Ketika anak menceritakan bahwa ia kena bully atau disakiti oleh teman, mungkin sulit bagi kita para orang tua untuk tetap tenang. Kita mungkin merasa marah dan panik, mendorong kita untuk segera menelusuri siapa pelakunya, menghubungi sekolah, atau bahkan berhadapan langsung dengan orang tua anak tersebut. Tetapi apakah itu tindakan yang harus kita lakukan, atau justru pada situasi seperti itu kita perlu memberi jeda sebentar untuk memastikan bahwa respons kita sesuai dengan yang anak butuhkan?
![]()
Bullying atau Konflik?
Istilah bullying (perundungan) sering digunakan untuk menggambarkan berbagai pengalaman buruk yang terjadi di antara anak. Padahal, tidak semua konflik, pertengkaran, atau perilaku tidak menyenangkan merupakan bullying. Maka itu, sebelum menentukan apa yang harus dilakukan, kita sebagai orang tua perlu mengetahui dulu apa yang sebenarnya terjadi.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan bullying pada anak dan remaja sebagai perilaku agresif yang dilakukan oleh anak atau sekelompok anak lain, yang melibatkan ketimpangan kekuatan (power gap) yang nyata, serta terjadi berulang kali atau berpotensi berulang. Bullying bukan hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam bentuk verbal, sosial, maupun melalui teknologi (cyberbullying).
Salah satu hal yang paling membedakan bullying dengan konflik antarteman adalah unsur ketimpangan kekuatan. Anak yang melakukan bullying biasanya memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan anak yang menjadi sasaran, sehingga anak tersebut kesulitan untuk menghentikan atau membela dirinya. Namun, kekuatan di sini tidak melulu soal tubuh yang lebih besar atau tenaga yang lebih kuat. Pada anak dan remaja, kekuatan juga bisa muncul dari popularitas, jumlah teman yang mendukung, kemampuan memengaruhi teman lain, atau bahkan akses terhadap informasi pribadi yang dapat digunakan untuk mempermalukan seseorang.
Konflik antarteman seringkali terjadi pada anak di sekolah, misalnya saat anak memperebutkan sesuatu atau saling membalas karena merasa tersakiti. Kedua pihak biasanya sama-sama marah, memiliki kesempatan untuk menyampaikan keberatan, dan tidak ada satu pihak yang secara konsisten dalam posisi lebih kuat. Konflik seperti ini tetap perlu diselesaikan, tetapi pendekatannya berbeda dengan ketika seorang anak berulang kali menjadi sasaran agresi anak lain.
Membedakan bullying dan konflik bukan berarti mengecilkan pengalaman anak. Anak tetap boleh merasa sakit hati, takut, malu, atau marah terhadap sesuatu yang terjadi kepadanya, meskipun setelah dipahami lebih jauh kejadian tersebut ternyata lebih tepat disebut konflik daripada bullying. Justru, semakin akurat kita memahami masalahnya, semakin tepat pula respons yang bisa kita berikan.
Dengarkan Cerita Anak Sebelum Mencari SolusiDengarkan cerita anak sebelum mencari solusi
Ketika anak bercerita tentang masalah dengan temannya, orang tua sering kali langsung mencari solusinya. Tidak jarang, orang tua justru menjadi lebih emosional dan reaktif daripada anaknya sendiri. Baru mendengar ceritanya, kita sudah ingin langsung menghubungi sekolah atau bahkan mencari orang tua anak yang terlibat.
Sebelum buru-buru mencari solusi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu bagaimana anak mengalami kejadian tersebut. Kita bisa mulai dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Waktu itu apa yang terjadi?”, “Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?”, atau “Apa yang kamu rasakan saat teman melakukan itu?” Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang situasi yang dihadapi anak, sekaligus memberi pesan bahwa kita bersedia mendengarkan ceritanya. Kita juga perlu belajar memvalidasi perasaan anak tanpa langsung menyalahkan anak. Mendengarkan merupakan bagian dari upaya memahami masalah sebelum menentukan tindakan yang tepat.
Jangan Sampai Kemarahan Orang Tua Mengambil AlihJangan sampai kemarahan orang tua mengambil alih
Ketika anak disakiti, kemarahan orang tua adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, emosi yang valid tidak selalu perlu langsung diterjemahkan menjadi tindakan. Ada situasi yang memang membutuhkan intervensi segera. Jika terdapat kekerasan fisik, ancaman, pelecehan, atau risiko terhadap keselamatan anak, orang tua tentu perlu bertindak dan melibatkan pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Tetapi dalam situasi lain, kita perlu berhati-hati agar respons kita tidak justru memperbesar masalah. Mengonfrontasi anak lain ketika sedang marah, menghubungi orang tuanya tanpa memahami situasi secara utuh, atau langsung mengunggah kejadian ke media sosial mungkin terasa melegakan, tetapi belum tentu yang paling membantu anak.
Tenangkan diri, kumpulkan bukti, pelajari situasinya secara utuh, baru pertimbangkan dengan matang opsi-opsi langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak.
Libatkan Anak Dalam Penyelesaian MasalahLibatkan anak dalam penyelesaian masalah
Ketika anak semakin besar, terutama memasuki masa remaja, orang tua perlu mulai melibatkan mereka dalam menentukan langkah berikutnya. Daripada langsung berkata, “Mama akan lapor ke kepala sekolah,” kita bisa bertanya, “Menurut kamu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” Kita juga bisa menanyakan apa yang mereka khawatirkan jika masalah tersebut dibicarakan dengan guru, apakah mereka ingin ikut dalam pembicaraan dengan sekolah, atau apakah mereka lebih nyaman jika orang tua yang menyampaikannya terlebih dahulu.
Melibatkan remaja bukan berarti membiarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri. Orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak aman dan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa remaja sedang belajar menjadi individu yang mampu mengambil keputusan dan menghadapi masalah. Ketika anak mengalami bullying, mereka mungkin sudah merasa kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada dirinya. Jika kemudian semua keputusan diambil oleh orang dewasa tanpa melibatkannya, niat kita untuk melindungi bisa saja membuat mereka merasa semakin tidak berdaya.
Setelah Masalahnya Selesai, Perhatikan DampaknyaSetelah masalahnya selesai, perhatikan dampaknya
Satu hal lain yang sering terlewat adalah kondisi anak setelah kejadian ditangani. Bullying dapat berdampak pada kondisi fisik, psikologis, serta relasi sosial anak. Karena itu, perhatikan perubahan yang muncul setelah kejadian. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai di antaranya: anak mulai takut pergi ke sekolah, menunjukkan perubahan pola rutinitas (misalnya tidur atau makan), menunjukkan perubahan emosi di rumah, atau kehilangan minat pada aktivitas yang ia sukai. Jika perubahan tersebut menetap atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, anak mungkin membutuhkan dukungan lebih lanjut dari psikolog atau psikiater.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan hanya membuat bullying berhenti. Kita juga ingin membantu anak mendapatkan kembali rasa aman dan keyakinan bahwa ia tidak harus menghadapi masalah sendirian. Kita memang tidak bisa mengontrol seluruh lingkungan tempat anak tumbuh. Akan selalu ada kemungkinan anak bertemu dengan orang yang memperlakukannya dengan tidak baik. Tetapi ada sesuatu yang bisa kita bangun di rumah: keyakinan bahwa ketika sesuatu yang buruk terjadi, anak bisa datang kepada kita, bercerita tanpa takut disalahkan, dan tahu bahwa kita akan membantunya mencari jalan keluar.
Mungkin, perlindungan terbaik bukan selalu menjadi orang pertama yang turun tangan. Kadang-kadang, perlindungan dimulai dengan menjadi orang pertama yang benar-benar mau mendengarkan, tanpa penilaian.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda