Linda Medianty dikenal sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. Di balik rutinitas itu, ia bersama sang suami mengelola sebuah pabrik kecil yang memproduksi mainan anak, usaha yang telah mereka rintis sejak tahun 2016 dan menyimpan banyak pelajaran berharga di dalamnya.
Saat Berjualan Saja Tidak Lagi Mencukupi
Jauh sebelum menjadi produsen, Linda dan suaminya memulai langkah pertama sebagai penjual mainan biasa. Mereka membeli produk dari pemasok, lalu menjualnya kembali kepada pembeli. Cara ini terdengar sederhana, tapi menyimpan satu masalah yang terus berulang.
Menurut Linda, stok barang dari pemasok kerap kali sulit didapatkan, dan hal itu langsung berdampak pada performa penjualan mereka."Terkadang barang itu susah didapat, dan akhirnya berpengaruh pada penjualan kami," ujarnya.
Momen yang mengubah segalanya datang dari pengalaman sang suami, yang sebelumnya sempat bekerja di sebuah perusahaan importir mainan anak. Dari sanalah muncul gagasan sederhana namun berani, yaitu berhenti bergantung pada pihak lain dan mulai memproduksi sendiri. "Awalnya kami hanya berjualan, belum memproduksi sendiri. Tapi lama-lama kami berpikir, kenapa tidak coba produksi sendiri, supaya kami bisa lebih leluasa menentukan barang mana yang paling laku untuk diperbanyak," kata Linda menjelaskan alasan di balik keputusan besar tersebut.
Dari titik itulah lahir produk andalan mereka, block building, mainan balok susun berukuran besar untuk anak usia tiga tahun ke atas. Berbeda dari lego pada umumnya yang berukuran kecil, produk Linda dan suaminya dirancang lebih besar, bisa dibentuk menjadi kendaraan, hewan, sampai bangunan rumah. Lini produk mereka pun terus berkembang dengan hadirnya puzzle berbahan plastik warna-warni sebagai variasi baru.
Baca juga: Eviy Olivia, Apoteker yang Sukses Bangun Sekolah Musik Indonesia
Bisnis Kecil dengan Sistem Kerja yang Rapi
Meski pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan berdua tanpa campur tangan pihak luar, jalannya produksi tetap membutuhkan tangan-tangan tambahan. Tiga karyawan dilibatkan untuk membantu operasional harian, mulai dari mengoperasikan mesin cetak hingga mengemas produk sebelum dikirim ke pelanggan.
Menariknya, pembagian kerja antara Linda dan suami tidak dibuat kaku. Keduanya lebih memilih saling mengisi peran sesuai apa yang paling dibutuhkan pada saat itu.
Linda menceritakan bahwa meski ada gambaran umum siapa mengerjakan apa, kenyataannya keduanya sering bertukar peran. Ada kalanya suaminya turun tangan mengurus keuangan, dan ada kalanya ia sendiri yang lebih fokus mengawasi jalannya produksi, karena bagi mereka yang terpenting adalah saling melengkapi. "Secara garis besar ada pembagian, tapi kami menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Kami selalu saling melengkapi," katanya.
Ketika Produksi dan Penjualan Tidak Selalu Berjalan Mulus
Berkecimpung di dunia manufaktur ternyata menghadirkan tantangannya sendiri. Linda mengaku proses produksinya kerap terganggu oleh berbagai kendala teknis, mulai dari mesin yang tiba-tiba rusak, cetakan yang bermasalah, hingga bahan baku yang sulit dicari.
Di sisi penjualan, tantangan lain muncul ketika produk mainan lain sedang digandrungi pasar. Kondisi semacam ini biasanya membuat penjualan mereka ikut melambat. Namun karena membuat cetakan baru membutuhkan waktu cukup lama, Linda dan suaminya memilih pendekatan yang lebih tenang, yaitu bertahan dengan stok yang ada, dibanding terburu-buru mengejar tren yang belum tentu bertahan lama.
Menurutnya, ketika ada produk lain yang sedang ramai dibicarakan, mereka lebih memilih tetap memproduksi apa yang bisa diproduksi dan menyimpannya sebagai stok, karena naik turunnya penjualan memang sudah menjadi bagian yang wajar dalam berbisnis. "Penjualan itu memang selalu ada masanya, ada naik ada turun," ujarnya.
Sementara untuk kendala mesin, solusinya cukup sederhana, yaitu bersabar menunggu proses perbaikan tuntas sebelum kembali beroperasi seperti biasa.

Rahasia di Balik Keuangan yang Tertata Rapi
Salah satu kekuatan utama usaha Linda terletak pada caranya mengelola keuangan. Karena statusnya sudah berbadan hukum, ia menerapkan pemisahan tegas antara rekening pribadi dan rekening usaha.
Ia menjelaskan bahwa status badan hukum yang dimiliki usahanya mengharuskan adanya pemisahan yang jelas antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan operasional pabrik. "Karena usaha ini sudah berbadan hukum, jadi harus ada pemisahan yang jelas antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan untuk pabrik," jelasnya.
Untuk pencatatan keuangan, Linda tidak lagi mengandalkan cara-cara manual seperti mencatat di buku atau spreadsheet sederhana. Ia beralih menggunakan aplikasi general ledger khusus, mengingat kebutuhan penyusunan laporan keuangan tahunan yang menuntut ketelitian tinggi.
Kedisiplinan inilah yang membuatnya menjadi alasan mengapa ia tidak pernah menghadapi kesalahan besar dalam mengelola keuangan usahanya, karena semua sudah direncanakan dan dipisahkan sejak awal.
Pandemi yang Justru Membawa Berkah Tak Terduga
Berbeda dari kebanyakan cerita pelaku usaha lain, masa pandemi justru menjadi momen paling berkesan bagi Linda, bukan karena kesulitan, melainkan karena lonjakan permintaan yang di luar dugaan. Saat banyak sektor usaha lumpuh akibat pembatasan sosial, produknya justru laris manis.
Ia menduga fenomena tersebut terjadi karena anak-anak yang terpaksa belajar dari rumah membutuhkan hiburan, sementara para orang tua mencari cara agar buah hati mereka tetap sibuk dan tidak jenuh selama masa karantina.
Menatap Masa Depan dengan Harapan Sederhana
Setelah lebih dari satu dekade berjalan, Linda mengaku belum ada kepastian mengenai siapa yang akan meneruskan usaha keluarga ini kelak, mengingat anak-anaknya memiliki minat di bidang yang jauh berbeda dari dunia manufaktur mainan.
Ia berharap, meski belum tahu pasti siapa yang akan melanjutkan usaha ini di masa depan, setidaknya bisnis yang telah dibangun bersama suaminya bisa terus bertahan dan berkembang. "Beberapa tahun ke depan, usaha ini masih akan kami pegang berdua. Tapi harapannya, semoga usaha ini masih bisa bertahan dan terus dilanjutkan," harapnya.

Prinsip yang Selalu Dipegang Teguh
Linda membagikan beberapa prinsip sederhana yang selama ini menjadi pegangannya dalam berusaha sekaligus mengelola keuangan.
Menurutnya, kunci utama dalam berusaha adalah tidak mudah menyerah dan tidak suka menunda pekerjaan, karena apa yang bisa dikerjakan hari ini sebaiknya segera diselesaikan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya mengatur keuangan dengan cermat, memilah mana pengeluaran yang perlu dan mana yang sebaiknya dihindari. "Tipsnya, jangan mudah menyerah. Kedua, jangan suka menunda pekerjaan, apa yang bisa dikerjakan sekarang, kerjakan saja. Lalu, harus bisa mengatur keuangan dengan cermat, mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak, itu harus benar-benar diperhatikan," pesannya.
Ia menutup pesannya dengan menekankan bahwa keberanian mencoba hal baru harus dilandasi keyakinan dan kedisiplinan, bukan sekadar coba-coba tanpa arah. Baginya, begitu memutuskan untuk mencoba sesuatu, hal itu harus dikerjakan dengan sepenuh hati dan komitmen penuh.
Baca juga: Sugeng Sugiarto, Intuisi Membangun Cakwe Galaxy
Penutup
Perjalanan Linda Medianty menjadi bukti bahwa usaha yang dibangun dengan perencanaan matang, kedisiplinan finansial, dan ketekunan menghadapi berbagai rintangan, mampu terus bertumbuh bahkan di momen yang paling sulit diprediksi. Dari sekadar menjadi penjual mainan pihak ketiga, kini ia dan suaminya berhasil membangun lini produksi sendiri yang telah bertahan lebih dari satu dekade lamanya.
Jika masih memiliki pertanyaan tekait informasi keuangan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahlinya melalui fitur Tanya Ahli dan untuk mendapatkan saran yang tepat. Dengan mendaftar di daya.id, seluruh informasi terkait keuangan dapat diakses dengan gratis dan mudah. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi dan daftarkan diri Anda di daya.id sekarang juga!
Berikan Pendapat Anda