Informasi Artikel

Dirilis

06 November 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

Memiliki rumah sendiri selama puluhan tahun dipandang sebagai milestone utama kedewasaan. Rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol stabilitas ekonomi, indikator kemakmuran, sekaligus aset nyata yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Namun bagi generasi muda masa kini, impian tersebut berhadapan dengan realitas ekonomi yang jauh berbeda dibanding generasi orang tua mereka. 

 

Ketimpangan Harga Rumah dan Pendapatan yang Semakin Lebar Lebar

Survei Inventure dalam Indonesia Industry Outlook 2025 mencatat dua dari tiga Gen Z kelas menengah pesimis bisa memiliki rumah sendiri dalam waktu dekat. Harga properti yang terlalu tinggi dan pendapatan mereka yang kurang memadai menjadi dua alasan utama. 

Kesenjangan ini terlihat jelas jika dibandingkan langsung dengan angka riil di lapangan. UMP DKI Jakarta tahun 2025 berada di angka Rp5.396.761 sementara UMK di kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang berkisar Rp4,9–5,7 juta. Di sisi lain, harga rata-rata lahan di Jabodetabek pada akhir 2025 tercatat sekitar Rp12,7 juta per meter persegi, naik dari Rp9 juta per meter persegi pada 2018. Segmen rumah paling laris di pasar Jabodetabek berada di rentang harga Rp600 juta–Rp1,3 miliar. Ini menunjukkan seorang pekerja bergaji UMP yang menabung seluruh gajinya tanpa pengeluaran sekalipun memerlukan lebih dari 9 tahun hanya untuk mengumpulkan dana membeli rumah dengan harga rumah termurah di segmen ini, belum termasuk bunga KPR dan biaya lainnya.

 

Pertimbangan Sebelum Memutuskan Membeli Rumah 

Pilihan hunian saat ini juga lebih beragam bukan hanya rumah tapak tapi berupa apartemen. Sebelum memutuskan membeli rumah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan secara matang yaitu: 

 

1. Jarak tempuh antara rumah dengan area aktivitas sehari-hari

Perhitungkan waktu dan tenaga yang akan terkuras jika lokasi rumah terlalu jauh dari kantor atau sekolah anak. Biaya ini sering luput dari perhitungan finansial, padahal berdampak nyata pada kualitas hidup sehari-hari. 

 

2. Jumlah anggota keluarga yang akan tinggal

Menurut data BPS yang dikutip Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, indeks jumlah anggota keluarga di Indonesia kini berada di angka 3.2 artinya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak. Angka ini turun signifikan dari 4,7 orang per keluarga pada generasi sebelumnya. Sehingga konsep warisan berupa rumah besar menjadi kurang relevan bagi keluarga inti yang lebih kecil saat ini. 

 

3. Kondisi dan mobilitas pekerjaan

Bagi keluarga dengan pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi, berpindah dari satu kota ke kota lain, memiliki rumah menjadi "beban operasional bulanan" tersembunyi yang tidak disadari. Risiko kerusakan properti jika ditinggalkan kosong dalam waktu lama juga tak terhindarkan. 

 

4. Kesiapan Kondisi keuangan

Pertimbangkan apakah pembelian akan dilakukan secara tunai atau KPR. Pastikan arus kas keluarga tetap sehat dan dana darurat sudah tercukupi sebelum berkomitmen pada cicilan jangka panjang, serta pastikan besaran cicilan tidak membebani rasio pengeluaran bulanan secara berlebihan. 

 

Kelebihan dan Kekurangan Memiliki Rumah Sendiri Sendiri

Sebagai pertimbangan lain, berikut ini kelebihan dan kekurangan memiliki rumah sendiri.
Kelebihan

  1. Aset riil properti nilainya cenderung naik dalam jangka panjang
  2. Kepastian tempat tinggal tanpa risiko kenaikan sewa atau tidak disewakan lagi oleh pemilik
  3. Dapat diwariskan ke generasi berikutnya.


 

Kekurangan 

  1. Terdapat biaya tersembunyi yang sering tidak dianggarkan di awal seperti BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), PBB tahunan, biaya notaris dan balik nama, biaya perawatan dan renovasi serta biaya keamanan/IPL bila di kompleks perumahan.
  2. Properti merupakan aset yang tidak likuid. Survei Bank Indonesia terhadap pasar rumah bekas di beberapa kawasan premium Jakarta termasuk Pondok Indah, Cilandak, dan Tebet di Jakarta Selatan, mencatat waktu rata-rata sejak rumah ditawarkan hingga benar-benar terjual berkisar 3–6 bulan untuk rumah segmen menengah. Untuk properti dengan harga di atas pasaran wilayahnya, prosesnya jauh lebih lama bahkan pelaku industri properti mencatat banyak rumah mewah yang "macet" bertahun-tahun karena pemiliknya bersikeras memasang harga tinggi.Hal ini penting dipertimbangkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu membutuhkan dana cepat . 
  3. Kebutuhan ruang yang kurang fleksibel mengikuti siklus hidup keluarga. Saat anak-anak masih kecil, rumah yang lapang terasa dibutuhkan. Namun begitu anak-anak dewasa dan membangun keluarga sendiri, rumah yang lebih kecil justru lebih mudah dirawat dan biayanya pun lebih kecil. 


 

Kelebihan dan Kekurangan Tetap Menyewa Rumah Rumah

Bagaimana dengan menyewa rumah? Berikut ini kelebihan dan kekurangannya.

 

Kelebihan

  1. Fleksibilitas tinggi untuk pindah mengikuti pekerjaan atau kebutuhan hidup
  2. Tidak terbebani biaya perawatan besar
  3. Modal tidak "terkunci" di satu aset sehingga bisa dialokasikan ke instrumen investasi lain yang lebih likuid seperti saham, reksa dana, atau deposito.


 

Kekurangan

  1. Tidak memiliki aset atas nama sendiri
  2. Biaya sewa yang bisa terus naik setiap tahun
  3. Perubahan kebijakan dari pemilik asset
  4. Risiko psikologis "tidak punya tempat tetap" terutama menjelang usia pensiun.

Karena itu, strategi menyewa idealnya dibarengi dengan disiplin investasi. Dana yang semestinya menjadi cicilan rumah dialihkan menjadi tabungan atau investasi terencana, sehingga ketika keluarga akhirnya menetapkan hati untuk memiliki properti, dana tersebut sudah cukup terkumpul untuk mewujudkannya tanpa tekanan finansial berlebih. 
 

Pahami Kondisi Keuangan, Gaya Hidup, dan Rencana Jangka Panjang

Bagi keluarga dengan pekerjaan stabil di satu kota dan sudah yakin dengan lokasi jangka panjang, KPR bisa menjadi keputusan finansial yang solid. Namun bagi keluarga muda dengan mobilitas tinggi, penghasilan yang belum stabil, atau prioritas pada efisiensi waktu dan energi, menyewa rumah sambil membangun portofolio investasi bisa menjadi jalan yang lebih realistis.realistis.

Yang terpenting bukan terburu-buru mengikuti ekspektasi sosial "harus segera punya rumah", melainkan memahami kondisi keuangan, gaya hidup, dan rencana jangka panjang keluarga sendiri. Lalu memilih instrumen dan strategi yang paling mendukung tujuan tersebut, apa pun bentuknya.


Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Gagal Menabung, Ini Kesalahan Umum Keluarga Muda
Tabungan

Gagal Menabung, Ini Kesalahan Umum Keluarga Muda

04 November 2026

5.0
Uang Bikin Ribut? Ini Cara Pasangan Muda Bebas dari Drama Keuangan
Tabungan

Uang Bikin Ribut? Ini Cara Pasangan Muda Bebas dari Drama Keuangan

15 Oktober 2026

5.0
5 Cara Mengatur Keuangan Suami Istri Bekerja
Tabungan

5 Cara Mengatur Keuangan Suami Istri Bekerja

13 Oktober 2026

5.0
Baru Menikah dan Gaji Habis Tanpa Jejak? Coba Metode Amplop
Tabungan

Baru Menikah dan Gaji Habis Tanpa Jejak? Coba Metode Amplop

06 Oktober 2026

Berikan Pendapat Anda