Sebagian orang langsung berpikir bahwa setelah pensiun, satu-satunya pilihan adalah buka usaha. Padahal, berbisnis bukan satu-satunya jalan. Lagi pula, berbisnis belum tentu cocok untuk semua orang, terutama bagi Anda yang selama masa produktifnya sebagai karyawan.
Lalu, apa lagi pilihan agar bisa tetap memiliki penghasilan selama masa pensiun? Berikut lima pilihan yang bisa dipertimbangkan, lengkap dengan contoh hitungannya.

1. Mengelola Aset (Properti, Kendaraan, Mesin)
Pilihan pertama adalah menyewakan aset produktif yang sudah dimiliki: rumah kontrakan, ruko, kendaraan operasional, atau bahkan mesin produksi. Keuntungannya berasal dari pendapatan hasil sewa rutin setiap bulan sementara aset tetap menjadi milik kita.
Menurut data Global Property Guide Q1 2026, rata-rata gross rental yield di Indonesia mencapai 8,30%. Di kota-kota besar, angka ini bervariasi: Jakarta 4–7%, Yogyakarta dan Bandung 5–8%, sementara daerah wisata seperti Bali bisa mencapai 6–10%.
Sebagai contoh perhitungan, nilai properti senilai Rp 500 juta disewakan Rp 3,5 juta per bulan. Gross rental yield sekitar 8,3% per tahun atau Rp 42 juta. Setelah dikurangi biaya perawatan, pajak sewa (10%), dan depresiasi, net yield berkisar 5% atau sekitar Rp 25 juta bersih per tahun.
Hal yang perlu diperhatikan yakni untuk dapat mengelola aset dibutuhkan modal awal yang cukup besar. Kemudian aset juga butuh perawatan rutin, dan nilai bisa menyusut (depresiasi). Vacancy rate di bilangan Jakarta misalnya masih berada di kisaran 35–41% menurut data Cushman & Wakefield Q1 2025, yang artinya tidak selalu mudah mendapatkan penyewa.
2. Berbisnis Riil
Berbisnis setelah pensiun memang bisa, tapi perlu disadari ada beberapa cara terlibat sehingga tidak harus menjadi operator langsung.
- Cara pertama, menjadi pemodal menyuntikkan modal ke usaha orang lain dan mendapat margin atau bagi hasil.
- Cara kedua, patungan (joinan) dengan partner yang kompeten menjalankan operasional, sementara kita menikmati bagi hasil sesuai porsi modal yang disetor.
- Cara ketiga, membeli franchise dengan sistem sudah jadi dan praktis, tapi margin biasanya lebih tipis karena ada royalty fee.
Contoh perhitungan, jika modal Rp 50 juta diinvestasikan ke usaha kuliner bersama rekan. Dan laba usaha Rp 4 juta per bulan dan bagi hasil 50:50, penghasilan pasif Rp 2 juta per bulan atau Rp 24 juta per tahun. Untuk franchise, modal Rp 100 – 300 juta dengan net profit margin 10–15% bisa menghasilkan Rp 1 - 3 juta per bulan, tergantung dari lokasi dan brand.
Yang perlu diperhatikan: Risiko bisnis riil lebih tinggi karena usaha bisa rugi, partner bisa tidak sejalan, dan franchise belum tentu ramai. Modal yang dikeluarkan tidak dijamin kembali.
3. Membangun Aset Kekayaan IntelektualIntelektual
Ini pilihan yang sering diabaikan, yaitu membangun karya sekali, lalu menikmati royalti atau passive income berulang kali. Bentuknya bisa berupa channel YouTube dengan subscriber loyal, penjualan Video on Demand (VOD), e-course, ebook, template digital, atau royalti dari buku.
Kelebihannya, modal utama adalah waktu dan keahlian. Dan setelah karya tercipta, ia bisa terus menghasilkan tanpa biaya produksi tambahan yang signifikan.
Contoh hitungan, E-course seharga Rp 250.000 yang terjual 40 kopi per bulan menghasilkan Rp 10 juta per bulan. Atau buku yang diterbitkan secara indie melalui platform digital dengan royalti Rp 30.000–50.000 per eksemplar bisa menjadi sumber penghasilan jangka panjang.
Yang perlu diperhatikan: Butuh waktu dan konsistensi membangun audiens. Hasilnya tidak instan bisa butuh 1 - 5 tahun sebelum menghasilkan secara signifikan. Idealnya mulai dibangun saat masih aktif bekerja.
4. Mengelola Aset KeuanganKeuangan
Menempatkan dana di instrumen keuangan yang menghasilkan adalah pilihan paling tidak butuh manajemen harian.
Obligasi negara (SBN Ritel) menjadi favorit banyak pensiunan. Data terbaru menunjukkan ORI030 yang terbit Juli 2026 menawarkan kupon tetap 6,9% (tenor 3 tahun) dan 7% (tenor 6 tahun), dibayar bulanan, dengan pajak hanya 10% dimana ini lebih rendah dari pajak deposito yang 20%. Pokok investasi dijamin negara melalui APBN.
Saham dividen bisa menjadi pelengkap. Beberapa emiten BUMN dan batu bara menawarkan dividend yield yang menarik: BBRI 5–7%, BMRI 6–8% (dengan payout ratio 79%), sementara emiten batu bara seperti PTBA dan ITMG secara historis bisa memberikan yield 10–15% meski lebih fluktuatif mengikuti harga komoditas.
Contoh hitungan: Dana Rp 500 juta ditempatkan di ORI dengan kupon 7% per tahun. Setelah pajak 10%, imbal hasil bersih ±Rp 31,5 juta per tahun atau ±Rp 2,6 juta per bulan. Jika ditempatkan di saham BUMN berkapitalisasi besar dengan dividend yield 7%, potensi dividen ±Rp 35 juta per tahun sebelum pajak, dengan catatan harga saham bisa naik maupun turun.
Yang perlu diperhatikan yakni obligasi negara hampir tanpa risiko gagal bayar, tapi return-nya lebih moderat. Saham berpotensi memberikan capital gain, tapi juga capital loss. Diversifikasi tetap kunci utama.
5. Melanjutkan Karier Profesional Profesional
Pilihan terakhir: tetap berkarya sebagai profesional di bidang keahlian. Setelah pensiun dari perusahaan, pengalaman dan reputasi yang dibangun selama puluhan tahun tetap bernilai tinggi. Wujudnya bisa menjadi konsultan, trainer, narasumber seminar, komisaris, atau mentor.
Kunci utamanya ada dua: networking, jaringan yang dirawat sejak masih aktif bekerja akan menjadi sumber peluang baru, dan personal branding dikenal sebagai ahli di bidang tertentu.
Contoh perhitungannya, bila seorang pensiunan kemudian memutuskan menjadi trainer atau konsultan lepas dengan tarif Rp 3 juta per sesi, menjalankan 6 sesi per bulan, bisa menghasilkan Rp 18 juta per bulan. Modal utamanya bukan uang, melainkan ilmu dan jaringan.
Yang perlu diperhatikan, tidak semua profesi bisa dilanjutkan dengan mudah. Perlu investasi waktu untuk membangun personal branding, idealnya dimulai 3–5 tahun sebelum pensiun melalui media sosial, komunitas, atau publikasi.
Pensiun Bukan Akhir! sehat
Kelima pilihan di atas bukan saling menggantikan, justru idealnya dikombinasikan sesuai profil risiko dan kondisi masing-masing. Anda bisa mulai membangun aset intelektual dan personal branding dari sekarang, sambil menyisihkan dana ke obligasi negara dan saham dividen, sehingga saat hari pensiun tiba, penghasilan sudah datang dari beberapa sumber sekaligus.
Yang terpenting: mulai rencanakan dari sekarang, bukan nanti. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis
Disclaimer: Semua angka dalam artikel ini bersifat ilustrasi dan bukan jaminan hasil investasi. Sesuaikan dengan profil risiko, kondisi keuangan, dan konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat sebelum mengambil keputusan.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda