Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ritme hidup Anda berubah. Waktu makan bergeser, aktivitas ibadah meningkat, dan pengeluaran pun sering kali ikut naik. Ada kebutuhan sahur dan berbuka, rencana buka bersama, persiapan mudik, hingga belanja kebutuhan Lebaran. Di tengah semua itu, ada satu hal penting yang justru tidak boleh terlewat: zakat dan sedekah.
Sering kali Anda mungkin bertanya dalam hati, “Bagaimana cara mengatur keuangan selama bulan puasa agar tetap bisa maksimal beribadah tanpa membuat kondisi finansial jadi berantakan?” Pertanyaan ini sangat wajar. Ramadhan bukan hanya bulan spiritual, tetapi juga bulan manajemen diri termasuk manajemen uang.
Mari kita bahas dengan santai dan runtut, agar Anda bisa menyusun prioritas keuangan selama Ramadhan dengan lebih tenang dan bijak.
1. Luruskan Niat dan Pahami Perbedaan Zakat dan Sedekah
Pertama, penting untuk memahami bahwa zakat dan sedekah bukan sekadar “pengeluaran tambahan”. Zakat adalah kewajiban bagi Anda yang sudah memenuhi syarat nisab dan haul. Sementara sedekah bersifat sunnah, fleksibel, dan bisa dilakukan kapan saja.
Dalam konteks Ramadhan, keduanya memiliki nilai yang sangat besar. Banyak orang memilih menunaikan zakat di bulan puasa karena pahala yang berlipat. Sedekah pun terasa lebih ringan karena suasana hati lebih lembut dan empati meningkat.
Ketika Anda memandang zakat sebagai kewajiban utama dan sedekah sebagai investasi akhirat, cara Anda mengatur keuangan otomatis akan berubah. Anda tidak lagi melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai prioritas.
2. Jadikan Zakat Sebagai Pos Anggaran Tetap
Tips paling penting: jangan menunggu sisa uang untuk membayar zakat. Jika Anda sudah tahu memiliki kewajiban zakat (misalnya zakat mal atau zakat penghasilan), hitunglah sejak awal Ramadhan. Sisihkan di awal, bukan di akhir. Perlakukan zakat seperti Anda membayar cicilan atau tagihan listrik—sesuatu yang tidak boleh ditunda.
Dengan cara ini, Anda tidak akan tergoda menghabiskan dana tersebut untuk kebutuhan konsumtif. Secara psikologis, uang yang sudah “dipisahkan” terasa bukan lagi milik Anda.
Anda bisa membuat pembagian sederhana:
- Kebutuhan rutin bulanan
- Kebutuhan Ramadhan & Lebaran
- Zakat (wajib)
- Sedekah (fleksibel)
Ketika struktur ini jelas, keputusan keuangan Anda menjadi lebih terarah.

3. Kendalikan Pengeluaran Konsumtif
Ramadhan sering kali identik dengan diskon, promo, dan godaan belanja. Mulai dari takjil beragam, hampers, baju baru, hingga pernak-pernik dekorasi rumah. Tidak ada yang salah dengan menikmati momen. Namun Anda tetap perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat? Coba lakukan latihan sederhana. Setiap kali ingin membeli sesuatu, tunda 24 jam. Jika setelah 24 jam Anda masih merasa itu penting, silakan beli. Jika tidak, berarti itu hanya dorongan emosional. Ingat, semakin terkendali pengeluaran konsumtif Anda, semakin lapang ruang untuk zakat dan sedekah.
Baca juga: Survei: Saat Puasa Merasa Lebih Boros! Ini Cara Kelola Keuangan di Bulan Ramadhan
4. Tentukan Target Sedekah yang Realistis
Sedekah memang tidak wajib dalam jumlah tertentu. Namun agar konsisten, Anda bisa menetapkan target. Misalnya:
- Sedekah harian selama 30 hari
- Sedekah setiap Jumat
- Menyediakan paket buka puasa untuk beberapa orang
- Membantu satu keluarga yang membutuhkan
Target ini tidak harus besar. Yang penting realistis dan berkelanjutan. Lebih baik sedikit tapi rutin daripada besar sekali lalu berhenti. Anda juga bisa membagi sedekah menjadi dua kategori:
- Sedekah spontan (ketika melihat kebutuhan mendesak)
- Sedekah terencana (yang sudah Anda anggarkan)
Dengan begitu, Anda tetap fleksibel tanpa kehilangan kontrol keuangan.
5. Dahulukan yang Wajib, Baru yang Sunnah
Ini prinsip sederhana tapi sering terbalik. Kadang seseorang sangat semangat bersedekah, tetapi lupa menghitung kewajiban zakatnya secara benar. Dalam prioritas keuangan, urutannya jelas:
- Kebutuhan pokok keluarga
- Kewajiban (zakat, utang)
- Sedekah dan infak
- Keinginan tambahan
Dengan memahami urutan ini, Anda tidak akan merasa tertekan. Justru Anda akan merasa lebih mantap karena setiap rupiah yang keluar memiliki dasar yang jelas.
6. Libatkan Keluarga dalam Keputusan
Ramadhan adalah momen kebersamaan. Mengapa tidak menjadikannya juga momen edukasi finansial? Ajak pasangan dan anak berdiskusi tentang zakat dan sedekah. Jelaskan bahwa sebagian rezeki yang Anda miliki ada hak orang lain di dalamnya. Libatkan anak saat memberikan sedekah agar mereka belajar berbagi sejak dini. Ketika keluarga memahami prioritas ini, Anda tidak sendirian menjaga komitmen keuangan. Semua bergerak dalam arah yang sama.
7. Manfaatkan Teknologi Secara Bijak
Saat ini, membayar zakat dan menyalurkan sedekah sangat mudah melalui platform digital. Anda bisa memilih lembaga terpercaya dan melakukan transfer dalam hitungan menit. Namun tetap pastikan:
- Lembaga memiliki reputasi baik
- Transparan dalam laporan penyaluran
- Legal dan terdaftar resmi
Kemudahan digital seharusnya membuat Anda lebih disiplin, bukan lebih impulsif.
8. Jangan Lupa Evaluasi di Akhir Ramadhan
Menjelang akhir bulan puasa, sempatkan waktu untuk mengevaluasi. Apakah Anda sudah menunaikan zakat dengan benar? Apakah target sedekah tercapai? Bagaimana kondisi keuangan Anda menjelang Lebaran? Evaluasi ini bukan untuk menghakimi diri sendiri, tetapi untuk belajar. Jika ada kekurangan, Anda bisa memperbaikinya tahun depan. Ramadhan selalu berulang setiap tahun. Kesempatan memperbaiki manajemen keuangan pun selalu ada.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang menahan lapar semata. Ini adalah latihan mengendalikan diri termasuk dalam mengelola uang.
Ketika Anda mampu menempatkan zakat sebagai kewajiban utama dan sedekah sebagai prioritas mulia, Anda sedang membangun keseimbangan antara dunia dan akhirat. Anda belajar bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan.
Menariknya, banyak orang merasakan hal yang sama: semakin teratur mereka dalam berzakat dan bersedekah, justru semakin terasa cukup rezekinya. Ada ketenangan batin yang sulit dijelaskan dengan angka.
Jadi selama bulan puasa ini, cobalah menyusun ulang prioritas keuangan Anda. Bukan sekadar agar pengeluaran terkendali, tetapi agar setiap rupiah yang keluar memiliki makna.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang apa yang Anda tahan, melainkan juga tentang apa yang Anda berikan.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda