Informasi Artikel

Dirilis

27 Juli 2026

Penulis Artikel

Anastasia Ekachandra


Pengusaha

Oki Kurnia

Jenis Usaha

Pengajar

Tag

Tidak semua orang mulai belajar investasi dari ruang kelas, buku tebal, atau seminar keuangan. Bagi Oki, rasa ingin tahu tentang uang justru muncul dari pengalaman sederhana saat masih kecil. Ia sering diminta membeli kebutuhan harian ke warung, lalu mulai menyadari bahwa harga barang bisa berubah dari waktu ke waktu.

Dari sana, Oki mulai bertanya-tanya. Mengapa uang dengan jumlah yang sama tidak selalu bisa membeli barang sebanyak sebelumnya? Mengapa harga telur, mie instan, atau kebutuhan kecil di warung bisa naik? Pertanyaan sederhana itu perlahan membawanya pada pemahaman tentang nilai uang, inflasi, tabungan, dan investasi.

Oki adalah penyandang tunanetra sejak lahir. Ia lahir prematur pada usia kandungan tujuh bulan dan sempat dirawat di inkubator selama dua bulan. Kondisi penglihatannya baru diketahui bermasalah saat ia berusia sekitar tiga bulan.

Saat ini, Oki aktif sebagai pengajar komputer dan musik angklung. Dalam kesehariannya, ia mengajar beberapa kelas komputer di sebuah lembaga pemberdayaan tunanetra di Jakarta. Selain itu, ia juga berkegiatan di bidang musik, sesekali tampil bersama band, serta mengajar angklung di salah satu tempat swasta di Jakarta.

Di balik rutinitasnya yang padat, Oki memiliki kebiasaan yang menarik, yaitu mengelola uang dengan terencana dan berinvestasi sejak muda.

Baca juga : Perempuan berinvestasi: Tetap belajar dan jangan takut untuk memulai

 

Belajar Mandiri Sejak Kecil

Bagi Oki, kemandirian tidak datang begitu saja. Sebagai tunanetra, ia tumbuh dalam keluarga yang sangat menjaga dan melindunginya. Ketika masih kecil, ia sering dijemput, ditemani, dan diawasi saat bepergian.

Sikap keluarga tersebut tentu muncul dari rasa sayang. Namun, Oki merasa perlu belajar mandiri. Ia ingin bisa mengenal jalan, memahami arah, dan melakukan aktivitas tanpa selalu bergantung pada orang lain.

Oki tidak menolak perhatian keluarganya secara keras. Ia memilih cara yang lebih pelan, yaitu membuktikan bahwa dirinya bisa belajar mandiri sedikit demi sedikit.

“Saya orangnya dulu memang agak ngeyel. Jadi akhirnya kayak buat trik-trik sendiri,” ujar Oki.

Salah satu caranya adalah dengan mencoba pulang sendiri setelah ia memahami rute yang perlu dilewati. Keluarganya sempat terkejut, tetapi dari pengalaman itu mereka mulai melihat bahwa Oki mampu belajar secara bertahap.

Sebelum berani bepergian sendiri, Oki tidak asal mencoba. Ia menghafal jalur, mengingat titik naik kendaraan umum, dan menyusun gambaran perjalanan di kepalanya. Jadi, keberanian yang ia lakukan tetap disertai persiapan.

Kebiasaan ini kemudian terbawa ke banyak hal, termasuk saat mengambil keputusan keuangan. Oki terbiasa mencari tahu lebih dulu, memahami risikonya, lalu baru bertindak.

 

Pertanyaan Kecil tentang Harga Telur

Salah satu pengalaman yang membentuk cara berpikir Oki tentang uang berasal dari aktivitas belanja ke warung. Waktu kecil, ia cukup hafal harga barang yang sering dibeli. Telur, mie instan, korek, dan kebutuhan rumah tangga lain menjadi bagian dari ingatannya.

Saat mulai beranjak remaja, Oki menyadari bahwa harga barang tidak selalu sama. Uang yang dulu bisa membeli lebih banyak barang, beberapa waktu kemudian jumlahnya terasa berkurang.

“Dulu saya bisa beli seribu butir telur. Sekarang cuma bisa beli lima ratus. Apa yang salah?” kata Oki.

Dari pengalaman itu, Oki mulai memahami bahwa menyimpan uang saja belum tentu cukup. Jika harga kebutuhan terus naik, nilai uang bisa berkurang secara perlahan. Ia belum langsung mengenal istilah inflasi, tetapi ia sudah merasakan dampaknya melalui kehidupan sehari-hari.

Kesadaran tersebut membuat Oki tertarik mencari cara agar uang tidak hanya diam, tetapi juga memiliki peluang untuk mempertahankan nilainya.

 

Mulai Mengenal Investasi dari Emas

Ketertarikan Oki pada investasi semakin kuat setelah lulus SMA. Suatu hari, ia mendengar orang di sekitarnya membicarakan emas. Dari obrolan itu, Oki mulai penasaran dan mencari tahu lebih jauh.

Ia mempelajari perubahan harga emas dari waktu ke waktu. Ia juga mulai memahami bahwa emas sering dianggap sebagai salah satu cara untuk menjaga nilai uang. Bagi Oki, emas bukan sekadar barang berharga, tetapi juga alat untuk melindungi uang dari penurunan nilai.

Setelah merasa cukup paham, Oki memutuskan membeli emas batangan untuk pertama kalinya. Saat itu, harga emas sekitar Rp520.000,- per gram. Pembelian tersebut menjadi langkah awalnya dalam dunia investasi.

Cara berpikir Oki sederhana. Jika uang disimpan begitu saja, nilainya bisa tergerus oleh kenaikan harga kebutuhan. Namun, jika dialihkan ke aset tertentu, ada peluang agar nilainya lebih terjaga.

“Meskipun harganya tidak naik banyak, setidaknya nilai tukar kita jadi lebih terjaga. Kerugiannya lebih bisa diminimalkan,” jelas Oki.

 

Mencoba Reksadana dan Masuk ke Saham

Setelah emas, Oki mulai mengenal reksadana. Ia mempelajari cara kerja produk tersebut, mulai dari dana yang dihimpun, pengelolaan oleh manajer investasi, sampai peran bank kustodian. Setelah memahami dasarnya, ia mencoba berinvestasi di reksadana dan mendapat pengalaman positif.

Namun, rasa ingin tahunya belum berhenti. Oki kemudian mulai mempelajari saham. Ia tertarik karena saham membuat seseorang bisa memiliki bagian kecil dari sebuah perusahaan. Baginya, ini menarik karena investasi tidak lagi terasa abstrak, tetapi terhubung dengan bisnis yang nyata.

Oki mulai mencari tahu perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Ia memperhatikan bidang usaha, posisi perusahaan, dan perannya dalam kehidupan masyarakat. Ia lebih menyukai perusahaan yang menurutnya memiliki fondasi kuat dan dibutuhkan banyak orang.

Meski begitu, perjalanan Oki di dunia investasi tidak selalu lancar. Ia pernah mengambil keputusan terlalu cepat dan terlalu dipengaruhi emosi. Akibatnya, hasil investasinya tidak sesuai harapan.

Pengalaman itu tidak membuatnya berhenti. Justru dari kesalahan tersebut, Oki belajar untuk lebih hati-hati. Ia memahami bahwa investasi tidak cukup hanya bermodal berani, tetapi juga perlu kesabaran, analisis, dan pengendalian diri.

“Ketika itu terjadi, saya evaluasi. Oh ternyata kayak gini rasanya salah ambil keputusan. Dari situlah kita jadi banyak belajar,” ujar Oki.

 

Cara Oki Mengatur Penghasilan

Dalam mengatur uang sehari-hari, Oki tidak memakai aplikasi pencatatan khusus. Ia lebih sering menghitung dan mengingat sendiri. Meski begitu, caranya tetap memiliki urutan yang jelas.

Saat menerima penghasilan, Oki terlebih dahulu memikirkan kebutuhan utama. Misalnya, biaya sewa tempat tinggal, makan, internet, dan kebutuhan rutin lain. Setelah kebutuhan penting dihitung, barulah ia melihat sisa uang yang bisa dialokasikan untuk pos lain.

Bagi Oki, investasi sebaiknya tidak menunggu sisa yang benar-benar longgar. Jika selalu menunggu uang berlebih, seseorang bisa terus menunda untuk mulai. Karena itu, ia berusaha menyisihkan dana investasi sebelum uang habis untuk keperluan yang kurang penting.

“Investasinya harusnya lebih besar daripada biaya jajan,” kata Oki.

Oki juga menyiapkan dana tak terduga. Dana ini berfungsi sebagai pegangan jika ada kebutuhan mendadak. Dengan adanya dana tersebut, ia tidak perlu langsung menjual investasi ketika menghadapi situasi darurat.

Cara Oki mengatur uang bisa diringkas seperti ini:

  • menghitung kebutuhan pokok lebih dulu
  • memisahkan uang untuk makan, tempat tinggal, dan internet
  • menyisihkan dana investasi secara rutin
  • membatasi pengeluaran untuk hiburan
  • menyiapkan dana darurat
  • menyesuaikan pengeluaran saat pemasukan sedang terbatas

Menurut Oki, mengatur uang bukan berarti tidak boleh menikmati hidup. Namun, uang perlu diberi arah agar tidak habis tanpa tujuan.

 

Ingin Punya Pilihan di Usia 50 Tahun

Oki memiliki tujuan keuangan yang cukup jelas. Ia ingin pada usia 50 tahun sudah memiliki penghasilan pasif atau pemasukan rutin yang tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan aktif.

Tujuan itu bukan berarti ia ingin berhenti berkarya. Oki tetap ingin menjalani aktivitas yang ia sukai. Namun, ia ingin memiliki kebebasan untuk memilih. Jika suatu saat tidak ingin bekerja terlalu padat, ia berharap kondisi keuangannya tetap aman.

“Saya pengen di umur 50 sudah punya pendapatan per bulan tanpa saya harus bekerja. Sesimple itu,” ujar Oki.

Dari target tersebut, Oki menghitung mundur. Jika seseorang ingin menikmati hasil investasi di usia tertentu, maka prosesnya perlu dimulai jauh lebih awal. Semakin cepat memulai, semakin panjang waktu yang dimiliki untuk belajar, mencoba, dan mengembangkan aset.
Oki bahkan merasa seharusnya ia bisa mulai lebih awal. Bukan untuk menyesali masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa waktu adalah bagian penting dalam investasi.

 

Mulai Kecil Lebih Baik daripada Terus Menunda

Banyak orang merasa belum bisa berinvestasi karena penghasilannya belum besar. Oki melihatnya dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, langkah pertama bukan menunggu uang banyak, tetapi membangun kemauan untuk mulai.

“Bukan masalah cukup atau tidak cukupnya. Mau atau tidak dulu, itu yang pertama,” kata Oki.

Investasi tidak selalu harus dimulai dari nominal besar. Saat ini, beberapa instrumen bisa dibeli dengan dana yang lebih terjangkau. Bahkan, uang yang biasanya dipakai untuk membeli minuman atau jajan bisa dialihkan sebagian untuk belajar investasi.

Oki mencontohkan bahwa ada saham dengan harga per lot yang masih terjangkau. Dari sana, seseorang bisa mulai belajar memahami pasar, membaca informasi perusahaan, dan mengenal risiko secara perlahan.

“Yang biasanya ngopi kopi kekinian Rp50.000,-, itu sudah dapat dua lot. Coba dari kecil-kecil,” jelas Oki.

Namun, Oki juga mengingatkan agar orang tidak masuk ke investasi hanya karena tergiur keuntungan. Ia menekankan pentingnya menghindari sikap serakah. Dalam investasi, keputusan yang terburu-buru dan terlalu ingin untung cepat bisa membawa kerugian.

“Greedy itu bahaya. Di investasi apa pun. Apalagi kalau masuk saham,” kata Oki.

Baginya, investasi perlu dilakukan dengan perhitungan. Jangan hanya mengikuti tren, jangan mudah terbawa emosi, dan jangan memakai uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting.

 

Belajar dari Keputusan yang Pernah Salah

Salah satu pelajaran terbesar Oki dalam investasi adalah mengendalikan diri. Ia pernah berada dalam situasi ketika keputusan yang diambil tidak tepat. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kerugian bisa terjadi jika seseorang terlalu cepat percaya diri atau terlalu emosional.

Oki tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk berhenti. Ia justru mengevaluasi apa yang terjadi. Ia melihat kembali keputusan yang diambil, mencari letak kekeliruannya, lalu memperbaiki cara berpikirnya.

Pengalaman ini membuatnya lebih berhati-hati dalam melihat peluang. Ketika harga aset naik, ia tidak langsung terbawa euforia. Ketika harga turun, ia juga tidak langsung panik. Ia belajar bahwa investasi membutuhkan ketenangan.

Bagi Oki, keputusan yang baik bukan hanya soal kapan membeli, tetapi juga kapan menahan diri.

Baca juga : Investasi Kripto, Belajar Tahan Banting dari Pengalaman Nico

 

Penutup

Kisah Oki menunjukkan bahwa kemandirian finansial bisa dimulai dari rasa ingin tahu. Ia tidak memulai dari modal besar atau kondisi yang serba mudah. Ia memulai dari pengalaman sederhana, yaitu memperhatikan harga barang di warung dan menyadari bahwa nilai uang bisa berubah.

Dari perjalanan Oki, ada beberapa hal yang bisa dipelajari:

  1. Mulai belajar keuangan dari hal sederhana.
  2. Jangan menunggu penghasilan besar untuk mulai menabung atau berinvestasi.
  3. Pahami risiko sebelum memilih instrumen investasi.
  4. Pisahkan kebutuhan pokok, dana darurat, dan investasi.
  5. Hindari keputusan yang didorong rasa serakah.
  6. Gunakan kesalahan sebagai bahan evaluasi.

Kemandirian finansial tidak terjadi dalam satu malam. Perlu kebiasaan, kesabaran, dan keberanian untuk belajar. Oki membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk mengelola uang, membuat rencana, dan membangun masa depan yang lebih mandiri.

Jika masih memiliki pertanyaan tekait informasi keuangan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahlinya melalui fitur Tanya Ahli dan untuk mendapatkan saran yang tepat. Dengan mendaftar di daya.id, seluruh informasi terkait keuangan dapat diakses dengan gratis dan mudah. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi dan daftarkan diri Anda di daya.id sekarang juga! 

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

Berbagai cerita sukses member Daya lainnya

5.0
Ratu Marlina

Perempuan berinvestasi: Tetap belajar dan jangan takut untuk memulai

07 Juni 2026

4.6
Fiskha Dewi

Belajar dari Pengalaman, Fiskha Dewi Sukses Mengelola Keuangan Keluarga

26 Februari 2025

5.0
Nico Suhartanto

Investasi Kripto, Belajar Tahan Banting dari Pengalaman Nico

11 Januari 2026

4.8
Pambudi Prasetyo

Andal Berbisnis, Bermula dari Disiplin Keuangan Pribadi

29 Juli 2024

Berikan Pendapat Anda