Di balik setiap sosok yang sukses, selalu ada perjalanan panjang yang penuh tekad, jatuh-bangun, keberanian untuk bangkit. Begitu pula kisah Agha, pemuda Tuli berusia 22 tahun yang sedang menempuh pendidikan di ITECH, semester 7. Di luar rutinitas kuliah, hidupnya banyak diwarnai cinta pada satu hal: Basket. Bukan sekedar hobi, basket menjadi jalan yang membentuk fisik, karakter, bahkan mimpinya di masa depan.
Awal Perjalanan: Dari Rasa Suka Menjadi Komitmen Serius
Ketertarikan Agha pada basket dimulai sejak 2018, saat masih kelas 9 SMP. Pada masa itu, ia hanya sekadar menikmati permainan dan merasa senang ketika memegang bola basket. Namun, rasa suka itu terus tumbuh hingga akhirnya pada 2019 ia bergabung dengan komunitas Tuli Basket. Lingkungan ini menjadi titik penting dalam hidupnya, tempat di mana ia merasa diterima, bisa berkembang, dan berlatih bersama teman-teman yang memiliki pengalaman serupa.
Tahun 2023 menjadi langkah besar berikutnya. Agha bergabung dengan IDB (Indonesian Deaf Basketball) Academy, sebuah klub atau akademi basket Tuli Indonesia. Di sinilah, ia mulai mengasah diri lebih serius, bukan hanya sebagai pemain tetapi juga sebagai bagian dari klub yang ingin maju bersama.
![]()
Rutinitas Latihan yang Intens dan Penuh Dedikasi
Setiap minggu, Agha datang latihan satu kali, biasanya empat kali dalam sebulan, setiap hari Sabtu. Sekilas terlihat sederhana, tapi durasi latihannya luar biasa: 5 jam setiap sesi.
Selama latihan panjang itu bagian yang paling ia nikmati adalah shoot, layup, dribble, dan defense. “semua itu bikin aku merasa hidup,” ujarnya. Aktivitas intens tersebut membantunya berkembang, baik sebagai pemain maupun pribadi.
Perubahan positif pun terasa di tubuhnya. Ia merasa lebih bugar, stamina meningkat, bahkan merasa pikirannya lebih jernih. Basket bukan hanya menggerakkan otot, tetapi juga menggerakkan mentalnya.
![]()
Kebiasaan Kecil yang Menjaga Tubuh Tetap Kuat
Latihan lima jam bukan hal mudah. Karena itu, Agha punya beberapa kebiasaan untuk menjaga kondisi tubuh. Ia selalu berusaha tidur lebih awal agar tubuhnya siap saat latihan tiba. Ia juga rutin melakukan olahraga sederhana seperti lari, agar stamina tetap terjaga.
Dalam keseharian, Agha menjaga pola hidup sehat melaui makan teratur tiga kali sehari dan memperbanyak sayur serta ayam. Menurutnya, makan yang baik dapat membantu tubuh lebih “powerful” saat latihan.
Meski bisa berbagai jenis olahraga, tapi basket tetap menjadi yang utama karena ia cuma suka basket. Baginya, cinta terhadap basket dimulai dari menonton para idolanya: Kobe Bryant dan Kyrie Irving. Gerakan, semangat, dan mental juara mereka menjadi insipirasinya.
Motivasi yang Lebih dari Sekadar Bertanding
Agha bukan sekadar pemain. Ia juga seorang kapten di klubnya. Itulah alasan ia selalu datang lebih awal, menyapa teman-teman Tuli dan coach, serta memastikan semua berjalan dengan baik.
Baginya, datang latihan bukan soal kejuaraan atau kemenangan. Ia menikmati prosesnya berkumpul, berlatih bersama, dan merasakan energi positif dari klub.
Membantu Sesama: Dari Pemain Menjadi Pembimbing
Selain aktif bermain, Agha juga menjadi asisten coach di eskul basket Santi Rama. Ia menikmati momen ketika bisa membantu pemain lain belajar dasar-dasar basket.
Ketika ada yang ingin mulai basket tapi merasa belum jago, Agha selalu berkata, “Yang penting ada niat dan tujuan.” Namun sebelum itu, ia juga mendorong orang untuk menikmati dulu permainannya. Coba basket pelan-pelan, rasakan keseruannya, dan biarkan momen-momen kecil seperti berhasil melakukan dribble pertama atau masukin bola sekali. Setelah muncul rasa suka dan “ketagihan” itu, barulah niat dan tujuan akan terbentuk dengan sendirinya. Menurut Agha, kemampuan bisa diasah, tetapi kecintaan pada permainan adalah fondasi yang membuat seseorang bertahan dan terus berkembang.
Baginya, membantu orang lain menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Ia sering menemani teman-temannya yang sedang mengalami mental down, memberi semangat, dan memastikan mereka tidak menyerah.
Titik Terendah yang Menguatkan Mental
Perjalanannya tidak selalu mulus, Agha pernah mengalami pengalaman pahit ketika diomeli oleh mantan pelatihnya. Momen itu membuat mentalnya jatuh. Namun, dari situ ia belajar untuk bangkit.
Ia menyadari bahwa dunia basket bukan hanya soal keterampilan fisik, tetapi juga kekuatan mental. Dari pengalaman itu, ia berusaha menjadi pribadi yang lebih kuat dan itu pula yang ia tularkan kepada teman-temannya.
Mimpi Besar untuk Masa Depan
Keinginan Agha ke depannya adalah ingin sukses sebagai kapten di Indonesian Deaf Basketball Academy. Ia juga berharap klub basket Tuli bisa lebih dikenal di seluruh Indonesia, sehingga suatu hari mereka bisa bertanding di luar negeri.
Bagi Agha, mimpi itu bukan sekadar keinginan, tetapi sesuatu yang ia perjuangkan sepenuh hati melalui latihan, disiplin, dan peran aktif dalam komunitas.
Pesan untuk Siapa Pun yang Ingin Memulai Olahraga
Agha punya tips sederhana namun penting:
“Buat niat dan tujuan. Cari olahraga yang kamu nikmati. Yang terpenting adalah konsisten dan disiplin,”
Melalui kisahnya, ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bergerak, berkembang, dan menginspirasi.
Ingin semakin termotivasi untuk hidup sehat dan aktif seperti Agha? Yuk, kunjungi daya.id dan temukan berbagai tips gaya hidup, kesehatan, serta inspirasi lainnya. Daftarkan diri dan manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk mendapatkan saran langsung dari pakarnya, agar perjalanan sehatmu makin terarah dan konsisten!