Membiasakan anak hidup hemat listrik sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi keluarga. Bukan hanya berdampak pada tagihan listrik yang lebih terkendali, tetapi juga membentuk karakter anak yang peduli lingkungan dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Bahaya Pemanasan Global
Di sisi lain, konsumsi listrik masyarakat terus meningkat. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa konsumsi listrik per kapita di Indonesia naik dari 1.337 kWh pada 2023 men-jadi 1.411 kWh pada 2024.
Artinya, peran setiap rumah tangga termasuk anak-anak menjadi semakin penting dalam mengelola energi secara bijak.
Baca Juga: Apa itu Jejak Karbon
Kenapa Anak Perlu Diajarkan Hemat Listrik?
Mungkin Anda berpikir, “Anak-anak memang bisa diajari soal listrik?” Jawabannya: bisa, dan justru sebaiknya sejak dini.
Mengajarkan hemat listrik membantu anak memahami bahwa:
- Energi tidak tersedia tanpa batas
- Setiap penggunaan punya dampak
- Kebiasaan kecil di rumah bisa berpengaruh besar bagi lingkungan
Selain itu, melibatkan anak dalam kebiasaan hemat energi juga:
- Melatih rasa tanggung jawab
- Menguatkan kedekatan orang tua dan anak
- Menjadikan penghematan sebagai aktivitas positif bersama
![]()
Cara Praktis Mengajarkan Anak Hidup Hemat Listrik
Anda tidak perlu metode rumit. Cukup mulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Berikut langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan di rumah.
1. Jadilah Contoh yang Baik
Anak adalah peniru terbaik.
Jika orang tua terbiasa:
- Mematikan lampu saat keluar ruangan
- Mencabut charger setelah digunakan
- Menggunakan listrik seperlunya
Anak akan menganggap hal itu sebagai kebiasaan normal.
2. Ubah Hemat Listrik Jadi Permainan
Agar tidak terasa menggurui, buat aktivitas ini lebih menyenangkan.
Contohnya:
- Jadikan anak sebagai “polisi energi”
- Tugasnya memeriksa lampu atau alat elektronik yang masih menyala
- Beri pujian atau hadiah kecil saat mereka menjalankan tugasnya
Cara ini membuat anak merasa dilibatkan, bukan diperintah.
3. Jelaskan dengan Bahasa Sederhana
Anak tidak perlu penjelasan teknis tentang energi.
Cukup gunakan kalimat sederhana, seperti:
- “Kalau lampunya dimatikan, kita bantu bumi supaya tidak cepat panas.”
- “Kalau listriknya hemat, uangnya bisa ditabung buat main atau liburan.”
Penjelasan yang relevan dengan dunia anak akan lebih mudah dipahami.
4. Biasakan Mematikan dan Mencabut Peralatan Elektronik
Ajarkan anak untuk:
- Mematikan TV, komputer, atau konsol game setelah dipakai
- Tidak meninggalkan alat elektronik dalam kondisi standby
- Mencabut kabel dari stopkontak jika sudah selesai
Kebiasaan kecil ini sangat efektif mengurangi pemborosan listrik.
5. Manfaatkan Cahaya Alami
Dorong anak untuk:
- Membuka jendela dan tirai di siang hari
- Menggunakan cahaya matahari sebagai penerangan alami
Selain hemat listrik, cahaya alami juga lebih baik untuk kesehatan mata dan suasana rumah.
6. Batasi Penggunaan Gawai
Penggunaan gawai berlebihan bukan hanya berdampak pada listrik, tetapi juga pada perkembangan anak.
Sebagai alternatif, ajak anak:
- Bermain sepeda
- Membaca buku
- Berkebun
- Bermain di luar rumah
Aktivitas ini lebih sehat dan tidak membutuhkan listrik.
Mengajarkan anak hidup hemat listrik bukan semata soal menurunkan tagihan bulanan. Lebih dari itu, ini adalah proses membangun generasi yang sadar energi dan peduli lingkungan.
Dengan contoh nyata, penjelasan sederhana, dan pendekatan yang menyenangkan, anak-anak akan tumbuh dengan kebiasaan baik dalam menggunakan listrik.
Yuk, mulai dari rumah. Biasakan hemat listrik bersama keluarga demi masa depan yang lebih cerah dan ling-kungan yang lebih hijau.
Jika Anda butuh saran lebih lanjut, Anda bisa berkonsultasi di Tanya Ahli. Daftarkan diri Anda untuk akses gratis di Daya.id.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda