Informasi Artikel

Dirilis

01 Agustus 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

Dalam piramida perencanaan keuangan, fondasi paling dasar adalah manajemen cash flow dimana seseorang mengatur pemasukan dan pengeluaran sehari-hari. Ya, sebelum bicara soal investasi, dana darurat, apalagi distribusi warisan untuk generasi penerus, kebiasaan belanja sehari-hari justru menjadi penentu apakah fondasi keuangan seseorang kuat atau rapuh. Sayangnya, fondasi ini sering diabaikan karena dianggap sepele dibanding topik investasi atau warisan.
 
Gambar 1: Piramida Perencanaan Keuangan 

 

Smart Spending vs Doom Spending

Di tengah ketidakpastian ekonomi, tekanan biaya hidup yang terus naik, dan derasnya paparan gaya hidup di media sosial, muncul dua pola pengeluaran yang bertolak belakang. Di satu sisi ada smart spending, yaitu kebiasaan belanja yang terencana dan sadar tujuan. Di sisi lain ada doom spending, yaitu kebiasaan belanja impulsif yang muncul sebagai respons emosional terhadap rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap masa depan.

Fenomena doom spending semakin marak terutama di kalangan generasi muda. Kemudahan akses pembiayaan digital seperti pay later (BNPL), maraknya diskon di e-commerce, dan kebiasaan scroll media sosial berjam-jam (doom scrolling) membuat dorongan untuk “belanja sekarang, pikirkan nanti” menjadi semakin kuat. Padahal, pola belanja yang tidak disadari ini bisa menggerus ruang untuk menabung, berinvestasi, bahkan membangun aset yang seharusnya bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

Smart spending adalah belanja yang disadari dan terencana sesuai kebutuhan serta tujuan keuangan. Contohnya: membandingkan harga sebelum membeli, membuat daftar belanja, menyisihkan tabungan/investasi lebih dulu, serta memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan.

Sedangkan doom spending adalah belanja impulsif sebagai pelarian emosional dari rasa cemas, terbawa arus trend atau pesimisme terhadap masa depan, bukan karena kebutuhan nyata. Contohnya: checkout tengah malam setelah scroll media sosial (doom scrolling), belanja sekedar untuk balas dendam setelah hari yang berat, self reward tanpa ada perencanaan, memakai paylater untuk barang konsumtif, atau membeli sesuatu hanya karena sedang viral atau diskon.

Perbedaan dari smart spending dan doom spending bisa dilihat sebagai berikut : 

Perbedaan paling mendasar terletak pada arah dampaknya dimana smart spending membantu aset terus bertumbuh sehingga pada akhirnya bisa dikembangkan menjadi investasi dan warisan, sementara doom spending justru menggerus aset yang seharusnya bisa diakumulasikan sejak dini.

 

Tips Supaya Bisa Smart Spending

Nah, agar aset Anda bertumbuh, berikut ini tips yang bisa Anda pertimbangkan.

  1. Buat anggaran bulanan dan tentukan porsi untuk kebutuhan, tabungan/investasi, serta keinginan.
  2. Pisahkan kebutuhan dan keinginan sebelum memutuskan untuk membeli.
  3. Terapkan aturan tunda beli 24–48 jam untuk pembelian di luar kebutuhan pokok.
  4. Dahulukan menabung/investasi (pay yourself first) baru belanjakan sisa pendapatan.
  5. Catat pengeluaran secara rutin agar pola belanja mudah dievaluasi.
  6. Batasi paylater/kartu kredit dan kelola pemicu emosional seperti stres atau doomscrolling.

Diskon, cashback, dan promo sering menjadi pemicu utama belanja impulsif karena memberi kesan “sekarang atau rugi”. Faktanya, tidak semua promo benar-benar menghemat uang. Agar tetap menjadi bagian dari smart spending, bukan jebakan doom spending, perhatikan hal-hal berikut:

  1. Bandingkan harga sebelum dan sesudah diskon jangan langsung percaya label “hemat”.
  2. Pastikan barang sudah direncanakan dibeli bukan muncul hanya karena ada promo.
  3. Cermati syarat dan ketentua cashback secara teliti termasuk minimum transaksi dan masa berlaku.
  4. Hitung total biaya akhir termasuk ongkos kirim, biaya admin, atau bunga paylater.
  5. Waspadai promo yang dikaitkan dengan paylater atau kredit konsumtif. Diskon besar yang hanya berlaku dengan metode pembayaran kredit/paylater perlu dicermati, karena berisiko menambah utang konsumtif meski terasa “hemat” di awal.
  6. Hindari logika “hemat” yang menjebak karena membeli barang tak perlu tetap pemborosan, sekalipun diskon.

Smart spending dan doom spending menunjukkan dua arah berlawanan dalam mengelola pengeluaran. Meningkatkan kesadaran dan mengenali pemicu di balik setiap keputusan belanja, disiplin membuat anggaran, dan jeli terhadap promo adalah kunci agar kebiasaan belanja hari ini menjadi fondasi tabungan, investasi, dan warisan di masa depan. 

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Strategi Diversifikasi Tabungan dan Investasi dalam Mata Uang Asing
Artikel Ahli
Tabungan

Strategi Diversifikasi Tabungan dan Investasi dalam Mata Uang Asing

25 Juli 2026

5.0
Gaji Naik Tapi Hidup Terasa Makin Berat: Middle Income Trap Versi Rumah Tangga
Artikel Ahli
Tabungan

Gaji Naik Tapi Hidup Terasa Makin Berat: Middle Income Trap Versi Rumah Tangga

22 Juli 2026

5.0
Tips Mengelola Keuangan Setelah Pengeluaran Besar-besaran
Tabungan

Tips Mengelola Keuangan Setelah Pengeluaran Besar-besaran

04 Juli 2026

5.0
Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari
Tabungan

Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari

18 Mei 2026

Berikan Pendapat Anda