Informasi Artikel

Dirilis

01 Agustus 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

Dalam waktu kurang dari sebulan, Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan sebanyak tiga kali. Bagi kelas menengah yang sedang mencicil rumah, kendaraan, dan kebutuhan sehari-hari, kebijakan ini sedikit banyak berpengaruh pada keuangan kita secara nyata.
 
(sumber: Bank Indonesia yang telah diolah)

Sepanjang 20 Mei hingga 18 Juni 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar total 100 basis poin (bps), yakni dari 4,75% menjadi 5,75%. Ini adalah level tertinggi semenjak April 2025. Kenaikannya berlangsung melalui tiga keputusan beruntun, lonjakan 50 bps pada 20 Mei 2026, disusul 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan 9 Juni 2026, dan ditutup 25 bps pada RDG bulanan 18 Juni 2026.

Sebelumnya, BI Rate sempat bertahan di level 4,75% sejak November 2025, yakni posisi terendah sejak Oktober 2022. Artinya, dalam waktu yang cukup singkat, arah kebijakan moneter mengalami perubahan cukup signifikan. 

 

Mengapa BI menaikkan suku bunga?


Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kenaikan suku bunga adalah langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus langkah pre-emptive menjaga inflasi 2026–2027 agar tetap dalam sasaran 2,5% ±1% yang ditetapkan pemerintah.

Tekanan terhadap rupiah memang nyata. Hingga pertengahan Juni 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp17.700 – Rp17.760 per dolar AS, melemah sekitar 6,47% sejak awal tahun, dan sempat menyentuh level psikologis mendekati Rp18.000. Konflik di Timur Tengah, harga energi global yang melonjak, serta kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan dalam negeri yang dinilai berisiko pada kondisi fiskal Indonesia seperti MBG, Kopdes membuat investor asing, ramai-ramai keluar dari Indonesia. 

Dengan menaikkan suku bunga, BI berupaya menjaga daya tarik aset berbasis rupiah agar investor asing tidak menarik dananya. Logika secara sederhana imbal hasil yang lebih tinggi membuat rupiah lebih menarik untuk dipegang.

 

Pengaruh Terhadap Keuangan Rumah Tangga

Namun, kebijakan yang baik untuk stabilitas makro tidak selalu nyaman untuk keuangan rumah tangga.

 

1.    Kenaikan inflasi dan harga BBM non subsidi

Inflasi tahunan naik dari 2,42% (April) menjadi 3,08% (Mei 2026), mendekati batas atas target. Bersamaan, harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter dari Rp12.300. Hasilnya, kelas menengah menghadapi tekanan sekaligus yaitu biaya hidup naik, sementara beban cicilan berpotensi ikut naik.

Data Bank Dunia (Indonesia Economic Prospects, Juni 2026) memperkuat gambaran ini. Proporsi pekerja kelas menengah menyusut dari 14,5% (2018) menjadi sekitar 7% (2025), dan upah riil kelompok menengah-atas turun rata-rata 1–2% per tahun sejak 2018. Artinya, kelas menengah sudah rentan bahkan sebelum suku bunga naik.

 

2.    Cicilan yang berpotensi membengkak

Kelas menengah umumnya memikul porsi besar utang konsumtif, seperti KPR, kredit kendaraan, dan kredit konsumsi lain. Dampak kenaikan suku bunga BI ke bunga kredit biasanya butuh 3–6 bulan. Setiap kenaikan 50 bps BI Rate umumnya menambah 25–35 bps pada bunga KPR. Dampaknya diperkirakan mulai terasa pada perkiraan September hingga November 2026.

Dua hal perlu diperhatikan. Pertama, jenis bunga, jika nasabah memiliki kredit dengan bunga mengambang (floating) ini akan paling terdampak, sedangkan yang masih tetap (fixed) aman sampai masa fixed berakhir. Kedua, besaran cicilan. Semakin tinggi tingkat suku bunga yang berlaku, beban cicilan akan semakin besar.

 

3.    Kredit usaha menjadi melambat

Kenaikan suku bunga tidak hanya berdampak langsung bagi individual kelas menengah. Namun juga dirasakan nyata oleh pelaku industri. Bagi pengusaha yang memiliki pinjaman utang ke bank, beban bunga akan meningkat. Selain itu, kredit biasanya diambil para pengusaha untuk melakukan ekspansi. Semakin tinggi tingkat suku bunga, akan menahan para pelaku industri untuk ekspansi. Dan yang terjadi adalah sebaliknya, banyak perusahaan melakukan efisiensi.

Efisiensi usaha yang paling terasa dampaknya kepada individual kelas menengah adalah pengurangan tenaga kerja atau PHK dimana-mana. Selain itu, untuk menjaga laba usaha, tidak sedikit pelaku industri menaikan harga jual barangnya. Dan ini dirasakan langsung oleh para konsumen mereka yakni kebanyakan adalah kalangan kelas menengah di Indonesia.

Peningkatan suku bunga juga sudah terlihat di data yang menyatakan rasio kredit bermasalah (NPL) industri yang naik menjadi 3,26% per April 2026, dari 3,20% (Maret) dan 3,13% (April 2025). Para ekonom memproyeksikan dampak penuhnya baru tercermin pada kuartal IV-2026 atau kuartal I-2027.

 

4.    Kabar baik bagi penabung

Kenaikan suku bunga bisa juga memberikan sisi baik bagi para penabung. Bunga deposito berpotensi naik, dan instrumen pendapatan tetap seperti SBN ritel (ORI/SBN) cenderung memberi imbal hasil lebih tinggi. Bagi kelas menengah yang disiplin menabung, momen ini bisa dimanfaatkan untuk mengunci imbal hasil lebih baik.

 

Strategi Kelas Menengah Hadapi Peningkatan Suku Bunga BI

Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan oleh kelas menengah di tengah peningkatan suku bunga saat ini: selamat mencoba.

  1. Periksa skema bunga kredit, masih fixed atau sudah floating, dan kapan mulai berlaku suku bunga floatingnya.
  2. Dahulukan pelunasan utang berbunga tinggi seperti kartu kredit dan pinjaman online.
  3. Perkuat dana darurat 3–6 kali pengeluaran bulanan. Hindari "makan tabungan" untuk kebutuhan rutin.
  4. Review kembali anggaran dan pangkas pengeluaran sekunder yang tidak esensial.
  5. Manfaatkan momen menabung lewat deposito atau instrumen pendapatan tetap.
  6. Tunda keputusan besar misalnya pembelian rumah dengan KPR, hitung ulang kemampuan sebelum mengambil KPR baru.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Strategi Diversifikasi Tabungan dan Investasi dalam Mata Uang Asing
Artikel Ahli
Tabungan

Strategi Diversifikasi Tabungan dan Investasi dalam Mata Uang Asing

25 Juli 2026

5.0
Gaji Naik Tapi Hidup Terasa Makin Berat: Middle Income Trap Versi Rumah Tangga
Artikel Ahli
Tabungan

Gaji Naik Tapi Hidup Terasa Makin Berat: Middle Income Trap Versi Rumah Tangga

22 Juli 2026

5.0
Tips Mengelola Keuangan Setelah Pengeluaran Besar-besaran
Tabungan

Tips Mengelola Keuangan Setelah Pengeluaran Besar-besaran

04 Juli 2026

5.0
Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari
Tabungan

Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari

18 Mei 2026

Berikan Pendapat Anda