Informasi Artikel

Dirilis

13 Juli 2026

Penulis Artikel

Franchisepedia


Pengusaha

Eviy Olivia

Jenis Usaha

Pemilik Franchise Sekolah Musik Indonesia

Tag

Eviy Olivia adalah seorang sarjana farmasi yang memulai karier sebagai apoteker dan mengelola apotek miliknya sendiri sejak 2004 hingga 2015. Memasuki tahun 2020, ia memutuskan untuk fokus pada pengelolaan bisnis dan tidak lagi aktif menjalankan profesi apoteker.

Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan Eviy dalam membangun berbagai lini usaha, mulai dari Sekolah Musik Indonesia, Bee Bee Gym, Le Marc, SMI Store, SMI Building, Studio 8, hingga sejumlah bisnis lainnya.

Salah satu bisnis yang paling berkembang adalah Sekolah Musik Indonesia (SMI). Saat ini, SMI telah hadir di 11 unit yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan omzet mencapai Rp4,5 miliar per tahun.

Bagaimana perjalanan Eviy membangun bisnis pendidikan musik hingga mencapai titik tersebut? Berikut kisah lengkapnya.

 

Dari Apoteker Menjadi Pengusaha di Berbagai Bidang

Saat berbicara tentang latar belakangnya, Eviy mengaku tidak memiliki bekal khusus di bidang musik maupun manajemen pendidikan.

“Saya tidak punya background musik maupun manajemen. Tetapi saya terlatih dan terbiasa mengurus segala hal dengan cepat dan tepat sejak kuliah. Saya juga terbiasa mempertimbangkan berbagai risiko dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Selain itu, hobinya bepergian dan mempelajari hal-hal baru turut membentuk pola pikirnya dalam berbisnis.

“Karena saya hobi traveling untuk mempelajari banyak hal, saya terbiasa berpikiran terbuka dalam bekerja sama dengan tim. Hal itu sangat membantu saya dalam menjalankan bisnis ini,” tambahnya.

 

Awal Mula Lahirnya Sekolah Musik Indonesia

Ide mendirikan Sekolah Musik Indonesia sebenarnya berawal dari sang suami yang memiliki ketertarikan besar pada dunia pendidikan anak.

“Suami saya menyukai bidang yang berkaitan dengan anak-anak. Ia melihat bagaimana bahagianya anak-anak ketika tampil bermusik di atas panggung,” kenang Eviy yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah.

Dalam perjalanannya, sang suami bertemu dengan seorang partner yang melihat adanya peluang besar di industri pendidikan musik Indonesia. Saat itu, pembelajaran musik berbasis teknologi masih banyak ditujukan untuk orang dewasa, sementara anak-anak belum memiliki akses yang memadai.

Padahal, di berbagai negara lain, pendidikan musik berbasis teknologi telah menjadi bagian penting dalam proses belajar anak sejak usia dini.

Selain itu, Eviy dan suaminya juga melihat bahwa les musik tidak hanya mengajarkan kemampuan bermain alat musik, tetapi juga memberikan manfaat lain, seperti:

  • Meningkatkan rasa percaya diri anak
  • Mengembangkan kreativitas
  • Membentuk mental yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan

“Saya mendukung keputusan suami untuk berinvestasi di Sekolah Musik Indonesia karena ia juga ingin memiliki bisnis sendiri,” jelasnya.

 

Pandemi Menjadi Momentum untuk Terjun Penuh ke Bisnis Musik

Keputusan Eviy untuk terlibat secara penuh dalam pengelolaan Sekolah Musik Indonesia terjadi pada masa pandemi COVID-19.

Saat itu, suaminya mengalami perubahan ritme kerja sekaligus penurunan kondisi kesehatan sehingga membutuhkan dukungan lebih besar dalam menjalankan bisnis.

“Bertepatan dengan pandemi COVID-19 yang mengubah kesibukan kerjanya dan memengaruhi kesehatannya, saya mengambil keputusan untuk terjun sepenuhnya ke Sekolah Musik Indonesia,” ungkap Eviy.

Di sisi lain, mereka juga melihat bahwa keberlangsungan bisnis ini sangat penting bagi para karyawan dan siswa yang bergantung pada layanan pendidikan yang diberikan.

Pandemi menghadirkan tantangan besar. Namun, kondisi tersebut justru mendorong Sekolah Musik Indonesia untuk berinovasi melalui pembelajaran jarak jauh dan pengembangan kelas online yang lebih interaktif.

 

Persiapan Membangun Sekolah Musik Indonesia

Sebelum memulai bisnis ini, Eviy melakukan berbagai persiapan matang, mulai dari penyediaan fasilitas hingga pengembangan sumber daya manusia.

Modal awal dikeluarkan secara bertahap untuk renovasi gedung, pengadaan fasilitas pendukung, serta kebutuhan operasional lainnya. Seluruh pendanaan berasal dari tabungan pribadi yang telah dikumpulkan sejak awal bekerja, ditambah keuntungan usaha yang terus diinvestasikan kembali.

“Kami mempersiapkan gedung dengan fasilitas yang memadai dan kapasitas yang sesuai untuk menampung murid. Selain itu, kami juga menyiapkan program pelatihan bagi para pengajar agar sesuai dengan sistem edukasi Sekolah Musik Indonesia,” jelasnya.

Dari sisi organisasi, Eviy juga melibatkan konsultan HRD untuk membantu membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Sebelum melakukan ekspansi, tim melakukan analisis terhadap beberapa aspek penting, yaitu:

  • Biaya operasional
  • Biaya tenaga kerja, khususnya guru
  • Target pasar
  • Tren dan perkembangan industri kursus musik

Untuk mendukung operasional jangka panjang, Eviy membangun kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari tenaga edukasi, konsultan HRD, hingga vendor alat musik.

Langkah awal memperkenalkan brand dilakukan melalui grand opening selama tiga hari di Kota Solo.

 

Tantangan Awal: SDM dan Brand yang Belum Dikenal


Sebagai bisnis baru dengan konsep yang relatif berbeda dari sekolah musik konvensional, Sekolah Musik Indonesia menghadapi berbagai tantangan pada masa awal operasional.

Menurut Eviy, tantangan terbesar datang dari sisi sumber daya manusia.

“Para guru berasal dari latar belakang dan idealisme musik yang berbeda-beda. Selain itu, sistem kami saat itu juga belum sekuat sekarang,” jelasnya.

Tantangan lainnya adalah membangun kepercayaan pasar terhadap brand yang masih baru.
“Saat itu orang belum mengenal Sekolah Musik Indonesia, apalagi dengan konsep musik-teknologi yang masih tergolong baru,” katanya.

Selain itu, keterbatasan tim dan adanya SDM yang kurang bertanggung jawab turut menjadi hambatan dalam proses pengembangan bisnis.
 

Reset Sistem hingga Raih Omzet Rp4,5 Miliar per Tahun

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Eviy bersama tim melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem operasional perusahaan.

“Kami melakukan reset sistem berdasarkan pengalaman yang sudah kami miliki. Sistem terus dilengkapi hingga saat ini kami memiliki sistem yang cukup lengkap bagi calon mitra,” ujarnya.

Dalam pengelolaan SDM, Eviy menerapkan sistem delegasi kepada para manajer agar mereka dapat memimpin tim secara lebih efektif, sementara dirinya melakukan kontrol dan evaluasi secara berkala.

Meski demikian, tantangan terkait SDM masih menjadi perhatian hingga saat ini.

“Kesulitan terbesar adalah mendapatkan dan mengelola tenaga kerja yang berkualitas serta loyal. Ada kesenjangan pendidikan dan budaya kerja di berbagai daerah yang harus kami hadapi,” jelasnya.

Baginya, setiap masalah yang muncul menjadi bahan evaluasi untuk terus menyempurnakan sistem dan manajemen perusahaan.

Hasilnya, Sekolah Musik Indonesia kini telah berkembang menjadi 11 unit yang tersebar di berbagai kota, yaitu: Kantor Pusat di SMI Building, Puri Anjasmoro, Semarang; Unit Cabang di Gang Pinggir, Semarang dan Alam Sutera, Tangerang Selatan; Unit Mitra di Solo, Yogyakarta, Madiun, Purwodadi, Kutoarjo, Bintaro, BSD, dan Palu.

Saat ini, Sekolah Musik Indonesia mencatat omzet sekitar Rp4,5 miliar per tahun dengan periode balik modal (payback period) sekitar empat tahun.
Strategi Kemitraan Menjadi Kunci Pertumbuhan

Menurut Eviy, perubahan terbesar yang mendorong pertumbuhan bisnis adalah penerapan strategi kemitraan.

“Perubahan terbesar adalah strategi kemitraan dalam memperluas jaringan Sekolah Musik Indonesia,” ungkapnya.

Dalam memilih mitra, Eviy tidak hanya mempertimbangkan aspek finansial, tetapi juga kesamaan visi.

“Kami mencari partner yang memiliki visi yang sama. Sebagai bisnis pendidikan, fokus kami bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga membangun bisnis yang sehat dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi,” tegasnya.

Ia juga menilai keberhasilan perusahaan saat ini tidak lepas dari kontribusi tim yang telah bertumbuh bersama sejak awal.

 

Pemanfaatan Teknologi dan Digital Marketing

Untuk mendukung operasional yang semakin besar, Sekolah Musik Indonesia mengembangkan sistem informasi internal yang digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Sistem tersebut membantu proses manajemen, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan data perusahaan.

Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan digital marketing untuk memperkuat branding dan meningkatkan jangkauan pasar.

Dari sisi keuangan, Eviy menerapkan sistem yang transparan serta didukung proyeksi finansial yang matang sehingga mampu mengantisipasi berbagai pengeluaran tak terduga.

 

Tantangan dan Rencana ke Depan

Saat ini, tantangan terbesar yang dihadapi Sekolah Musik Indonesia adalah mencari guru musik berkualitas untuk wilayah kota-kota kecil yang menjadi lokasi pengembangan kemitraan.

Untuk mengatasinya, perusahaan menjalankan beberapa strategi, antara lain:

  • Memperluas jaringan dengan institusi pendidikan
  • Aktif mengikuti job fair
  • Merekrut lulusan Sekolah Musik Indonesia yang potensial

Ke depan, Eviy berencana membuka peluang kemitraan yang lebih luas agar semakin banyak daerah dapat mengakses pendidikan musik berkualitas.
Sebagai penutup, Eviy membagikan pesan bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis sendiri.

“Siapkan SOP yang jelas di setiap bidang. Jangan hanya siap menjalankannya, tetapi juga siap mengevaluasi dan terus memperbaikinya.”

Eviy Olivia adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis dengan sistem kemitraan. Tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses. Atau Anda tertarik berinvestasi di bidang musik dan menjadi bagian dari Sekolah Musik Indonesia? Anda mengajukan minat di sini.

Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

Berbagai cerita sukses member Daya lainnya

5.0
Eka Maisyaroh

Awalnya Usaha Sampingan, Jadi Sumber Kehidupan

08 Oktober 2018

5.0
Agung Pribadi

Modal Rp14Juta, Sukses Bangun Bisnis Kopi 300 Cabang

27 Maret 2026

4.9
FX Ricky Ferdinan Sutrisno

Belajar Secara Otodidak, Usia 31 Tahun Punya 88 Gerai

29 Maret 2019

4.9
Atet Go

Pelaku UKM ini Sukses Jual Kue Tradisional di Mal

15 April 2019

Berikan Pendapat Anda

0 dari 100 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS