Informasi Artikel

Dirilis

18 September 2026

Penulis Artikel

Ahmad Husnil Fikri


Tag

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga pada kondisi keuangan masyarakat. Sebaran abu vulkanik yang mencapai sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Lampung menyebabkan gangguan transportasi, penurunan kualitas udara, dan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan kebutuhan pokok.

Dalam situasi seperti ini, muncul risiko yang sering luput dari perhatian, yaitu panic spending. Dorongan untuk membeli barang secara berlebihan karena takut kehabisan stok dapat membuat pengeluaran rumah tangga menjadi tidak terkendali. Padahal, menjaga kesehatan finansial sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik saat menghadapi dampak abu vulkanik.

 

Erupsi Anak Krakatau dan Dampaknya bagi Masyarakat

Berdasarkan laporan BNPB, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 4 September 2026 menghasilkan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada berbagai sektor. Beberapa bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Radin Inten II, sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan akibat keberadaan abu vulkanik di ruang udara.

Selain mengganggu transportasi, abu vulkanik juga menimbulkan risiko kesehatan. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan karena paparan abu dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kulit. Anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan.

Kondisi ini kemudian memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Ketika mendengar adanya gangguan penerbangan, distribusi, dan aktivitas ekonomi, sebagian orang mulai membeli berbagai kebutuhan dalam jumlah besar sebagai bentuk antisipasi.

 

Apa Itu Panic Spending?

Panic spending adalah perilaku mengeluarkan uang secara berlebihan akibat rasa takut terhadap ketidakpastian atau potensi kelangkaan barang. Perilaku ini sering muncul saat terjadi bencana alam, pandemi, atau gangguan distribusi yang membuat masyarakat khawatir kebutuhan sehari-hari sulit diperoleh.

Fenomena ini mirip dengan panic buying, yaitu pembelian dalam jumlah besar yang didorong oleh emosi, bukan kebutuhan nyata. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rasa takut, ketidakpastian, dan pengaruh lingkungan sosial menjadi faktor utama yang memicu perilaku tersebut.

 

Mengapa Erupsi Anak Krakatau Bisa Memicu Panic Spending?

Ketika masyarakat melihat pemberitaan mengenai sebaran abu vulkanik, penutupan bandara, dan potensi gangguan aktivitas ekonomi, muncul kekhawatiran bahwa kebutuhan pokok akan menjadi langka. Meski pemerintah dan instansi terkait terus melakukan pemantauan serta distribusi bantuan, informasi yang beredar di media sosial terkadang memicu kepanikan yang berlebihan.

Padahal, BNPB secara aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan logistik, termasuk stok makanan dan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak. Selain itu, bantuan masker dan kebutuhan darurat lainnya juga telah didistribusikan kepada masyarakat.

Karena itu, keputusan membeli barang dalam jumlah besar tanpa perhitungan sering kali lebih didorong oleh rasa takut daripada kebutuhan yang sebenarnya.

 

Dampak Panic Spending terhadap Keuangan Keluarga

Baca Juga : Antisipasi Cuaca Hari Ini: Tips Jaga Imun untuk Anda yang Aktif

 

1. Menguras Dana Darurat

Dana darurat seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting selama masa krisis, seperti biaya kesehatan, pembelian obat-obatan, atau kebutuhan evakuasi. Jika dana tersebut habis untuk memborong barang yang belum tentu diperlukan, keluarga akan lebih rentan menghadapi situasi darurat berikutnya.

 

2. Membengkakkan Pengeluaran Bulanan

Pembelian impulsif dapat membuat anggaran rumah tangga melonjak jauh di atas rencana. Akibatnya, kebutuhan penting lainnya justru berisiko terabaikan.

 

3. Memicu Utang Konsumtif

Sebagian orang memilih menggunakan kartu kredit atau pinjaman untuk membeli stok barang dalam jumlah besar. Bila kondisi sudah normal, tagihan yang menumpuk berpotensi menjadi masalah keuangan baru.

 

4. Menyebabkan Kelangkaan Semu

Ketika banyak orang membeli secara berlebihan, stok barang di pasar bisa habis sementara. Akibatnya, masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan memperoleh barang tersebut.

 

Cara Bijak Mengelola Keuangan Saat Abu Vulkanik Menyerang


 

1. Fokus pada Kebutuhan Prioritas


Siapkan kebutuhan penting seperti makanan siap saji, air minum, obat-obatan, masker, dan perlengkapan P3K. Hindari membeli barang yang tidak memiliki urgensi dalam situasi darurat.

 

2. Buat Anggaran Khusus Bencana

Pisahkan dana untuk kebutuhan darurat dari anggaran bulanan. Dengan cara ini, pengeluaran selama masa krisis tetap dapat dikontrol.

 

3. Gunakan Dana Darurat Secara Terukur

Dana darurat memang disediakan untuk keadaan tak terduga, tetapi penggunaannya harus berdasarkan kebutuhan riil, bukan ketakutan sesaat.

 

4. Ikuti Informasi Resmi

Masyarakat disarankan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi BNPB, BMKG, PVMBG, dan pemerintah daerah. BMKG bahkan mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait dampak erupsi Anak Krakatau.

 

5. Hindari Menimbun Barang

Membeli secukupnya membantu menjaga ketersediaan barang bagi seluruh masyarakat sekaligus melindungi kondisi keuangan keluarga.

 

6. Pelajaran dari Erupsi Anak Krakatau

Peristiwa erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan pada aspek fisik dan kesehatan, tetapi juga perilaku ekonomi masyarakat. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, kemampuan mengelola emosi menjadi kunci untuk mengambil keputusan keuangan yang rasional.

Sebagaimana diimbau BNPB dalam berbagai pedoman kesiapsiagaan bencana, masyarakat perlu tetap tenang, memahami risiko, dan melakukan persiapan yang terukur. Sikap panik justru dapat memperburuk keadaan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

 

Kesimpulan

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 menjadi contoh nyata bagaimana bencana alam dapat memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Gangguan transportasi, sebaran abu vulkanik, dan kekhawatiran terhadap ketersediaan barang dapat memicu panic spending jika tidak disikapi secara bijak.

Oleh karena itu, masyarakat perlu fokus pada kebutuhan prioritas, menjaga dana darurat, menghindari pembelian berlebihan, dan selalu mengacu pada informasi resmi. Dengan tetap tenang dan rasional, keluarga tidak hanya mampu menghadapi dampak abu vulkanik dengan lebih baik, tetapi juga menjaga kesehatan finansial di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Punya pertanyaan lebih lanjut? Segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
6 Kebiasaan Kecil untuk Bikin Tabungan Bertambah Lebih Cepat dibanding Sebelumnya
Tabungan

6 Kebiasaan Kecil untuk Bikin Tabungan Bertambah Lebih Cepat dibanding Sebelumnya

20 Agustus 2026

5.0
Penghasilan Naik Turun? Begini 6 Cara Mengelola Uang Saat Penghasilan Tidak Tetap
Tabungan

Penghasilan Naik Turun? Begini 6 Cara Mengelola Uang Saat Penghasilan Tidak Tetap

19 Agustus 2026

4.0
Cara Membuat Anggaran Bulanan Sederhana
Tabungan

Cara Membuat Anggaran Bulanan Sederhana

13 Agustus 2026

5.0
Masih Tabung Sisa Gaji? Hati-hati, Ini Kesalahan Sebagian Anak Muda!
Tabungan

Masih Tabung Sisa Gaji? Hati-hati, Ini Kesalahan Sebagian Anak Muda!

08 Agustus 2026

Berikan Pendapat Anda