Masih sering merasa harus mengawasi toko setiap saat? Karyawan selalu menunggu instruksi, masalah yang sama terus berulang, dan hampir semua keputusan akhirnya kembali kepada Anda?
Jika iya, mungkin sudah saatnya mengubah cara memimpin tim: bukan hanya memberikan perintah, tetapi juga melakukan coaching kepada karyawan.
Banyak pemilik toko kelontong yang telah menjalankan usaha selama lebih dari lima tahun menghadapi tantangan serupa. Bisnis semakin stabil, pelanggan bertambah, dan jumlah karyawan meningkat. Namun, pemilik usaha justru semakin sibuk karena hampir semua persoalan masih bergantung pada dirinya.
Masalahnya sering kali bukan kekurangan tenaga kerja, melainkan tim yang belum berkembang menjadi lebih mandiri.
Padahal, pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas orang-orang yang menjalankannya. Karena itu, selain mengembangkan bisnis, pemilik toko juga perlu mengembangkan kemampuan karyawannya.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membangun tim yang lebih mandiri adalah coaching.

Apa Itu Coaching?
Coaching adalah proses membantu karyawan mengembangkan kemampuan, menemukan solusi, dan mengambil tanggung jawab melalui percakapan yang terarah.
Dalam coaching, pemilik usaha tidak langsung memberikan jawaban atau solusi. Sebaliknya, karyawan diajak untuk memahami masalah, berpikir kritis, mengeksplorasi pilihan, kemudian menentukan tindakan yang dapat dilakukan.
Dengan pendekatan ini, karyawan tidak hanya belajar menyelesaikan satu masalah, tetapi juga belajar bagaimana menghadapi masalah serupa di kemudian hari.
Jadi, coaching bukan sekadar memberi tahu karyawan apa yang harus dilakukan. Tujuannya adalah membantu karyawan belajar berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Coaching dan Memberi Perintah: Apa Bedanya?
Coaching sering dianggap sama dengan memberikan arahan kepada bawahan. Padahal, keduanya memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda.
Memberi Perintah
Tujuannya adalah memastikan pekerjaan segera selesai.
Contoh:
"Rak minuman berantakan. Segera rapikan sekarang."
Dalam situasi tertentu, memberikan instruksi memang diperlukan, terutama ketika pekerjaan harus segera diselesaikan atau menyangkut standar operasional yang sudah jelas.
Coaching
Tujuannya bukan hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi membantu karyawan memahami penyebab masalah dan menemukan cara untuk mencegahnya terjadi kembali.
Contoh pertanyaan coaching:
"Menurutmu, apa penyebab rak minuman sering berantakan menjelang sore?"
"Apa yang bisa dilakukan agar kondisi ini tidak terus berulang?"
Dengan pendekatan tersebut, karyawan dilatih untuk memahami masalah dan mencari solusi, bukan sekadar menunggu instruksi dari atasan.
Perbedaan Utama
|
Memberi Perintah |
Coaching |
|
Atasan memberi solusi |
Karyawan menemukan solusinya sendiri |
|
Komunikasi satu arah |
Komunikasi dua arah |
|
Fokus menyelesaikan tugas |
Fokus mengembangkan kemampuan |
|
Karyawan bergantung pada atasan |
Karyawan lebih mandiri |
|
Hasil cepat jangka pendek |
Dampak besar jangka panjang |
Baca juga: Metode Evaluasi Kinerja Karyawan yang Efektif Bukan Sekedar Formalitas
Kenapa Coaching Penting untuk Karyawan Toko Kelontong?
Semakin besar usaha, semakin sulit bagi pemilik untuk mengawasi seluruh aktivitas toko setiap saat. Pada tahap inilah kemampuan karyawan untuk bekerja secara mandiri menjadi semakin penting.
Coaching dapat membantu pemilik toko dalam beberapa hal berikut.
1. Meningkatkan Inisiatif Karyawan
Karyawan tidak hanya menunggu instruksi, tetapi mulai belajar mengambil keputusan dalam situasi yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
Misalnya, ketika melihat stok barang tertentu mulai menipis, karyawan dapat belajar mengenali kondisi tersebut dan mengambil tindakan sesuai prosedur tanpa harus selalu menunggu perintah pemilik.
2. Mengurangi Kesalahan Operasional
Coaching membantu karyawan memahami penyebab masalah, bukan hanya memperbaiki akibatnya.
Misalnya, jika stok sering tidak sesuai, pemilik dapat mengajak karyawan mencari tahu penyebabnya. Apakah pencatatan belum konsisten? Apakah pengecekan stok tidak dilakukan secara rutin? Atau apakah ada prosedur yang belum dipahami?
Dengan memahami akar masalah, perbaikan dapat dilakukan dengan lebih tepat.
3. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pelanggan
Karyawan yang memahami tanggung jawabnya dan memiliki kepercayaan diri akan lebih siap menghadapi pertanyaan, keluhan, dan kebutuhan pelanggan.
Coaching juga dapat digunakan untuk mengevaluasi pengalaman pelanggan dan mencari cara meningkatkan kualitas pelayanan.
4. Menumbuhkan Calon Pemimpin
Ketika toko berkembang atau membuka cabang baru, pemilik membutuhkan orang yang dapat dipercaya untuk mengelola operasional.
Melalui coaching, karyawan dapat secara bertahap mengembangkan kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan memimpin pekerjaan. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal untuk mempersiapkan calon supervisor atau kepala toko.
5. Mengurangi Ketergantungan pada Pemilik
Salah satu tanda bahwa sistem kerja mulai berkembang adalah toko tetap dapat berjalan dengan baik meskipun pemilik tidak selalu berada di lokasi.
Coaching membantu membangun karyawan yang mampu menangani masalah sesuai tanggung jawabnya, sehingga pemilik tidak harus terlibat dalam setiap persoalan kecil.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Coaching?
Coaching tidak harus dilakukan dalam rapat formal yang panjang. Untuk bisnis toko kelontong, coaching justru dapat dilakukan melalui percakapan singkat dan rutin.
Beberapa momen yang dapat dimanfaatkan antara lain:
- Ketika karyawan belum mencapai target.
- Saat terjadi kesalahan yang berulang.
- Setelah menerima keluhan pelanggan.
- Sebelum memberikan target baru.
- Saat melakukan evaluasi mingguan.
- Ketika karyawan terlihat mengalami penurunan motivasi kerja.
- Saat mempersiapkan karyawan untuk promosi jabatan.
- Ketika ingin meningkatkan produktivitas tim.
Berapa Kali Coaching Sebaiknya Dilakukan?
Tidak ada satu frekuensi yang berlaku untuk semua toko. Jadwal coaching dapat disesuaikan dengan ukuran tim, kebutuhan bisnis, dan kondisi karyawan.
Sebagai gambaran, pemilik usaha dapat menggunakan pola berikut:
- Coaching mingguan: 10–15 menit per karyawan untuk membahas progres dan kendala.
- Coaching bulanan: 30–60 menit untuk membahas perkembangan secara lebih mendalam.
- Coaching triwulanan: membahas pengembangan kompetensi, tanggung jawab, dan rencana pengembangan karier.
Yang terpenting bukan hanya durasinya, tetapi konsistensi dan kualitas percakapannya.
Langkah-Langkah Praktis Coaching dengan Metode GROW
Salah satu metode yang dapat digunakan pemilik UMKM dan toko kelontong adalah GROW.
GROW merupakan pendekatan coaching yang terdiri dari empat tahap: Goal, Reality, Options, dan Will.
1. Goal: Tentukan Tujuan
Tahap pertama adalah membantu karyawan menentukan tujuan yang ingin dicapai.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan:
- Apa target yang ingin dicapai minggu ini?
- Apa yang ingin kamu perbaiki?
- Hasil seperti apa yang ingin kamu capai?
- Bagaimana kita mengetahui bahwa target tersebut sudah tercapai?
Contoh:
"Kamu ingin meningkatkan pelayanan pelanggan. Menurutmu, seperti apa indikator pelayanan yang baik?"
Pertanyaan tersebut membantu karyawan memahami tujuan secara lebih spesifik.
2. Reality: Pahami Kondisi Saat Ini
Setelah menentukan tujuan, gali kondisi yang sedang terjadi.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan:
- Apa yang sedang terjadi saat ini?
- Kendala terbesar yang kamu hadapi apa?
- Apa penyebab masalah tersebut?
- Data atau fakta apa yang mendukung kondisi tersebut?
Contoh:
"Mengapa pelanggan masih sering mengeluhkan antrean kasir yang panjang?"
Tujuannya adalah mendapatkan gambaran berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar asumsi.
3. Options: Cari Pilihan Solusi
Berikutnya, ajak karyawan mencari beberapa alternatif solusi.
Pertanyaan yang dapat digunakan:
- Menurutmu, apa saja pilihan yang tersedia?
- Solusi apa yang paling realistis?
- Apa alternatif lain yang bisa dicoba?
- Apa keuntungan dan risiko dari setiap pilihan?
Contoh:
"Apa yang bisa kita lakukan agar pelanggan dapat dilayani lebih cepat?"
Pada tahap ini, berikan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan ide sebelum pemilik memberikan saran.
4. Will: Tentukan Komitmen dan Tindakan
Tahap terakhir adalah menentukan tindakan yang akan dilakukan.
Pastikan hasil coaching tidak berhenti pada percakapan, tetapi menghasilkan langkah yang jelas.
Pertanyaan yang dapat digunakan:
- Solusi mana yang akan kamu jalankan?
- Kapan akan mulai dilakukan?
- Apa langkah pertama yang akan dilakukan?
- Bagaimana kita mengukur keberhasilannya?
- Kapan kita akan mengevaluasi hasilnya?
Contoh:
"Mulai minggu ini kamu akan melakukan pengecekan stok harian. Kapan waktu pengecekan dilakukan dan bagaimana pencatatannya?"
Dengan demikian, karyawan memiliki tujuan, tindakan, dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Bagaimana Mengetahui Coaching Karyawan Berhasil?
Coaching sebaiknya tidak hanya dinilai dari apakah percakapan sudah dilakukan. Perhatikan juga perubahan perilaku, operasional, dan hasil kerja.
Indikator Perubahan Perilaku Karyawan
- Karyawan lebih percaya diri dalam menjalankan tugas.
- Lebih aktif memberikan ide.
- Berani mengambil tanggung jawab sesuai kewenangannya.
- Menunjukkan lebih banyak inisiatif.
- Lebih mandiri dalam menyelesaikan masalah.
Indikator Operasional Toko
- Kesalahan pencatatan atau pengelolaan stok berkurang.
- Barang kedaluwarsa lebih terkendali.
- Kerapian toko meningkat.
- Keluhan pelanggan berkurang.
- Produktivitas kerja meningkat.
Indikator Bisnis
- Omzet berkembang sesuai target bisnis.
- Kehilangan atau selisih barang lebih terkendali.
- Retensi karyawan membaik.
- Kepuasan pelanggan meningkat.
- Pemilik tidak lagi harus menangani setiap persoalan operasional.
Perlu diingat, perubahan pada indikator bisnis tidak selalu merupakan hasil coaching semata. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhinya, seperti kondisi pasar, harga, lokasi toko, stok, promosi, dan sistem operasional.
Mulai Bangun Tim yang Lebih Mandiri
Membangun karyawan yang mandiri membutuhkan proses. Karena itu, tidak perlu menunggu sampai muncul masalah besar untuk mulai melakukan coaching.
Cobalah meluangkan waktu 10–15 menit setiap minggu untuk berbicara dengan karyawan mengenai target, kendala, pilihan solusi, dan tindakan berikutnya.
Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu atau dua hari. Namun, jika dilakukan secara konsisten, coaching dapat membantu karyawan mengembangkan kemampuan berpikir, mengambil tanggung jawab, dan menyelesaikan masalah secara lebih mandiri.
Pada akhirnya, tujuan coaching bukan membuat karyawan bergantung pada pemilik untuk setiap keputusan, melainkan membantu mereka berkembang sehingga mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih baik.
Baca juga: Cara Memeriksa Kesehatan Bisnis, Rekomendasi untuk UMKM
Pemilik yang hanya memberi perintah akan memiliki tim yang patuh. Pemilik yang melakukan coaching akan memiliki tim yang bertumbuh.
Untuk memahami lebih dalam mengenai teknik coaching. Anda juga dapat berkonsultasi langsung dengan Business Coach di Tanya Ahli. Segera daftarkan diri Anda dengan melakukan registrasi pendaftaran di Daya.id.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda