.0
Asuransi Pendidikan Anak: Perlukah?
Tabungan

Asuransi Pendidikan Anak: Perlukah?

15 September 2026

5.0
6 Kebiasaan Kecil untuk Bikin Tabungan Bertambah Lebih Cepat dibanding Sebelumnya
Tabungan

6 Kebiasaan Kecil untuk Bikin Tabungan Bertambah Lebih Cepat dibanding Sebelumnya

20 Agustus 2026

5.0
Penghasilan Naik Turun? Begini 6 Cara Mengelola Uang Saat Penghasilan Tidak Tetap
Tabungan

Penghasilan Naik Turun? Begini 6 Cara Mengelola Uang Saat Penghasilan Tidak Tetap

19 Agustus 2026

4.0
Cara Membuat Anggaran Bulanan Sederhana
Tabungan

Cara Membuat Anggaran Bulanan Sederhana

13 Agustus 2026

Berikan Pendapat Anda