Setelah gorengan terakhir diangkat, kompor dimatikan, dan dapur mulai dibersihkan, sering muncul satu pertanyaan klasik: “Minyak bekas ini, buangnya ke mana, ya?”
Baca Juga: Bahaya Pemanasan Global: Ancaman Nyata di Sekitar Kita
Yup, minyak jelantah atau minyak goreng bekas sering dianggap sebagai sampah dapur biasa. Padahal, kalau dibuang sembarangan, dampaknya bisa serius, lho. Yuk kita bahas bersama, minyak jelantah harus dibuang ke mana, dan benarkah minyak bekas bisa punya “kehidupan kedua”?
Baca Juga: Apa Itu Jejak Karbon? Yuk, Kenali dan Kurangi Bersama
Kenapa Nggak Boleh Dibuang Sembarangan?
Banyak orang masih punya kebiasaan menuang minyak bekas ke wastafel atau selokan. Tapi tahukah Anda, minyak yang mengalir ke saluran air itu bisa membeku dan menyumbat pipa? Kalau sudah mampet, bukan cuma dapur yang bermasalah sistem pengolahan air limbah kota pun bisa ikut kacau.
Belum lagi kalau minyak sampai masuk ke sungai, danau, atau laut. Minyak akan membentuk lapisan di permukaan air, menghalangi sinar matahari masuk, dan bikin tanaman air nggak bisa berfotosintesis. Akibatnya, kehidupan di air ikut terganggu. Semua gara-gara setetes minyak yang kita anggap remeh.

Minyak Bekas Bisa Daur Ulang? Bisa Banget!
Ternyata, minyak jelantah nggak harus selalu berakhir di tempat sampah. Di tangan yang tepat, minyak bekas bisa berubah jadi:
- Biodiesel, bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan,
- Sabun batang alami,
- Bahkan lilin aromaterapi!
Sudah banyak komunitas dan startup di Indonesia yang mengolah minyak jelantah jadi energi dan produk bermanfaat. Di beberapa kota, Anda bisa menyumbangkan minyak bekas ke bank jelantah atau komunitas daur ulang, seperti Jelantah4Change atau Rekosistem.
Gimana Cara Mengelola Minyak Jelantah di Rumah?
Tenang, Anda nggak perlu jadi ahli kimia buat mulai dari rumah. Ini langkah-langkah simpel yang bisa Anda lakukan:
1. Saring dan Simpan dengan Benar
Setelah digunakan, biarkan minyak dingin. Lalu saring ampasnya dan tuang ke botol plastik bekas. Jangan pakai botol kaca ya rawan pecah dan berat kalau dikumpulkan.
2. Pisahkan dari Limbah Lain
Jangan campur minyak dengan sampah basah atau cairan lain. Simpan terpisah agar mudah dikumpulkan saat Anda mau menyumbangkan atau mendaur ulang.
3. Serahkan ke Bank Jelantah
Cek komunitas atau lembaga di kota Anda. Beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya punya titik pengumpulan minyak jelantah. Selain berdampak buat lingkungan, Anda juga bisa dapat insentif atau poin dari beberapa aplikasi.
4. Mau Eksperimen? Bikin Sabun Sendiri!
Kalau Anda suka DIY, coba cari tutorial bikin sabun dari minyak jelantah. Tapi ingat, selalu utamakan keselamatan dan pakai bahan yang aman, ya!
Kenapa Ini Penting?
Mengelola minyak bekas bukan cuma soal menjaga wastafel tetap bersih. Ini soal menjaga lingkungan hidup, mengurangi polusi, dan mendukung ekonomi sirkular. Siapa sangka, minyak yang kelihatannya kotor dan tak berguna, bisa diolah jadi energi, bahkan penghasilan tambahan?
Bayangkan kalau setiap rumah tangga di Indonesia menyimpan minyak bekasnya dan menyerahkan ke pengelola. Dampaknya bisa luar biasa! Perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil. Dan kali ini, bisa dimulai dari setetes minyak.
Minyak jelantah bukan sekadar limbah dapur. Ia bisa jadi masalah lingkungan kalau dibuang sembarangan, tapi juga bisa jadi berkah kalau dikelola dengan bijak. Entah Anda pilih menyumbangkannya, menjual ke pengepul, atau mengolahnya sendiri yang penting, jangan lagi buang minyak ke saluran air, ya!
Yuk, mulai dari rumah. Saring, simpan, dan sebarkan manfaatnya. Karena perubahan besar bisa dimulai dari dapur kita sendiri.
Nah, itulah hal-hal yang dapat Anda ketahui mengenai dampak serta manfaat dari minyak jelantah. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait gaya hidup lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda