Tanpa kita sadari, banyak barang yang kita konsumsi sehari-hari mengandung komponen impor yang harganya mengacu pada dolar AS. Sebut saja bahan bakar, gandum, kedelai, obat-obatan, hingga elektronik, Saat rupiah melemah, harga barang-barang itu otomatis naik sehingga mendorong inflasi dan menggerus daya beli riil masyarakat.
Fenomena ini disebut imported inflation. Bahkan tanpa membeli apa pun, uang yang hanya disimpan dalam tabungan rupiah sudah kehilangan daya belinya dibanding mata uang asing.
Sebagai ilustrasi, Rp100 juta yang ditabung sejak 2016 di rekening rupiah kini secara nominal tetap Rp100 juta, tapi daya belinya terhadap aset atau kebutuhan berdenominasi dolar AS turun sekitar 26%, karena dolar menguat 35% terhadap rupiah pada periode yang sama. 'Mendiamkan' uang dalam satu mata uang saja bukan pilihan netral, ada biaya tersembunyi berupa hilangnya daya beli yang berjalan setiap tahun.
Berdasarkan data 10 tahun terakhir, dolar AS, dolar Singapura, Euro, yuan China, dan ringgit Malaysia semuanya menguat 32–43% terhadap rupiah. Pelemahan rupiah pada tahun 2026 ini diperberat berbagai faktor, seperti ketegangan geopolitik, suku bunga AS yang tinggi dan derasnya modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia, sehingga rupiah sempat menyentuh rekor terlemah mendekati Rp18.000-an.
Secara historis, depresiasi tahunan rupiah terhadap dolar AS juga lebih dalam (~2,1% per tahun sejak 2015) dibanding mata uang Asia lain seperti Yuan China (~1,4 –1,5%) atau Ringgit Malaysia (~1,6 – 1,7%).


Dalam 10 tahun terakhir dolar Singapura justru menguat paling dalam, melampaui dolar AS, karena ekonomi Singapura yang stabil dan kebijakan Otoritas Moneter Singapura (MAS) yang menjaga nilai SGD terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang. Euro, yuan China, dan ringgit Malaysia bergerak relatif sejalan dengan dolar AS.
Pemilihan mata uang asing perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, apakah untuk pendidikan, diversifikasi dana pensiun, dana ibadah, perdagangan atau tujuan lainnya. Misalnya USD untuk likuiditas global, SGD untuk kestabilan kawasan, EUR/CNY/MYR untuk kebutuhan dagang atau pendidikan ke negara terkait. Tidak semua mata uang asing akan menguntungkan, contohnya yen Jepang yang mengalami pelemahan 10% dalam 10 tahun terakhir ini.
5 Cara Menabung Mata Uang Asing yang Paling Realistis yang Paling Realistis
Dengan fakta di atas, berikut ini cara menabung mata uang asing yang bisa Anda pertimbangkan.
- Tentukan tujuan dan porsi alokasi lebih dulu. Sebagai patokan kasar, 10–30% dari total tabungan ke valas sudah cukup untuk diversifikasi, dan bisa lebih besar jika tujuannya spesifik, misalnya biaya kuliah anak di luar negeri, beribadah atau dana pensiun di negara lain.
- Beli secara bertahap (dollar cost averaging), lewat bank atau money changer berizin OJK/Bank Indonesia, bukan sekali waktu dalam jumlah besar, agar tidak terjebak salah waktu beli saat kurs sedang tinggi.
- Bandingkan selisih kurs jual-beli (spread) antar bank atau money changer sebelum bertransaksi, karena spread yang lebar membuat biaya tersembunyi konversi menjadi lebih mahal dari yang terlihat.
- Manfaatkan tabungan valas bank yang menyediakan banyak pilihan mata uang sekaligus terhubung kartu debit, sehingga dana bisa langsung dipakai saat ada kebutuhan transaksi luar negeri.
- Sisihkan dari pendapatan rutin seperti menabung biasa, bukan mengambil dari dana darurat utama dalam rupiah, dan pantau kurs secara berkala tanpa panik membeli atau menjual saat terjadi gejolak jangka pendek.
Setelah tabungan valas terkumpul cukup, dana tersebut dapat dikembangkan lewat beberapa instrumen yang tersedia di Indonesia.
![]()
*data berdasarkan estimasi historis, Reksa dana dan obligasi bukan produk simpanan sehingga tidak dijamin LPS
Investor konservatif bisa fokus pada deposito dan obligasi valas untuk kepastian kupon, sementara investor dengan horizon lebih panjang bisa mengkombinasikan reksa dana pendapatan tetap dan saham USD.

Di Bank SMBC Indonesia sendiri memiliki beberapa program dan produk bermata uang asing, yaitu :
- Tabungan Sinaya Valas tersedia dalam 7 mata uang asing (USD, JPY, SGD, AUD, HKD, GBP, EUR) dengan kurs kompetitif dan dapat dihubungkan ke kartu debit untuk transaksi di ATM Visa. Cocok untuk menyimpan dana valas yang sudah dikumpulkan secara bertahap.
- Deposito Berjangka Valas tersedia dalam USD, SGD, dan JPY, dengan tenor 1, 3, 6, 9, atau 12 bulan, fitur perpanjangan otomatis (ARO), dan bunga yang dikenakan pajak sesuai aturan pemerintah
- Reksa Dana berdenominasi USD ditawarkan SMBC Indonesia sebagai agen penjual, antara lain BNP Paribas Prima USD, Ashmore Dana USD Fixed Income, dan Manulife USD Fixed Income (minimal pembelian pertama mulai USD 100) untuk kategori pendapatan tetap, serta Mandiri Global Sharia Equity Dollar dan Schroder Global Sharia Equity Fund untuk kategori saham.
- Obligasi Pemerintah Valas (INDON/INDOIS) dapat dibeli di pasar sekunder
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda