Informasi Artikel

Penulis Artikel

Muhammad Fadil Ramadhan

Bagi sebagian orang di Indonesia, tantangan finansial tidak selesai pada mencari penghasilan, tapi justru pada kemampuan mengatur gaji bulanan agar tidak habis begitu saja. Mungkin Anda pernah mengalaminya: gaji baru masuk, tapi sebelum akhir bulan, saldo sudah menipis. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Baca Juga: Liburan Akhir Tahun Menyenangkan Tanpa Membuat Keuangan Berantakan

Jawabannya tidak sesederhana “kurang disiplin”. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari godaan gaya hidup konsumtif, kemudahan transaksi digital, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus menekan daya beli. Akibatnya, niat menabung sering kali kandas di tengah jalan.

Baca Juga: Tips Membuat Anggaran Belanja Keluarga yang Realistis

Fenomena ini pun tercermin jelas dalam data. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) secara konsisten menunjukkan bahwa sekitar 74,5% pendapatan masyarakat habis untuk konsumsi, sementara alokasi untuk tabungan hanya berkisar 15%. Lebih mengkhawatirkan lagi, riset GoodStats mengungkap bahwa hampir 70% masyarakat Indonesia tidak memiliki dana tabungan sama sekali.

Namun, kondisi ini bukan akhir dari segalanya. Dengan pemahaman yang tepat dan strategi yang realistis, Anda tetap bisa mengambil alih kendali keuangan. Salah satu fondasi terpentingnya adalah membangun anggaran (budgeting) yang disiplin dan mudah dijalankan.

 

Metode Anggaran 50/30/20: Sederhana tapi Efektif

Jika Anda sering merasa anggaran terlalu rumit dan sulit dipatuhi, metode 50/30/20 bisa menjadi titik awal yang ideal. Metode ini membantu Anda memetakan alur uang secara jelas, tanpa perlu perhitungan yang berbelit-belit.

Prinsipnya sederhana: setiap penghasilan dibagi ke dalam tiga pos utama kebutuhan, keinginan, dan tabungan.

 

50% untuk Kebutuhan

Porsi terbesar dari gaji Anda dialokasikan untuk kebutuhan utama yang tidak bisa ditawar. Jika pos ini tidak terpenuhi, aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup Anda akan terganggu.

Yang termasuk kebutuhan antara lain:

  • Sewa kos atau cicilan rumah (KPR)
  • Belanja bahan makanan pokok
  • Biaya transportasi kerja (bensin, KRL, TransJakarta, ojek online)
  • Tagihan rutin seperti listrik, air, internet, dan BPJS
  • Biaya pendidikan anak atau kewajiban keluarga lainnya

Jika pengeluaran kebutuhan Anda melebihi 50%, itu menjadi sinyal penting untuk evaluasi apakah gaya hidup perlu disesuaikan, atau ada biaya yang bisa ditekan secara bertahap.

 

30% untuk Keinginan

Pos ini sering menjadi “biang keladi” kebocoran keuangan. Keinginan adalah pengeluaran yang tidak bersifat mendesak, namun memberikan kenyamanan atau kesenangan.

Contohnya:

  • Langganan layanan hiburan seperti Netflix atau Spotify
  • Nongkrong di kafe dan jajan kopi kekinian
  • Membeli gadget terbaru
  • Belanja pakaian di luar kebutuhan
  • Liburan, hobi, dan rekreasi

Kabar baiknya, pos keinginan adalah area paling fleksibel. Saat kondisi keuangan sedang ketat, inilah pos pertama yang bisa dikurangi tanpa mengganggu kebutuhan utama Anda.

 

20% untuk Tabungan dan Investasi

Inilah bagian terpenting dalam metode 50/30/20. Tabungan bukan sisa uang di akhir bulan, melainkan alokasi wajib yang harus disisihkan sejak awal.

Perlakukan tabungan seperti “tagihan” untuk masa depan Anda sendiri. Dana 20% ini bisa dialokasikan untuk:

  • Dana darurat, sebagai bantalan keuangan saat terjadi kondisi tak terduga
  • Investasi, seperti reksa dana, saham, emas, atau instrumen lain sesuai profil risiko
  • Tujuan finansial jangka panjang, seperti uang muka rumah, biaya pendidikan anak, atau dana pensiun

Jika 20% terasa berat di awal, Anda bisa memulainya dari angka yang lebih kecil, misalnya 10%, lalu meningkatkannya secara bertahap.

 

Kebiasaan Sederhana agar Konsisten Menabung

Memiliki anggaran saja tidak cukup. Kuncinya ada pada kebiasaan yang konsisten. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan:

 

1. Otomatiskan Tabungan

Manfaatkan fitur autodebet atau transfer otomatis di mobile banking. Begitu gaji masuk, dana tabungan langsung dipindahkan ke rekening terpisah.

 

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli sesuatu, beri jeda sejenak. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya keinginan sesaat?

 

3. Lacak Setiap Pengeluaran

Catat semua pengeluaran, sekecil apa pun. Cara ini efektif untuk menemukan “bocor halus” yang sering tidak terasa, seperti jajan kecil tapi rutin.

 

4. Hindari Utang Konsumtif

Batasi penggunaan paylater dan kartu kredit untuk gaya hidup. Bunga dan cicilan hanya akan menggerus kemampuan Anda menabung.

Membangun kebiasaan menabung bukan proses instan. Dibutuhkan komitmen, kesadaran, dan disiplin yang konsisten. Namun, dengan pendekatan yang tepat seperti metode anggaran 50/30/20, mengelola gaji bulanan menjadi jauh lebih terstruktur dan realistis.

Mulailah dari langkah kecil, lakukan secara konsisten, dan biarkan waktu bekerja untuk Anda. Setiap rupiah yang dikelola dengan bijak hari ini adalah fondasi bagi masa depan finansial yang lebih stabil dan tenang. Yuk, mulai atur gaji dengan lebih sadar karena masa depan yang sejahtera dibangun dari keputusan kecil yang konsisten.

Jika Anda butuh saran lebih lanjut, Anda bisa berkonsultasi dengan perencana keuangan pribadi di Tanya Ahli di Daya.id. Segera daftarkan diri Anda, gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Melipatgandakan Keuangan

Berapa Lama Simpan Emas? Penjelasan Singkat untuk Pemula

27 Mei 2025

5.0
Melipatgandakan Keuangan

Waspada Tertipu Investasi Bodong, Ini Cara Membedakan Emas Asli dan Palsu

18 Januari 2025

5.0
Melipatgandakan Keuangan

Tips Mengumpulkan Dana Darurat untuk Keluarga Baru

23 September 2025

5.0
Melipatgandakan Keuangan

Frugal Living, Cara Cermat Hidup Hemat

13 April 2022

Berikan Pendapat Anda

2 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS