Informasi Artikel

Penulis Artikel

Arief Akbar

Di tengah mobilitas yang makin tinggi dan perubahan lingkungan yang cepat, Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perbincangan setelah otoritas India mengonfirmasi dua kasus pada tenaga kesehatan di West Bengal pada akhir Januari 2026.

Kabar baiknya, seluruh 190–196 kontak erat telah dilacak dan dinyatakan negatif. Pengawasan di fasilitas kesehatan diperketat, sementara sejumlah bandara di kawasan Asia meningkatkan screening kesehatan. WHO menilai risikonya rendah untuk menyebar ke luar India, meski kewaspadaan tetap diperlukan.

Yuk, mari pahami apa itu Virus Nipah, bagaimana penularannya, apa saja gejalanya, serta langkah praktis mencegahnya di rumah, sekolah, dan tempat kerja.

 

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonosis (berasal dari hewan) dari genus Henipavirus yang dapat menular ke manusia dan kemudian menyebar antarmanusia melalui kontak erat.

Manifestasi penyakitnya sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, infeksi pernapasan akut, hingga ensefalitis (radang otak) yang berat. Tingkat fatalitas kasus berkisar 40–75%, sehingga Nipah masuk dalam daftar priority pathogens WHO.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus yang berizin. Penanganan difokuskan pada perawatan suportif serta pencegahan penularan.

 

Asal Mula dan Riwayat Wabah Virus Nipah

Virus Nipah pertama kali dikenali pada wabah 1998–1999 di Malaysia yang melibatkan peternak babi, lalu menyebar ke Singapura dengan total 11 kasus.

Setelah itu, kejadian luar biasa (KLB) berulang muncul di:

  • Bangladesh (hampir setiap tahun),
  • India (secara periodik),
  • Filipina (2014), dengan hewan perantara yang berbeda.

Pola ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan, perilaku konsumsi, dan sistem kesehatan lokal sangat memengaruhi cara virus menemukan inang baru. Per awal 2026, West Bengal kembali melaporkan klaster kecil yang telah dinyatakan terkendali oleh pemerintah India dan WHO.

 

Bagaimana Virus Nipah Menular?

Ada tiga jalur utama penularan yang perlu dipahami:

 

1.    Hewan ke manusia

Kelelawar buah (Pteropus) merupakan reservoir alami virus Nipah. Pada beberapa wabah, penularan juga terjadi melalui babi atau kuda.

 

2.    Makanan atau minuman terkontaminasi

Contoh klasiknya adalah konsumsi nira kurma mentah atau buah yang telah terkontaminasi air liur kelelawar.

 

3.    Antarmanusia

Terjadi melalui kontak erat dengan droplet atau cairan tubuh, terutama di lingkungan rumah tangga dan fasilitas kesehatan yang belum optimal menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI).

Memahami ketiga jalur ini membantu kita memutus rantai penularan di level perilaku sehari-hari.

Baca juga: Makanan kaya gizi untuk antisipasi Virus 

 

Gejala dan Masa Inkubasi Virus Nipah

Gejala awal Virus Nipah sering menyerupai flu, antara lain:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Nyeri tenggorokan
  • Batuk
  • Mual atau muntah

Pada sebagian kasus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi gangguan neurologis seperti:

  • Kebingungan
  • Mengantuk berlebihan
  • Kejang
  • Koma akibat ensefalitis

Masa inkubasi umumnya berkisar 4–14 hari, meski laporan langka menyebutkan hingga sekitar 45 hari. Karena gejalanya tidak spesifik, riwayat paparan sangat penting untuk membantu dokter menegakkan kecurigaan klinis.

 

Situasi dan Risiko di Indonesia: Tetap Tenang, Tetap Waspada

Hingga artikel ini ditulis, Indonesia belum melaporkan kasus konfirmasi Virus Nipah pada manusia. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa genom atau antibodi Nipah telah lama terdeteksi pada kelelawar buah di beberapa wilayah Indonesia.

Studi tahun 2025 melaporkan temuan Nipah pada Pteropus hypomelanus di Jawa Tengah, sementara riset lain mengindikasikan sirkulasi virus di kelelawar Kalimantan. BRIN menekankan pentingnya surveilans berbasis pendekatan One Health (manusia–hewan–lingkungan), terutama karena pola musiman di Asia Selatan cenderung terjadi pada periode Desember–Mei.

 

Contoh Kasus Terkini: Klaster West Bengal 2026

Pada Januari 2026, India melaporkan dua perawat di Barasat, West Bengal, dengan gejala berat—salah satunya sempat memerlukan ventilator. Konfirmasi laboratorium dilakukan oleh NIV Pune.

Pelacakan terhadap 190–196 kontak menunjukkan seluruhnya negatif. WHO menilai risiko:

  • Subnasional: moderat
  • Nasional, regional, dan global: rendah

Beberapa negara meningkatkan screening bandara dan kesiapsiagaan klinis, sembari menepis hoaks lockdown yang sempat beredar. Pelajaran pentingnya jelas: respon cepat, contact tracing disiplin, dan PPI ketat mampu membatasi klaster tanpa memicu kepanikan.

 

Tips Praktis Mencegah dan Menghadapi Virus Nipah


 

1. Jaga Kebersihan Dapur dan Meja Makan

Cuci bersih buah dan buang yang tampak memiliki bekas gigitan. Hindari minuman mentah seperti nira kurma atau aren di daerah berisiko, dan pilih produk yang telah dimasak atau dipasteurisasi.

 

2. Terapkan Higiene Keluarga dan Etika Batuk

Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar. Saat merawat anggota keluarga yang sakit, gunakan masker, pisahkan alat makan, dan bersihkan permukaan yang sering disentuh.

 

3. Waspada terhadap Kontak Satwa Liar

Hindari menyentuh kelelawar atau hewan yang tampak sakit. Edukasi anak agar tidak bermain di bawah pohon tempat kelelawar aktif. Laporkan temuan satwa liar sakit atau mati kepada otoritas setempat.

 

4. Cermati Rencana Perjalanan

Jika bepergian ke wilayah yang melaporkan kasus, ikuti imbauan otoritas kesehatan dan pantau gejala hingga dua minggu setelah kembali. WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan, namun kewaspadaan tetap diperlukan.

 

5. Kenali Tanda Bahaya dan Segera Berobat

Demam tinggi disertai sesak berat atau gangguan saraf seperti kejang dan kebingungan memerlukan rujukan medis segera. Sampaikan riwayat paparan secara lengkap kepada tenaga kesehatan.

 

6. Ikuti Informasi Resmi dan Dukung Surveilans

Ikuti pembaruan dari Kemenkes, BRIN, dan WHO. Surveilans berkelanjutan sangat penting mengingat keberadaan reservoir virus di Indonesia.

Baca Juga: Tips Hadapi virus polio

 

Tetap Tenang dan Waspada

WHO menilai risiko global dari klaster West Bengal tetap rendah dan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan. Namun, karena reservoir virus ada di kawasan dan perubahan ekologi selalu mungkin, edukasi, higiene, dan PPI perlu menjadi kebiasaan baru.

Kabar baiknya, sejumlah konsorsium internasional seperti CEPI Oxford sedang menguji kandidat vaksin di Bangladesh. Ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapsiagaan jangka panjang menghadapi Virus Nipah.

Virus Nipah mengingatkan kita bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung. Dengan memahami asal-usul, jalur penularan, gejala, dan pencegahan, kita bisa melindungi keluarga tanpa perlu panik. Terapkan kebersihan pangan, disiplin higiene, waspadai tanda bahaya, dan ikuti informasi resmi. 

Anda Butuh saran lebih lanjut, misalnya untuk anak, lansia, atau keluarga dengan komorbid? Gunakan fitur Tanya Ahli di Daya.id untuk konsultasi langsung dengan pakar kami dan dapatkan rekomendasi yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

4.8
Nutrisi & Kesehatan

Tips Latihan Untuk Meningkatkan Daya Tahan Otot

05 Maret 2022

4.9
Nutrisi & Kesehatan

Posisi Duduk yang Baik Bagi Pekerja Kantoran

10 Januari 2022

Artikel Ahli
4.9
Nutrisi & Kesehatan

Olahraga Selama Bulan Puasa Ramadhan? Ini Tipsnya

19 April 2022

4.9
Nutrisi & Kesehatan

Tips Angkat Beban untuk Wanita

06 Juni 2023

Berikan Pendapat Anda

5 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS