Informasi Artikel

Dirilis

26 Agustus 2026

Penulis Artikel

Liana Oktavia


Tag

Pernahkah Anda menemukan franchise yang menulis "Franchise kami tanpa royalti bulanan!" dalam materi promosi mereka? Klaim seperti ini tentunya terdengar menarik bagi calon mitra yang ingin menekan biaya operasional.

Anda mungkin berpikir, "Wah, sudah modal sekali, tinggal jalan, untung sendiri." Namun, setelah bisnis berjalan, Anda baru menyadari bahwa harga bahan baku yang wajib dibeli dari pusat ternyata 30-40% lebih tinggi dibandingkan harga pasar dengan kualitas yang setara. Pada beberapa franchise, keuntungan franchisor memang tidak hanya berasal dari royalti, tetapi juga dari margin penjualan bahan baku.

Karena itu, keseluruhan struktur biaya perlu dipertimbangkan, bukan hanya franchise fee di awal.

 

Franchise Fee vs Total Cost of Ownership

Franchise fee yang tercantum di brosur hanyalah sebagian dari total biaya. Yang perlu dihitung adalah total cost of ownership selama masa kontrak, bukan hanya biaya masuk.

Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh berikut:

Komponen Biaya

Brand A

Brand B

Franchise fee

50 juta

80 juta

Royalti bulanan

5% omzet

0% (tanpa royalti)

Mark-up bahan baku dari pusat

10%

30%

Marketing fee

2% omzet

Tidak ada

Renewal Fee (tahun ke-5)

25 juta

40 juta

Estimasi total 5 tahun

Lebih kompetitif

Sering lebih mahal

Dengan asumsi omzet yang sama, total biaya Brand B justru bisa lebih besar karena mark-up bahan baku dan renewal fee yang lebih tinggi. Karena itu, bandingkan total biaya, bukan hanya biaya awal. 

 

Dua Model Keuntungan Franchisor

Franchisor mengambil keuntungan dari mitra dengan dua model utama:

 

1.    Royalti Langsung

Model ini mengambil persentase tertentu dari omzet bulanan, biasanya 3-8%. Model ini transparan karena Anda dapat mengetahui besaran royalti yang dibayarkan ke pusat. Namun, royalti umumnya dihitung dari total omzet, bukan laba bersih.

 

2.    Mark-up Supply Chain

Franchisor memasok bahan baku kepada mitra dengan harga di atas harga pasar. Selisih harga tersebut menjadi salah satu sumber keuntungan franchisor meskipun tidak tercantum sebagai royalti.

Pada beberapa franchise, klaim "tanpa royalti" berarti keuntungan franchisor berasal dari mark-up bahan baku, bukan dari royalti bulanan. Model ini tidak selalu merugikan. Namun, Anda tetap perlu memahami dampaknya terhadap biaya operasional.

Untuk memastikannya, tanyakan harga bahan baku dari pusat, lalu bandingkan dengan harga pasar untuk produk dan kualitas yang setara. Selisihnya perlu Anda masukkan ke dalam perhitungan biaya operasional.

 

Renewal Fee yang Perlu Diperhitungkan Sejak Awal

Kontrak franchise umumnya berlaku selama 3–5 tahun. Setelah masa tersebut berakhir, Anda perlu membayar renewal fee atau biaya perpanjangan jika ingin melanjutkan kerja sama. 

Besarannya bervariasi, biasanya sekitar 30–60% dari franchise fee awal. Sebagai contoh, pada franchise dengan modal awal Rp100 juta, renewal fee dapat mencapai Rp30–60 juta. Nilai tersebut bisa menjadi pengeluaran besar jika tidak diperhitungkan sejak awal.

Berikut beberapa pertanyaan yang sebaiknya Anda ajukan sebelum menandatangani kontrak pertama:

  • Apakah ada renewal fee? Berapa besarannya?
  • Apakah biaya renovasi termasuk dalam renewal atau dihitung terpisah?
  • Apakah pusat berhak menaikkan standar dan biaya renovasi saat renewal?
  • Apa yang terjadi kalau Anda menolak melanjutkan kontrak?


 

Memahami Fungsi Marketing Fee pada Bisnis Franchise

Banyak franchise menerapkan marketing fee, biasanya sebesar 1–3% dari omzet, untuk promosi nasional. Namun, manfaatnya tidak selalu dirasakan oleh semua mitra. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Apakah promosi yang dibiayai pusat menjangkau area Anda? Atau hanya kota besar?
  • Apakah ada laporan penggunaan dana marketing yang transparan ke mitra?
  • Apakah Anda boleh melakukan promosi lokal tambahan, atau ada larangan?


 

Dampak Potongan Platform Online terhadap Margin Penjualan

Jika bisnis Anda terdaftar di GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood, potongan platform sekitar 20–30% dari harga jual perlu ikut diperhitungkan. Meski bukan biaya franchisor, potongan ini dapat memengaruhi margin usaha.

Sebagai ilustrasi:

  • Harga jual sebuah menu: Rp 25.000
  • Potongan platform 25%: Rp 6.250
  • Pendapatan bersih: Rp 18.750
  • Kalau food cost (HPP) Rp 10.000, margin Anda hanya Rp 8.750 sebelum biaya operasional, royalti, marketing fee, dan listrik.

Jika proyeksi omzet mengandalkan penjualan melalui aplikasi, pastikan potongan platform juga diperhitungkan agar estimasi keuntungan lebih akurat.

 

Biaya-Biaya Lain yang Sering TerlewatTerlewat

Selain biaya di atas, ada beberapa komponen biaya lain yang juga perlu Anda perhitungkan:

  • Biaya renovasi outlet: Beberapa franchisor mewajibkan renovasi sesuai standar terbaru setiap 2–3 tahun, dengan biaya yang ditanggung mitra.
  • Biaya pelatihan tambahan: Pelatihan awal biasanya gratis, tapi pelatihan ulang untuk karyawan baru atau menu baru seringnya ditanggung mitra.
  • Asuransi dan perizinan lokal: Biaya pengurusan izin usaha, sertifikat halal, atau perizinan lain sesuai ketentuan yang berlaku dapat menjadi tanggungan mitra.
  • Biaya audit dan supervisi: Beberapa franchisor mengenakan biaya kunjungan supervisi rutin.
  • Penalty kalau melanggar SOP: Dapat berupa denda, penghentian pasokan bahan baku, atau bahkan pemutusan kontrak.


 

Cara Menghitung Total Biaya Kepemilikan yang Realistis

Agar perhitungan biaya lebih realistis, susun proyeksi selama lima tahun yang mencakup:

  1. Modal awal: Franchise fee + renovasi + perlengkapan + modal kerja awal
  2. Biaya bulanan tetap: Sewa, gaji, royalti, marketing fee, listrik
  3. Biaya berkala: Pelatihan ulang, audit, asuransi, perpanjangan izin
  4. Biaya periodik: Renovasi rutin di tahun ke-2 atau ke-3
  5. Biaya akhir kontrak: Renewal fee + renovasi mayor di tahun ke-5

Bandingkan total biaya tersebut dengan proyeksi pendapatan berdasarkan omzet rata-rata mitra existing, bukan omzet puncak. Dengan begitu, Anda dapat memperkirakan keuntungan kotor selama masa kontrak franchise.

Setelah menghitung seluruh biaya, pastikan margin yang tersisa masih cukup untuk mendukung operasional bisnis dan mengantisipasi biaya tak terduga atau perubahan kondisi usaha.

Setelah memahami struktur biaya, Anda dapat memanfaatkan fitur Peluang Usaha Daya.id untuk membandingkan berbagai pilihan franchise dan mengevaluasi total cost of ownership sejak awal. Kemudian, daftarkan diri Anda untuk mengakses berbagai artikel dan informasi pengembangan usaha lainnya.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Penjualan Tidak Stabil? Ini Tips Bertahan dan Terhindar dari Kebangkrutan
Pengembangan Bisnis

Penjualan Tidak Stabil? Ini Tips Bertahan dan Terhindar dari Kebangkrutan

23 Juli 2026

5.0
Strategi Mengembangkan Usaha Rumahan
Pengembangan Bisnis

Strategi Mengembangkan Usaha Rumahan

03 Juni 2026

5.0
Saat Harga Plastik Mahal: Tantangan dan Peluang untuk Usaha
Pengembangan Bisnis

Saat Harga Plastik Mahal: Tantangan dan Peluang untuk Usaha

21 April 2026

5.0
Tahapan Brainstorming yang Tepat untuk Mengembangkan Bisnis Sejak Awal
Pengembangan Bisnis

Tahapan Brainstorming yang Tepat untuk Mengembangkan Bisnis Sejak Awal

08 Maret 2026

Berikan Pendapat Anda