“Laris manis tanjung kimpul, tapi uang nggak ngumpul-ngumpul.”
Ungkapan tersebut mungkin pernah dirasakan sebagian pemilik toko kelontong. Toko ramai, transaksi terjadi setiap hari, dan stok barang terus berputar. Namun, setelah bertahun-tahun menjalankan usaha, bisnis terasa tidak berkembang dan pemilik toko pun belum benar-benar tahu berapa keuntungan yang diperoleh.
Salah satu penyebabnya adalah masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami perbedaan antara gross profit (laba kotor) dan net profit (laba bersih).
Memahami kedua jenis laba ini penting agar pemilik toko dapat mengetahui apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat ramai dari sisi penjualan.

Apa Itu Gross Profit?
Gross profit atau laba kotor adalah keuntungan yang diperoleh dari penjualan barang setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP), tetapi sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.
Biaya operasional tersebut antara lain gaji karyawan, listrik, sewa toko, internet, transportasi, dan biaya usaha lainnya.
Rumus gross profit adalah:
Gross Profit = Penjualan – Harga Pokok Penjualan (HPP)
Contoh Menghitung Gross Profit
Misalnya, dalam satu bulan sebuah toko kelontong memiliki:
- Total penjualan: Rp50.000.000
- HPP barang yang terjual: Rp40.000.000
Maka:
Gross Profit = Rp50.000.000 – Rp40.000.000 = Rp10.000.000
Artinya, toko memperoleh laba kotor sebesar Rp10 juta dari penjualan selama satu bulan.
Laba kotor dapat membantu pemilik toko melihat seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari aktivitas jual beli barang. Salah satu ukuran yang perlu diperhatikan adalah gross profit margin atau margin laba kotor, yaitu persentase laba kotor dibandingkan dengan penjualan.
Jika margin laba kotor terlalu kecil, pemilik toko perlu mengevaluasi harga jual, harga pembelian barang, atau komposisi produk yang dijual.
Apa Itu Net Profit?
Net profit atau laba bersih adalah keuntungan yang tersisa setelah laba kotor dikurangi seluruh biaya usaha yang relevan.
Secara sederhana, rumusnya adalah:
Net Profit = Gross Profit – Biaya Operasional
Biaya operasional toko kelontong dapat meliputi:
- Gaji karyawan
- Gaji pemilik
- Listrik dan air
- Sewa tempat
- Internet
- Transportasi
- Biaya administrasi
- Biaya perawatan
- Kerusakan atau kehilangan barang
- Pengeluaran operasional lainnya
Contoh Menghitung Net Profit
Menggunakan contoh sebelumnya:
Gross profit = Rp10.000.000
Kemudian, toko memiliki biaya operasional sebagai berikut:
|
Biaya Operasional |
Jumlah |
|
Gaji pegawai |
Rp3.000.000 |
|
Listrik |
Rp500.000 |
|
Transportasi |
Rp300.000 |
|
Biaya lain-lain |
Rp700.000 |
|
Total |
Rp4.500.000 |
Maka:
Net Profit = Rp10.000.000 – Rp4.500.000 = Rp5.500.000
Jadi, laba bersih toko selama satu bulan adalah Rp5,5 juta, setelah biaya operasional tersebut diperhitungkan.
Jangan Hanya Melihat Omzet
Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada toko kelontong adalah hanya mencatat omzet penjualan, tanpa menghitung laba.
Misalnya, pemilik toko merasa senang karena omzet mencapai Rp100 juta per bulan. Namun, omzet tersebut belum menunjukkan berapa uang yang benar-benar menjadi keuntungan.
Jika margin laba kotor rata-rata hanya 10%, maka laba kotor yang diperoleh sekitar Rp10 juta. Setelah dikurangi berbagai biaya usaha, laba bersih yang tersisa bisa jauh lebih kecil.
Karena itu, omzet besar belum tentu berarti keuntungan besar.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak barang yang terjual, tetapi juga berapa laba yang berhasil dipertahankan setelah seluruh biaya usaha diperhitungkan.
![]()
Pisahkan Uang Usaha dan Uang Pribadi
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mencampur uang usaha dengan uang pribadi.
Misalnya, kebutuhan rumah tangga langsung diambil dari kas toko tanpa dicatat. Kebiasaan ini dapat membuat pemilik usaha kesulitan mengetahui berapa keuntungan sebenarnya yang dihasilkan bisnis.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat pos khusus untuk kebutuhan pemilik, misalnya gaji pemilik.
Besarnya gaji pemilik dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga dan kemampuan bisnis. Yang terpenting, pengambilan uang tersebut dicatat secara rutin sehingga keuangan usaha dan keuangan pribadi tetap dapat dipantau secara terpisah.
Contoh Menghitung Laba Setelah Memasukkan Gaji Pemilik
Kita kembali ke contoh sebelumnya.
Sebelumnya, biaya operasional toko adalah Rp4,5 juta, yang terdiri dari gaji pegawai, listrik, transportasi, dan biaya lainnya.
Misalnya, berdasarkan kebutuhan rumah tangga, pemilik menetapkan gaji sebesar Rp5,5 juta per bulan.
Dengan demikian:
- Gross profit: Rp10 juta
- Biaya operasional sebelum gaji pemilik: Rp4,5 juta
- Gaji pemilik: Rp5,5 juta
- Total biaya: Rp10 juta
Maka:
Net Profit = Rp10 juta – Rp10 juta = Rp0
Artinya, setelah memperhitungkan seluruh biaya usaha termasuk kompensasi untuk pemilik, bisnis tersebut belum menghasilkan laba bersih.
Hal ini merupakan informasi penting bagi pemilik usaha. Toko memang menghasilkan penjualan dan laba kotor, tetapi laba tersebut belum cukup untuk menutup seluruh biaya usaha sekaligus memberikan kompensasi kepada pemilik.
Dengan mengetahui kondisi ini, pemilik dapat mengevaluasi harga jual, margin produk, biaya operasional, maupun target penjualan.
Baca juga: Pengertian Net Profit Margin dan Cara Meningkatkannya
Cara Sederhana Menghitung Laba Toko Setiap Bulan
Bagi pemilik toko kelontong yang belum menggunakan aplikasi akuntansi, pencatatan laba dapat dimulai dengan buku kas atau spreadsheet sederhana.
Setidaknya, siapkan tiga catatan utama:
1. Total Penjualan
Catat seluruh transaksi penjualan setiap hari. Kemudian, rekap secara mingguan dan jumlahkan pada akhir bulan.
2. Harga Pokok Penjualan
Catat nilai barang yang benar-benar terjual selama periode tersebut. Jangan hanya mencatat total pembelian barang, karena jumlah barang yang dibeli belum tentu sama dengan jumlah barang yang terjual.
3. Biaya Operasional
Catat seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan operasional usaha, seperti gaji, listrik, transportasi, sewa, internet, administrasi, dan biaya lainnya.
Dengan tiga data tersebut, pemilik toko sudah dapat mulai menghitung gross profit dan net profit secara rutin.
Pencatatan yang dilakukan setiap bulan juga akan membantu pemilik melihat apakah keuntungan meningkat, menurun, atau relatif stabil.
Berapa Target Profit Toko Kelontong yang Sehat?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua toko kelontong. Target laba dapat berbeda tergantung jenis produk, lokasi toko, harga jual, tingkat persaingan, biaya operasional, dan skala usaha.
Karena itu, angka margin sebaiknya digunakan sebagai acuan untuk evaluasi, bukan sebagai patokan mutlak.
Sebagai contoh ilustrasi, jika omzet toko mencapai Rp80 juta per bulan dan laba bersih berada pada kisaran 5%–10% dari omzet, maka laba bersihnya sekitar Rp4 juta–Rp8 juta per bulan.
Jika margin atau laba bersih terus menurun, pemilik dapat mengevaluasi beberapa hal, seperti:
- Apakah harga jual sudah sesuai?
- Apakah HPP terlalu tinggi?
- Apakah biaya operasional meningkat?
- Produk mana yang memberikan margin lebih baik?
- Apakah ada barang yang lambat terjual atau sering rusak?
- Apakah terdapat pengeluaran usaha yang belum tercatat?
Dengan melakukan evaluasi secara rutin, pemilik toko dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Toko Ramai Belum Tentu Menguntungkan
Menjalankan toko kelontong selama bertahun-tahun tentu merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan usaha tidak hanya dapat dilihat dari ramainya transaksi atau besarnya omzet.
Pemilik usaha juga perlu memahami gross profit dan net profit agar dapat mengetahui kondisi keuangan bisnis secara lebih menyeluruh.
Dengan menghitung laba kotor dan laba bersih setiap bulan, pemilik toko dapat:
- Mengetahui keuntungan usaha secara lebih jelas
- Mengendalikan biaya operasional
- Mengevaluasi harga dan margin produk
- Memisahkan keuangan usaha dan pribadi
- Mengambil keputusan bisnis berdasarkan data
Pada akhirnya, toko yang sehat bukan hanya toko yang ramai pembeli, tetapi juga toko yang mampu menghasilkan laba secara konsisten dan berkelanjutan.
Cek Kesehatan Bisnis dengan Radar Bisnis
Selain menghitung laba kotor dan laba bersih, Anda juga dapat mengecek kondisi bisnis secara lebih menyeluruh menggunakan Radar Bisnis yang tersedia di Daya.id.
Cobalah gunakan Radar Bisnis untuk membantu mengetahui kondisi kesehatan usaha dan mendapatkan rekomendasi yang relevan untuk pengembangan UMKM, di tautan ini: Cara Memeriksa Kesehatan Bisnis, Rekomendasi untuk UMKM.
Apabila Anda ingin bertanya lebih lanjut, silakan manfaatkan fitur Tanya Ahli. Bagi yang belum mendaftar di daya.id, mari segera daftar untuk akses gratis ya.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda