Informasi Artikel

Dirilis

23 Juli 2026

Penulis Artikel

Thomas Aquino Herly Marwanto


Tag

Bayangkan ada seorang pemilik toko makanan ringan bernama Budi. Pada tahun pertama usahanya, penjualan terus meningkat karena banyak pelanggan penasaran dengan produknya. Melihat kondisi tersebut, Budi langsung menambah stok dalam jumlah besar dan menyewa gudang tambahan.

Namun, memasuki tahun ketiga, penjualan mulai naik turun. Pada bulan Ramadan penjualan sangat tinggi, tetapi setelah itu menurun drastis. Akibatnya, banyak stok yang tidak terjual. Biaya sewa gudang tetap berjalan, sementara arus kas mulai terganggu. Budi akhirnya kesulitan membayar pemasok dan hampir menutup usahanya.

Beruntung, ia segera melakukan evaluasi. Ia mengurangi stok yang bergerak lambat, lebih fokus pada produk yang paling laris, dan mulai berjualan melalui marketplace. Dalam waktu satu tahun, kondisi usahanya kembali stabil.

Pelajaran yang bisa diambil adalah masalah utama Budi bukan karena penjualan turun, melainkan karena biaya usaha lebih besar daripada kemampuan bisnis menghasilkan uang. Banyak UMKM bangkrut bukan karena tidak ada penjualan, atau penjualan tidak stabil, tetapi karena tidak mampu mengelola arus kas saat penjualan sedang menurun.

 

Mengapa Penjualan Tidak Stabil?

Penjualan tidak stabil bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti: 

  • Perubahan daya beli konsumen.
  • Munculnya pesaing baru.
  • Tren pasar yang berubah.
  • Faktor musiman seperti liburan, tahun ajaran baru, atau hari raya.
  • Ketergantungan pada satu jenis produk atau satu pelanggan utama.
  • Kurangnya aktivitas pemasaran.

Nah, untuk bertahan dan menghindari kebangkrutan saat penjualan turun, ada beberapa hal yang harus mulai diperhatikan.  Silakan cek, apakah:

  • Penjualan turun lebih dari 20% selama beberapa bulan berturut-turut ?
  • Stok menumpuk dan sulit terjual ?
  • Mulai memakai utang untuk membayar biaya operasional ?
  • Kesulitan membayar pemasok tepat waktu ?
  • Saldo kas terus menurun setiap bulan ?

Bila  4 dari 5 pertanyaan tersebut jawabannya adalah iya, maka waspadalah dengan kondisi usaha Anda.

Untuk memastikan kondisi usaha Anda dalam kondisi sehat atau tidak, silakan manfaatkan tools cek kesehatan usaha di website ini.

Bacalah:  Pentingnya Cek Kesehatan Usaha Anda dan Cara Melakukannya

Untuk menjaga agar usaha Anda tetap bisa survive (berjalan), perhatikan beberapa hal ini:

 

1. Pastikan Tersedia Dana Operasional Usaha

Banyak UMKM bangga karena omzet besar, tetapi lupa memperhatikan uang yang benar-benar tersedia di rekening. Karena omzet itu belum mencerminkan, bahwa usaha telah memperoleh laba bersih.

Contohnya:  Pak Budi memiliki omzet Rp100 juta per bulan dan biaya operasionalmua Rp95 juta per bulan. Artinya laba bersihnya hanya Rp5 juta. Jika penjualan turun 10%, usaha bisa langsung merugi.

Oleh arena itu, pantaulah arus kas setiap minggu. Pastikan selalu ada dana untuk membayar sewa tempat, gaji karyawan, tagihan pperasional dan pembelian stok barang.

 

2. Kurangi Pengeluaran yang Tidak Penting untuk Berhemat

Saat penjualan menurun, jangan buru-buru menambah pinjaman. Lakukan evaluasi biaya terlebih dahulu:

  • Apakah semua langganan aplikasi masih diperlukan?
  • Apakah ada promosi yang tidak menghasilkan penjualan?
  • Apakah semua stok perlu dibeli dalam jumlah besar?

Ingat ya, setiap penghematan kecil dapat membantu menjaga kelangsungan usaha. Misalnya biaya operasional dapat ditekan dari Rp20 juta menjadi Rp17 juta per bulan. Dalam setahun, penghematan mencapai Rp36 juta.

 

3. Identifikasi Produk Paling Laris

Banyak UMKM memiliki puluhan produk, tetapi bila diperhatikan hanya beberapa produk yang menyumbang sebagian besar pendapatan. Maka buatlah daftar produk paling laku. produk paling menguntungkan, dan produk yang jarang terjual. Kemudian kurangi stok produk yang lambat dan fokus pada produk unggulan.

Contohnya, apabila pemilik sebuah toko sembako menemukan bahwa minyak goreng, telur, dan beras memberikan 70% dari total penjualan. Maka sebaiknya pemilik toko kemudian mengalokasikan modal lebih besar ke produk tersebut dibanding produk yang jarang dibeli.

 

4. Jangan Bergantung pada Satu Saluran Penjualan

Janganlah hanya mengandalkan  satu toko fisik, risiko kerugian menjadi lebih besar. Cobalah membuka dan menambah saluran penjualan seperti marketplace, whatsapp business, media sosial, website toko, dan program reseller. Ketika satu saluran melemah, saluran lain dapat membantu menjaga penjualan.

 

5. Siapkan Dana Darurat Bisnis

Sama seperti keuangan pribadi, bisnis juga membutuhkan dana darurat. Idealnya siapkan dana yang cukup untuk menutup biaya operasional selama 3–6 bulan. Dana ini dapat menjadi penyelamat usaha ketika kondisi pasar sedang lesu.

Misalnya: bila biaya operasional bulanan Rp15 juta, maka dana darurat minimal Rp45–90 juta.

 

6. Jagalah Pelanggan Lama

Mencari pelanggan baru biasanya lebih mahal dan lebih sulit dibandingkan mempertahankan pelanggan lama. Maka jagalah pelanggan, agar mereka tetap setia, dengan memberikan pelayanan yang ramah, mengirim informasi promo melalui WhatsApp, menawarkan program loyalitas, dan memberikan bonus pembelian tertentu. Pelanggan yang puas cenderung melakukan pembelian berulang dan merekomendasikan usaha kepada orang lain.

 

7. Pantau Angka Penting Bisnis

Jangan mengelola usaha hanya berdasarkan perasaan. Periksalah secara rutin: penjualan harian, margin keuntungan, nilai stok yang tersimpan, arus kas, dan jumlah pelanggan. Dengan data yang jelas, keputusan bisnis akan lebih akurat dan risiko kesalahan dapat dikurangi.

Penjualan yang tidak stabil adalah hal yang wajar bagi UMKM ritel yang sedang berkembang. Yang menentukan kelangsungan usaha bukanlah seberapa tinggi penjualan pada saat ramai, melainkan seberapa baik pemilik usaha mengelola bisnis ketika kondisi sedang sulit.

Fokuslah pada pengelolaan arus kas, pengendalian biaya, produk yang paling menguntungkan, diversifikasi saluran penjualan, serta menjaga loyalitas pelanggan. Dengan disiplin menjalankan langkah-langkah tersebut, UMKM dapat bertahan melewati masa penjualan  tidak stabil dan menghindari risiko kebangkrutan.

Ingat, banyak bisnis besar yang pernah mengalami masa sulit. Perbedaannya adalah mereka cepat beradaptasi dan mengambil tindakan sebelum masalah menjadi lebih besar. UMKM yang mampu mengelola risiko sejak dini akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Silakan baca:  Cara Memeriksa Kesehatan Bisnis, Rekomendasi untuk UMKM.

Radar Bisnis ini tidak dipungut biaya bagi para pengguna lho dan apabila setelah mendapatkan hasil test cek Kesehatan usaha ini, Anda ingin berkonsultasi dengan ahli dibidang usaha kecil agar semakin mampu meningkatkan performa usaha, silakan manfaatkan fitur Tanya Ahli ya, dan mari yang belum pernah daftar daya.id, segera daftar ya. Cukup klik link ini.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Strategi Mengembangkan Usaha Rumahan
Pengembangan Bisnis

Strategi Mengembangkan Usaha Rumahan

03 Juni 2026

5.0
Saat Harga Plastik Mahal: Tantangan dan Peluang untuk Usaha
Pengembangan Bisnis

Saat Harga Plastik Mahal: Tantangan dan Peluang untuk Usaha

21 April 2026

5.0
Tahapan Brainstorming yang Tepat untuk Mengembangkan Bisnis Sejak Awal
Pengembangan Bisnis

Tahapan Brainstorming yang Tepat untuk Mengembangkan Bisnis Sejak Awal

08 Maret 2026

4.8
Prediksi Peluang Bisnis 2026 dan Strategi Pengembangan UMKM
Pengembangan Bisnis

Prediksi Peluang Bisnis 2026 dan Strategi Pengembangan UMKM

04 Desember 2025

Berikan Pendapat Anda