Saat ini, perekonomian global tumbuh dan berkembang pesat. Di tengah perkembangan tersebut, perempuan sedikit demi sedikit mendominasi elemen investasi global. Di lansir dari berbagai sumber, perempuan menguasai 40% kekayaan dunia dan pertumbuhan ini lebih cepat lho dari pada laki-laki. Menurut survey Wells Fargo di 2024, sebanyak 71% wanita berinvestasi di saham.
Dalam artikel kisah inspiratif ini, Anda akan menyimak salah satu pengalaman perempuan yang juga berkecimpung dalam dunia investasi. Mba Ratu Marlina, atau yang akrab disapa dengan mba Ocke adalah satu dari banyak perempuan yang sudah mulai dengan investasi. Walaupun usianya tidak muda lagi, mba Ocke tetap semangat beraktivitas.
Saat ini mba Ocke jelang usia 50 tahun namun tetap masih produktif. Sehari-hari mba Ocke aktif di consultant management yang bekerja sama dengan dosen-dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Mba Ocke juga aktif mengerjakan berbagai proyek kajian dari perusahaan-perusahaan yang merupakan kliennya.

Disiplin dalam mengelola keuangan dari kecil
Sejak kecil mba Ocke sudah akrab dengan kebiasaan mengatur uang dengan didikan orang tuanya yang memang bekerja di industri perbankan. Prinsip utamanya adalah bagaimana uang saku yang diberikan orang tua secara berkala (mingguan/bulanan) bisa cukup untuk kebutuhan ongkos dan jajan. Dari sinilah mba Ocke belajar untuk menentukan skala prioritas, mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.
Pelajaran lain yang diperolehnya dari orang tua adalah menahan diri sangat ada keinginan sampai uang yang dibutuhkan terpenuhi. “Kalau mau sesuatu, ya harus nabung”, begitu tuturnya. Kedua hal tersebut menjadi dasar pengelolaan keuangannya saat dewasa: prinsip penganggaran keuangan dan prioritas antara keinginan dan kebutuhan. Hal lain yang menjadi kebiasaan adalah, selalu mencatat semua pengeluaran keuangan. Lalu memasuki jenjang pendidikan di universitas, mba Ocke mulai mengenal investasi. Kala itu, yang diingatnya terkait investasi saham adalah: “saham itu seperti berjudi” karena hal itu yang disampaikan orang tuanya sehingga tentu saja dia belum berani untuk melakukan investasi lebih dalam.
Awal mula memberanikan diri untuk berinvestasi
Setelah memiliki penghasilan sendiri dan memiliki keluarga, mba Ocke merasa, dalam pengelolaan keuangan keluarga membuat anggaran dan mencatat pengeluaran keuangan saja tidak cukup. Berbagai kebutuhan di masa depan ternyata tidak bisa dipenuhi hanya dengan menabung. Setelah mulai belajar lebih lanjut mengenai peencanaan dan pengelolaan keuangan, akhirnya mba Ocke memberanikan diri untuk berinvestasi. Investasi pertamanya adalah emas. Alasan memilih emas adalah karena nilai emas melalui literatur lebih stabil pertumbuhannya, dan seperti tidak pernah turun. Seiring berjalannya waktu, invetasi emas tersebut bermanfaat digunakan untuk membiayai anak kuliah dan percepatan pelunasan cicilan.
Tapi investasi emas ini juga tidak selalu berjalan mulus. Mba Ocke berujar, pernah salah strategi dalam menyimpan emas sehingga merugi, saat penggunaannya dalam jangka pendek. Dari situ mba Ocke sadar bahwa investasi emas lebih sesuai untuk tujuan keuangan jangka panjang bukan jangka pendek.
Saat memetakan tujuan keuangan keluarga, disadari bahwa diversifikasi investasi diperlukan untuk setiap tujuan keuangan. Dengan pengalaman awal investasi emas, mba Ocke memutuskan untuk mulai berinvestasi saham untuk memenuhi tujuan keuangan yang memerlukan investasi dengan proyeksi return yang lebih tinggi, diantaranya biaya pendidikan tinggi anak-anak, serta pemenuhan dana pensiun yang mencukupi tanpa perlu merepotkan anak-anaknya nanti.

Perjalanan mendalami instrumen investasi
Dengan pertimbangan tersebut, mba Ocke mulai mencari tahu banyak terkait investasi saham, karena teringat slogan terkait investasi Adalah judi yang dulu didapatkannya. Mba Ocke mulai rajin mencari informasi tentang investasi saham lewat browsing dan edukasi di media sosialdan memperdalam lagi ilmunya, melalui kelas-kelas online tentang trading dan investasi jangka panjang.
Dengan berbekal pengetahuan yang didapat, mba Ocke lebih cermat lagi dalam berinvestasi saham dengan memahami berbagai jenis perusahaan pada bursa dan lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya untuk investasi.
Mba Ocke juga bergabung dengan komunitas Investing Mom, yang dirasa sangat bermanfaat untuk para Ibu untuk belajar tanpa rasa takut dan malu, karena founder dan anggota komunitas tersebut memberikan support dengan lingkungan yang nyaman untuk para Ibu belajar dan bertumbuh dalam berinvestasi dan mengelola keuangan. Sampai akhirnya setahun yang lalu mba Ocke memberanikan diri untuk mengambil sertifikasi CFP (Certified Financial Planner) agar lebih paham lagi dalam mengelola keuangan untuk diri sendiri dan juga untuk membantu klien-klien pada layanan konsultasi keluarga terkait keuangan.
Tips-tips dalam berinvestasi
Setelah mengikuti kelas dan komunitas, mba Ocke merasakan perbedaan tersendiri dalam mengelola keuangan. Kalau dulu, dana yang disisihkan untuk investasi hanya 5-10% dari pendapatan. Nah kalau sekarang, porsi dana untuk investasi diperbesar menjadi 15-20% karena banyaknya tujuan keuangan. Dan investasi yang dipilih pun bervariasi antara investasi jangka pendek dan panjang menyesuaikan dengan rencana keuangannya.
Menurut mba Ocke, ada berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola keuangan demi mewujudkan tujuan keuangan jangka panjang. Yang pertama adalah diversifikasi investasi. Jangan menyimpan dana di satu pos saja, diversifikasi kanlah investasi Anda untuk meminimalisir risiko dan menyesuaikan dengan tujuan keuangannya.
Kedua, tingkatkan ilmu dan pengetahuan agar mendapatkan informasi yang tepat dalam berinvestasi. Ketiga, tentukanlah tujuan investasi terlebih dahulu, setelah itu baru menentukan apakah investasi yang dilakukan, jangka panjang atau jangka pendek dan instrumen yang tepat.
Pesan mba Ocke, jangan sampai investasi mengganggu pengeluaran rutin keluarga yang sudah disisihkan seperti bayar cicilan, bayar sekolah anak, dan pengeluaran rutin lainnya. Jangan mengorbankan dana keluarga yang telah dianggarkan untuk berbagai hal, tapi usahakan menambah pendapatan apalagi jika masih dalam usia produktif. Jika sudah berkeluarga, berbagi peran keuangan dengan pasangan adalah hal yang sangat penting. Mengetahui kekuatan dan kelemahan pasangan dalam pengelolaan keuangan akan membuat pembagian peran tepat misalnya peran suami sebagai pelaksana dan istri sebagai perencana keuangan atau sebaliknya, sehingga pastikan selalu mengomunikasikanurusan keuangan rumah tangga ya.
Khusus untuk perempuan yang ingin memulai investasi, mba Ocke berpesan bahwa perempuan harus melek dalam berinvestasi, artinya tahu dan mendalami investasi. Mulailah secara pelan-pelan. Dan yang lebih penting, tetap harus punya tabungan ya!.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Berikan Pendapat Anda