Informasi Artikel

Dirilis

09 September 2026

Penulis Artikel

Thomas Aquino Herly Marwanto


Tag

Memulai usaha jajanan pasar di masa pensiun bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarga. Banyak ibu-ibu memiliki keahlian membuat kue tradisional seperti klepon, putu ayu, nagasari, risoles, hingga lemper.

Namun, salah satu tantangan yang sering muncul adalah menentukan harga jual jajanan pasar. Sebagian pelaku usaha menjual terlalu murah sehingga keuntungan sangat kecil. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi dapat membuat pelanggan beralih ke penjual lain.

Tidak sedikit pula usaha yang terlihat laris setiap hari, tetapi ketika uang dihitung pada akhir bulan, keuntungan yang tersisa ternyata tidak seberapa. Kondisi ini bisa terjadi karena harga jual belum dihitung berdasarkan seluruh biaya usaha.

Lantas, apa saja kesalahan dalam menentukan harga jual jajanan pasar yang perlu dihindari agar produk tetap laris dan keuntungan lebih maksimal?

 

1. Hanya Menghitung Bahan Utama

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah hanya menghitung bahan utama, seperti tepung, gula, telur, santan, beras ketan, atau ayam.

Sebagai contoh, seorang ibu membuat risoles dengan total biaya bahan sebesar Rp150.000. Kemudian, ia langsung menambahkan keuntungan Rp50.000 sehingga menetapkan harga jual Rp200.000.

Padahal, masih ada biaya lain yang perlu diperhitungkan, seperti:

  • Gas untuk memasak
  • Minyak goreng
  • Kemasan
  • Listrik
  • Ongkos membeli bahan
  • Biaya transportasi
  • Biaya pendukung lainnya

Jika biaya-biaya tersebut tidak dihitung, keuntungan yang terlihat di atas kertas sebenarnya bisa jauh lebih kecil.

Intinya, jangan hanya menghitung bahan baku. Hitung seluruh biaya yang dikeluarkan sampai produk siap dijual.

 

2. Menentukan Harga Berdasarkan Perasaan

Sebagian pelaku usaha menentukan harga hanya berdasarkan perkiraan.

Misalnya, muncul pemikiran, "Sepertinya Rp1.000 per buah sudah cukup."

Masalahnya, angka tersebut belum tentu menutup seluruh biaya produksi dan memberikan keuntungan yang layak.

Menentukan harga jual sebaiknya dilakukan berdasarkan perhitungan, bukan sekadar perasaan. Dengan mengetahui biaya produksi per produk, pemilik usaha dapat menentukan harga jual dengan lebih percaya diri.

 

3. Takut Menjual Lebih Mahal dari Pesaing

Banyak pelaku usaha baru khawatir kehilangan pelanggan jika harga produknya sedikit lebih mahal dibandingkan kompetitor.

Padahal, pelanggan tidak selalu memilih produk berdasarkan harga termurah. Mereka juga mempertimbangkan:

  • Rasa
  • Ukuran produk
  • Kebersihan
  • Kualitas bahan
  • Kemasan
  • Pelayanan
  • Ketepatan pengiriman

Jika kualitas produk lebih baik dan memberikan pengalaman yang lebih memuaskan, harga yang sedikit lebih tinggi biasanya masih dapat diterima pelanggan.

Karena itu, jangan terburu-buru menurunkan harga hanya karena ada kompetitor yang menjual lebih murah.

 

4. Mengikuti Harga Kompetitor Tanpa Menghitung Biaya Sendiri

Setiap usaha memiliki kondisi produksi yang berbeda. Karena itu, harga kompetitor tidak bisa langsung dijadikan patokan utama.

Misalnya, Penjual A mampu membuat 500 klepon per hari, sedangkan Penjual B hanya memproduksi 100 klepon per hari.

Jumlah produksi yang berbeda dapat membuat biaya per produk menjadi berbeda pula. Penjual yang memproduksi dalam jumlah besar mungkin memiliki biaya per produk lebih rendah karena bahan dapat dibeli dalam jumlah banyak dan biaya tertentu dapat dibagi ke lebih banyak produk.

Jika hanya mengikuti harga kompetitor tanpa menghitung biaya sendiri, usaha berisiko mengalami kerugian tanpa disadari.

Harga kompetitor boleh dijadikan pembanding, tetapi biaya produksi sendiri tetap harus menjadi dasar utama.

 

5. Tidak Menghitung Produk Rusak atau Tidak Terjual

Dalam usaha makanan, selalu ada kemungkinan produk rusak, basi, tidak terjual, atau pesanan dibatalkan.

Misalnya, seorang penjual membuat 120 buah kue, tetapi hanya 100 buah yang berhasil terjual. Artinya, biaya produksi 120 buah tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh 100 produk yang terjual.

Karena itu, pelaku usaha perlu memperhitungkan risiko produk rusak atau tidak terjual ketika menentukan harga.

Dengan adanya cadangan biaya, keuntungan tidak langsung hilang ketika sebagian produk mengalami kerusakan atau tidak laku.

 

6. Tidak Menghargai Waktu dan Tenaga Sendiri

Banyak ibu-ibu menganggap tenaga kerja tidak perlu dihitung karena semua pekerjaan dilakukan sendiri di rumah.

Padahal, waktu yang digunakan untuk:

  • Berbelanja bahan
  • Menyiapkan bahan
  • Memasak
  • Mengemas produk
  • Melayani pelanggan
  • Mencatat pesanan
  • Mengantar pesanan

merupakan bagian dari aktivitas usaha.

Jika tenaga dan waktu sendiri tidak pernah diperhitungkan, usaha mungkin terlihat menghasilkan keuntungan. Namun, hasil tersebut belum tentu sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan.

Menghargai tenaga sendiri bukan berarti harus langsung mengambil upah besar. Setidaknya, biaya tenaga kerja perlu diperhitungkan agar pemilik usaha mengetahui apakah usahanya benar-benar menguntungkan.

 

7. Tidak Menyesuaikan Harga Saat Biaya Naik

Harga bahan baku seperti telur, gula, minyak goreng, beras ketan, ayam, dan kelapa dapat mengalami kenaikan.

Namun, sebagian pelaku usaha tetap mempertahankan harga lama karena takut pelanggan mengeluh. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, keuntungan akan semakin menipis dan bahkan bisa berubah menjadi kerugian.

Karena itu, lakukan evaluasi harga secara berkala. Jika biaya produksi meningkat, harga jual juga perlu disesuaikan agar usaha tetap sehat.


Baca juga:  Cara Menyusun Perencanaan Usaha, Ritel Sederhana, Modal 1-10 Juta

 

Cara Menentukan Harga Jual Jajanan Pasar agar Tetap Untung

Setelah mengetahui berbagai kesalahan di atas, langkah berikutnya adalah menentukan harga jual dengan cara yang lebih terukur.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar harga jual jajanan pasar tetap kompetitif tanpa mengorbankan keuntungan.

 

A. Pastikan Semua Biaya Produksi Dihitung

Secara sederhana, biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat jajanan pasar hingga siap dijual kepada pelanggan.

Banyak pelaku usaha mengira biaya produksi hanya terdiri dari bahan baku seperti tepung, gula, telur, santan, atau beras ketan.

Padahal, biaya produksi dapat mencakup berbagai pengeluaran lain yang diperlukan agar produk bisa dibuat dan dijual.

Untuk usaha yang baru dimulai, gunakan pertanyaan sederhana berikut:
"Jika saya tidak mengeluarkan biaya ini, apakah jajanan saya tetap bisa dibuat dan dijual?"

Jika jawabannya tidak, biaya tersebut perlu dipertimbangkan dalam perhitungan usaha.

Contohnya:

  • Tanpa tepung, kue tidak bisa dibuat.
  • Tanpa gas, kue tidak bisa dimasak.
  • Tanpa kemasan, produk akan lebih sulit dijual.
  • Tanpa ongkos membeli bahan, bahan baku tidak bisa diperoleh.

Semua biaya tersebut perlu dicatat agar harga jual tidak ditentukan terlalu rendah.

 

Contoh Menghitung Biaya Produksi Lemper

Misalnya, Bu Siti membuat 100 buah lemper.

Biaya bahan baku:

  • Beras ketan: Rp30.000
  • Ayam: Rp25.000
  • Santan dan bumbu: Rp15.000

Total bahan baku = Rp70.000

Biaya pendukung:

  • Gas untuk memasak: Rp10.000
  • Daun pisang atau kemasan: Rp15.000
  • Ongkos membeli bahan: Rp5.000

Total biaya pendukung = Rp30.000

Maka:
Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Pendukung
Rp70.000 + Rp30.000 = Rp100.000

Karena menghasilkan 100 lemper, biaya produksi per lemper adalah:
Rp100.000 ÷ 100 = Rp1.000 per lemper

Artinya, setiap lemper membutuhkan biaya sekitar Rp1.000 untuk diproduksi.

Jika lemper tersebut dijual tepat Rp1.000, usaha belum mendapatkan keuntungan. Harga tersebut baru menutup biaya produksi yang sudah dihitung.

Karena itu, harga jual harus berada di atas biaya produksi setelah mempertimbangkan margin keuntungan dan risiko usaha.

 

B. Berikan Nilai Terbaik kepada Pelanggan

Melihat kompetitor menjual jajanan pasar dengan harga lebih murah memang dapat membuat pelaku usaha pemula khawatir.

Namun, jangan langsung ikut menurunkan harga.

Harga yang terlalu murah memang dapat menarik pembeli, tetapi jika margin keuntungan terlalu kecil, usaha akan sulit berkembang. Bahkan, usaha bisa mengalami kerugian ketika harga bahan baku meningkat.


Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

 

1. Hitung Biaya Produksi Terlebih Dahulu

Pastikan harga jual dapat menutup seluruh biaya yang diperlukan untuk membuat dan menjual produk.

Biaya tersebut dapat mencakup:

  • Bahan baku
  • Gas dan listrik
  • Kemasan
  • Transportasi
  • Tenaga kerja
  • Biaya pendukung lainnya

Misalnya, jika biaya membuat satu lemper adalah Rp1.200, jangan menjualnya di bawah angka tersebut hanya karena kompetitor menjual dengan harga Rp1.000.

 

2. Bandingkan Kualitas Produk

Sebelum menetapkan harga, lihat kembali nilai yang diberikan kepada pelanggan.

Tanyakan:

  • Apakah ukuran kue lebih besar?
  • Apakah rasanya lebih enak?
  • Apakah bahan yang digunakan lebih berkualitas?
  • Apakah produk dibuat lebih bersih dan higienis?
  • Apakah kemasannya lebih rapi?
  • Apakah pelayanan lebih cepat dan ramah?

Jika produk memberikan nilai lebih, pelanggan biasanya memiliki alasan untuk membayar harga yang lebih tinggi.

 

3. Hindari Perang Harga

Jangan menjadikan harga murah sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan pelanggan.

Daripada terus menurunkan harga, berikan nilai tambah, misalnya:

  • Beli 10 gratis 1
  • Kemasan lebih menarik
  • Pelayanan lebih ramah
  • Pengiriman tepat waktu
  • Paket khusus untuk acara keluarga atau arisan

Dengan cara tersebut, pelanggan mendapatkan alasan untuk memilih produk tanpa harus membuat harga jual terlalu rendah.

 

4. Cari Cara Menghemat Biaya

Jika ingin menawarkan harga yang lebih kompetitif, fokuslah pada efisiensi biaya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membeli bahan baku dari pemasok dengan harga lebih baik.
  • Membeli bahan dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan harga grosir.
  • Mengurangi pemborosan bahan saat produksi.
  • Membuat perencanaan produksi berdasarkan jumlah pesanan.
  • Mengurangi penggunaan kemasan yang tidak diperlukan.

Jika biaya dapat ditekan tanpa menurunkan kualitas, harga jual bisa lebih kompetitif sekaligus tetap memberikan keuntungan.

 

5. Kenali Pelanggan Anda

Tidak semua pelanggan mencari harga paling murah.

Sebagian pelanggan justru lebih mengutamakan kebersihan, rasa, kualitas, kepercayaan kepada penjual, kemudahan memesan, dan ketepatan waktu pengiriman.

Kelompok pelanggan seperti ini biasanya lebih mempertimbangkan kualitas dan pelayanan dibandingkan sekadar selisih harga.

Karena itu, kenali siapa pelanggan utama Anda dan sesuaikan produk dengan kebutuhan mereka.

 

C. Jangan Panik Saat Harga Bahan Baku Naik

Ketika harga bahan baku jajanan pasar naik, tidak perlu langsung panik atau buru-buru menaikkan harga jual.

Langkah pertama adalah menghitung kembali biaya produksi.

Misalnya, sebelumnya biaya membuat satu lemper adalah Rp1.000 dan dijual dengan harga Rp1.300. Setelah harga beras ketan dan ayam naik, biaya produksi meningkat menjadi Rp1.150 per lemper.

Jika harga jual tetap Rp1.300, keuntungan per lemper otomatis berkurang.

Dalam kondisi seperti ini, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan.

 

1. Hitung Ulang Biaya Produksi

Catat harga bahan baku terbaru dan hitung kembali biaya produksi per produk.

Jangan menggunakan perhitungan lama jika harga bahan sudah berubah cukup signifikan.

 

2. Sesuaikan Harga Secara Bertahap

Jika kenaikan biaya membuat margin keuntungan terlalu kecil, harga jual dapat disesuaikan.

Misalnya, harga sebelumnya Rp1.300 kemudian dinaikkan menjadi Rp1.500.

Sampaikan perubahan harga kepada pelanggan dengan cara yang wajar dan jelaskan bahwa penyesuaian dilakukan karena adanya kenaikan biaya bahan baku.

 

3. Tingkatkan Efisiensi Produksi

Sebelum menaikkan harga terlalu tinggi, cari kemungkinan untuk menekan biaya.

Misalnya:

  • Mencari pemasok dengan harga lebih kompetitif.
  • Membeli bahan dalam jumlah yang lebih efisien.
  • Mengurangi pemborosan bahan.
  • Menyesuaikan jumlah produksi dengan permintaan.


 

4. Tingkatkan Nilai Produk

Jika harga harus naik, pastikan pelanggan tetap mendapatkan nilai yang sepadan.

Kualitas rasa, kebersihan, ukuran, kemasan, dan pelayanan harus tetap dijaga. Bahkan, jika memungkinkan, tingkatkan salah satu aspek tersebut agar pelanggan merasa kenaikan harga masih wajar.

 

Kesimpulan

Menentukan harga jual jajanan pasar tidak cukup hanya dengan melihat harga tepung, gula, telur, atau bahan utama lainnya.

Pelaku usaha perlu menghitung seluruh biaya produksi, menghargai waktu dan tenaga sendiri, memperhitungkan produk yang rusak atau tidak terjual, serta memantau perubahan harga bahan baku.

Harga kompetitor memang penting untuk dijadikan pembanding, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya dasar dalam menentukan harga.

Yang paling penting adalah memastikan harga jual mampu menutup seluruh biaya, memberikan keuntungan yang layak, dan tetap memberikan nilai yang baik kepada pelanggan.

Dengan perhitungan yang lebih cermat, usaha jajanan pasar bisa tetap laris, sehat, dan menguntungkan, bukan sekadar ramai pembeli tetapi keuntungan tidak maksimal.

Baca juga:  Kenaikan Harga BBM, Saatnya UMKM Tata Ulang Harga, Distribusi, dan Kualitas Layanan.

Jadi demikianlah formula menghindari penjualan yang merugi dan formula menentukan harga jual yang teoat sehingga laris manis dan untung maksimal pada jajanan pasar.  Apabila masih penasaran dan ingin tahu lebih jauh, silakan manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk berkonsultasi, dan bila belum daftar, silakan kllk ini.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Apa Itu STPW dan Kenapa Wajib Dicek Sebelum Investasi Franchise?
Artikel Ahli
Pengembangan Bisnis

Apa Itu STPW dan Kenapa Wajib Dicek Sebelum Investasi Franchise?

20 Agustus 2026

5.0
Perbedaan Franchise, Kemitraan, dan Paket Usaha: Kenali Sebelum Memulai Bisnis
Artikel Ahli
Pengembangan Bisnis

Perbedaan Franchise, Kemitraan, dan Paket Usaha: Kenali Sebelum Memulai Bisnis

18 Agustus 2026

5.0
Cara Memilih Franchise yang Tepat: Panduan Lengkap Sebelum Investasi
Artikel Ahli
Pengembangan Bisnis

Cara Memilih Franchise yang Tepat: Panduan Lengkap Sebelum Investasi

10 Agustus 2026

5.0
Meningkatkan Penjualan melalui AI
Pengembangan Bisnis

Meningkatkan Penjualan melalui AI

07 Agustus 2026

Berikan Pendapat Anda