Setiap orang tentu ingin memiliki kondisi keuangan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Namun kenyataannya, banyak orang yang hanya fokus pada peningkatan penghasilan tanpa memperhatikan berapa besar uang yang benar-benar berhasil disimpan. Padahal, kekayaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan dan mengembangkan tabungan.
Di sinilah konsep saving ratio menjadi penting.
Saving ratio adalah persentase penghasilan yang berhasil Anda sisihkan menjadi tabungan atau investasi setelah memenuhi berbagai kebutuhan. Semakin tinggi saving ratio, semakin besar peluang Anda membangun kondisi finansial yang sehat dan mencapai tujuan jangka panjang, mulai dari membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, hingga menikmati masa pensiun dengan lebih tenang.
Lalu, berapa saving ratio yang ideal? Apakah semua usia memiliki target yang sama?
Jawabannya tentu tidak. Setiap fase kehidupan memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, target menabung pun sebaiknya disesuaikan dengan tahapan usia dan tanggung jawab finansial yang sedang dijalani.
Mengapa Saving Ratio Lebih Penting daripada Besarnya Gaji?
Banyak orang beranggapan bahwa mereka baru bisa menabung ketika penghasilannya besar. Faktanya, tidak sedikit orang dengan pendapatan tinggi justru memiliki tabungan yang minim karena gaya hidupnya ikut meningkat.
Sebaliknya, ada orang dengan penghasilan yang lebih sederhana tetapi mampu membangun aset karena disiplin menyisihkan sebagian pendapatannya.
Dalam berbagai edukasi literasi keuangan yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masyarakat selalu diingatkan bahwa kebiasaan mengelola keuangan jauh lebih menentukan dibanding besarnya pendapatan semata. Pendapat serupa juga sering disampaikan oleh para perencana keuangan bersertifikat (Certified Financial Planner/CFP), yaitu bahwa konsistensi menabung adalah fondasi utama menuju kebebasan finansial.
Dengan kata lain, fokuslah pada persentase uang yang berhasil Anda simpan, bukan hanya pada nominal penghasilan yang diterima.
Saving Ratio Ideal Berdasarkan Usia

1. Usia 20–29 Tahun: Saat Terbaik Membangun Kebiasaan
Pada usia ini, banyak orang baru memulai karier. Sebagian masih lajang, sebagian lainnya mulai membangun keluarga.
Karena tanggungan umumnya masih relatif ringan, target saving ratio yang ideal berada di kisaran 20–30% dari penghasilan.
Mengapa cukup tinggi?
Karena waktu adalah teman terbaik dalam dunia keuangan. Semakin dini Anda mulai menabung dan berinvestasi, semakin besar manfaat dari efek bunga berbunga (compound growth) yang sering dijelaskan dalam berbagai literatur investasi.
Contoh kasus:
Rina, usia 25 tahun, memiliki penghasilan Rp8 juta per bulan. Ia membiasakan menyisihkan Rp2 juta atau sekitar 25% setiap bulan ke tabungan dan reksa dana pasar uang. Dalam lima tahun, selain memiliki dana darurat yang cukup, ia juga berhasil mengumpulkan modal awal untuk membeli rumah.
Kebiasaan sederhana di usia muda memberikan dampak yang sangat besar di masa depan.
2. Usia 30–39 Tahun: Menyeimbangkan Tanggung Jawab dan Tabungan
Memasuki usia 30-an, kebutuhan biasanya mulai bertambah.
Anda mungkin sudah menikah, memiliki anak, membayar cicilan rumah, kendaraan, hingga mulai memikirkan biaya pendidikan.
Pada fase ini, saving ratio ideal berada di kisaran 15–25% dari penghasilan.
Meski persentasenya sedikit lebih rendah dibanding usia 20-an, disiplin tetap menjadi kunci.
Selain menabung, mulailah memperbanyak alokasi ke investasi jangka panjang sesuai profil risiko, seperti reksa dana, obligasi pemerintah, atau instrumen investasi lainnya yang sesuai dengan tujuan keuangan Anda.
Contoh kasus:
Andi berusia 35 tahun dengan penghasilan keluarga Rp18 juta per bulan. Ia menyisihkan sekitar Rp3,6 juta setiap bulan atau sekitar 20% untuk dana pendidikan anak, investasi pensiun, dan dana darurat keluarga.
Meskipun memiliki cicilan rumah, ia tetap memprioritaskan tabungan karena memahami bahwa kebutuhan anak akan terus meningkat.
3. Usia 40–49 Tahun: Mempercepat Pembentukan Aset
Usia 40-an sering disebut sebagai masa produktif secara finansial.
Penghasilan biasanya sudah lebih stabil, karier berkembang, dan sebagian cicilan mulai berkurang.
Jika kondisi memungkinkan, target saving ratio dapat kembali ditingkatkan menjadi sekitar 20–30%.
Pada tahap ini, fokus tidak hanya pada menabung, tetapi juga mempercepat pertumbuhan aset.
Menurut berbagai publikasi mengenai perencanaan pensiun yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan OJK, usia 40-an merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi apakah dana pensiun yang disiapkan sudah sesuai dengan kebutuhan di masa depan.
Contoh kasus:
Ibu Maya berusia 45 tahun memiliki usaha katering yang berkembang cukup baik. Setelah melakukan evaluasi keuangan, ia memutuskan mengurangi pengeluaran konsumtif dan mengalihkan tambahan keuntungan usaha ke investasi obligasi serta dana pensiun.
Keputusan tersebut membuat kondisi keuangannya jauh lebih siap menghadapi masa pensiun dibanding beberapa tahun sebelumnya.
4. Usia 50 Tahun ke Atas: Fokus pada Stabilitas
Memasuki usia 50 tahun, tujuan utama berubah dari membangun kekayaan menjadi menjaga stabilitas keuangan.
Saving ratio ideal tetap berada pada kisaran 15–25%, terutama jika masih memiliki penghasilan aktif.
Namun prioritas utamanya adalah memastikan:
- Dana pensiun mencukupi,
- Memiliki dana kesehatan,
- Utang mulai berkurang,
- Dan aset yang dimiliki mudah dicairkan apabila diperlukan.
Pada fase ini, risiko investasi juga sebaiknya dievaluasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan.
Contoh kasus:
Pak Budi berusia 56 tahun masih aktif menjalankan toko bangunan. Sebagian besar keuntungan usaha tidak lagi digunakan untuk membeli aset konsumtif, tetapi dialihkan ke deposito, obligasi pemerintah, dan dana kesehatan keluarga.
Dengan strategi tersebut, ia merasa lebih tenang menghadapi masa pensiun.
Jangan Hanya Menabung, Tapi Pastikan Tabungan Bertumbuh
Saving ratio yang tinggi tentu baik. Namun jangan sampai seluruh tabungan hanya disimpan dalam rekening yang memberikan imbal hasil sangat rendah.
Setelah dana darurat terpenuhi, Anda dapat mempertimbangkan berbagai instrumen sesuai tujuan dan profil risiko, seperti:
- Tabungan berjangka,
- Deposito,
- Reksa dana,
- Obligasi negara,
- Atau instrumen investasi lainnya yang legal dan diawasi oleh otoritas yang berwenang.
Tujuannya bukan sekadar menyimpan uang, tetapi membantu nilai uang bertumbuh sehingga mampu mengimbangi inflasi.
Hindari Kesalahan yang Sering Terjadi
Ada beberapa kebiasaan yang sering membuat saving ratio sulit meningkat, antara lain:
- Menabung dari “uang sisa” setiap akhir bulan.
- Menaikkan gaya hidup setiap kali penghasilan bertambah.
- Tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas.
- Menggunakan tabungan untuk kebutuhan konsumtif yang sebenarnya tidak mendesak.
Sebaliknya, biasakan menerapkan prinsip “bayar diri sendiri terlebih dahulu” (pay yourself first), yaitu langsung menyisihkan tabungan begitu menerima penghasilan sebelum membelanjakannya untuk kebutuhan lain. Prinsip ini banyak direkomendasikan dalam literatur keuangan pribadi, termasuk buku The Richest Man in Babylon karya George S. Clason dan The Automatic Millionaire karya David Bach.
Ingat, Saving Ratio Bukan Ajang Membandingkan Diri
Penting untuk dipahami bahwa angka saving ratio bukan perlombaan.
Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang masih menanggung orang tua, membiayai pendidikan anak, atau sedang merintis usaha.
Karena itu, jangan merasa gagal jika saat ini baru mampu menyisihkan 10% dari penghasilan. Yang terpenting adalah terus meningkatkan kebiasaan tersebut secara bertahap.
Misalnya:
- tahun ini 10%,
- tahun depan menjadi 15%,
- lalu meningkat lagi menjadi 20%.
Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih baik dibanding target tinggi yang sulit dipertahankan.
Saving ratio merupakan salah satu indikator sederhana namun sangat penting untuk mengukur kesehatan keuangan Anda. Besarnya persentase yang ideal memang dapat berbeda pada setiap fase kehidupan, tetapi prinsip utamanya tetap sama: sisihkan sebagian penghasilan secara konsisten, lindungi nilainya dari inflasi, dan arahkan tabungan tersebut untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Seperti yang terus ditekankan dalam berbagai program literasi keuangan oleh OJK maupun Bank Indonesia, keberhasilan finansial tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar Anda memperoleh penghasilan, tetapi juga oleh seberapa bijak Anda mengelolanya.
Ingatlah bahwa perjalanan keuangan adalah sebuah maraton, bukan lari cepat. Dengan membangun saving ratio yang sehat sejak dini dan terus meningkatkannya sesuai kemampuan, Anda tidak hanya melipatgandakan tabungan, tetapi juga membangun rasa aman, kebebasan finansial, dan masa depan yang lebih tenang bagi diri sendiri maupun keluarga.
Jika Anda mengetahui lebih banyak informasi tentang informasi keuangan lainnya, langsung saja log in ke daya.id dan cari fitur Tanya Ahli untuk berkonsultasi dengan ahli kami untuk mendapatkan jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda mendaftar daya.id dan dapatkan informasi bermanfaat lainnya mengenai kesehatan secara gratis!
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda