Informasi Artikel

Penulis Artikel

Muthmainah Mufidah, M.Psi., Psikolog

Bagi banyak orang, Januari sering digambarkan sebagai bulan penuh harapan dan energi yang positif. Tahun baru identik dengan resolusi, target hidup, dan semangat untuk “memulai dari nol”. Namun, kenyataannya tidak semua orang merasakan energi positif di awal tahun. Justru, sebagian orang mengalami penurunan suasana hati, kelelahan emosional, hingga kehilangan motivasi. Fenomena ini dikenal sebagai January Blues Syndrome.

 

Apa Itu January Blues Syndrome?

January Blues bukanlah diagnosis klinis yang resmi, melainkan istilah psikologis untuk menggambarkan kondisi emosional kurang menyenangkan yang dirasakan di awal tahun. Gejalanya bisa berupa perasaan sedih tanpa sebab yang jelas, kehilangan semangat, mudah cemas dan khawatir, sulit fokus atau konsentrasi terhadap hal yang akan dikerjakan, muncul pikiran membandingkan diri dengan orang lain, hingga kehilangan minat melakukan berbagai hal. 

Secara psikologis, January Blues sering dipicu oleh keadaan kontras emosional. Setelah melewati Desember yang penuh liburan, hiburan, kebersamaan, dan euforia akhir tahun, Januari datang dengan realitas bahwa kita perlu kembali pada rutinitas, tanggung jawab menumpuk, dan ekspektasi yang mulai kembali perlu dipikul.

 

Ciri-Ciri January Blues Syndrome

January Blues Syndrome dapat muncul secara berbeda pada setiap orang. Namun, secara psikologis ada beberapa ciri umum yang sering dialami, antara lain:

 

1.    Perasaan murung atau sedih tanpa alasan yang jelas

Muncul rasa hampa, sendu, atau “nggak enak aja rasanya” meski tidak ada peristiwa buruk yang spesifik. Emosi ini sering datang tiba-tiba, terutama di pagi hari atau saat mulai kembali ke rutinitas.

 

2.    Kehilangan motivasi dan semangat

Aktivitas yang sebelumnya terasa menyenangkan atau bermakna menjadi terasa berat. Target dan rencana awal tahun justru terasa melelahkan ketika dipikirkan. 

 

3.    Perasaan tertekan secara emosional tinggi

Ada tekanan internal untuk “harus lebih baik”, “harus mulai sekarang”, atau “tidak boleh mengulang kesalahan tahun lalu”, yang berlebihan, sehingga justru menimbulkan kecemasan yang tidak produktif.

 

4.    Mudah lelah secara mental dan emosional

Bukan hanya lelah fisik, tapi merasa cepat capek batin. Sedikit tekanan sudah terasa menguras energi, dan kebutuhan untuk menarik diri menjadi lebih besar.

 

5.    Meningkatnya self-doubt dan kritik terhadap diri sendiri

Pikiran seperti “aku nggak seproduktif orang lain”, “tahun ini pasti sama aja”, atau “aku tertinggal” lebih sering muncul. Ini sering diperkuat oleh perbandingan sosial, terutama dari media sosial.

 

6.    Sulit fokus dan menunda pekerjaan

Konsentrasi menurun, pikiran mudah terdistraksi, dan muncul kecenderungan menunda-nunda pekerjaan. 

 

7.    Perubahan pola tidur dan energi

Beberapa orang menjadi lebih sering mengantuk, sulit bangun pagi, atau justru mengalami sulit tidur karena pikiran yang penuh kekhawatiran tentang masa depan.

 

8.    Menarik diri secara sosial

Keinginan untuk mengurangi interaksi sosial, merasa enggan membalas pesan, atau lebih memilih menyendiri dibandingkan bersosialisasi.

 

January Blues vs Depresi

Penting untuk dipahami bahwa January Blues berbeda dengan depresi klinis. January Blues biasanya bersifat sementara dan berkaitan dengan situasi tertentu. Namun, jika perasaan sedih, hampa, atau tidak berharga berlangsung lebih dari dua minggu, disertai gangguan tidur, nafsu makan, dan fungsi harian, maka penting untuk mempertimbangkan bantuan profesional.

 

Mengapa January Blues Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor psikologis yang berperan dalam munculnya January Blues:

 

1.    Tekanan resolusi dan ekspektasi yang kurang realistis

Awal tahun sering dipenuhi tuntutan untuk menjadi “versi diri yang lebih baik”. Resolusi yang terlalu ideal atau tidak realistis dapat memicu rasa gagal bahkan sebelum benar-benar mulai berusaha.

 

2.    Perbandingan sosial

Media sosial di akhir atau awal tahun dipenuhi unggahan pencapaian, rencana besar, dan kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, ini dapat memicu perasaan tertinggal, tidak cukup baik, atau tidak seberhasil orang lain.

 

3.    Kelelahan emosional yang tertunda

Pada beberapa orang akhir tahun cukup melelahkan dari segi pekerjaan di kantor, di rumah, mengurus anak saat libur sekolah, menghadiri acara, menutup berbagai urusan, dan lain-lain. Hal-hal ini akhirnya membuat kita sibuk fokus pada mode bertahan dan kelelahan secara emosional. Ketika semuanya berhenti di Januari, emosi yang tertahan bisa muncul ke permukaan dan baru terasa lelahnya.

 

4.    Kembali ke rutinitas

Transisi dari masa libur ke rutinitas seringkali memicu stres. Otak perlu beradaptasi kembali dengan struktur, jadwal, dan tuntutan harian.

 

Pentingnya Mengelola Kesehatan Mental di Awal Tahun

Januari adalah momen transisi, dan transisi selalu membutuhkan penyesuaian psikologis. Mengelola kesehatan mental di awal tahun bukan tentang memaksa diri untuk langsung produktif, tetapi tentang memberi ruang pada diri sendiri untuk beradaptasi.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan secara psikologis antara lain:

 

1.    Menerima dan mengakui berbagai perasaan yang dirasakan

Tidak semua orang harus merasa bersemangat di awal tahun. Mengakui bahwa lelah, bingung, atau sedih adalah emosi yang valid dapat mengurangi tekanan internal.

 

2.    Mengubah resolusi menjadi target atau tujuan yang realistis

Alih-alih target besar, fokuslah pada langkah kecil dan memang bisa untuk dilakukan. Penting membuat resolusi yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan dalam jangka waktu yang jelas (SMART goals). 

 

3.    Batasi perbandingan sosial dan fokus pada momen saat ini

Ingat bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan cerita. Setiap orang memiliki garis waktu hidupnya masing-masing dan apa yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, serta sebaliknya. Fokus pada hal yang kita miliki dan dapatkan saat ini, nikmati perjalanan kita saat ini. 

 

4.    Bangun rutinitas yang menenangkan, bukan menghukum

Rutinitas tidak harus selalu produktif. Menyisihkan waktu untuk journaling, berjalan santai, atau sekadar beristirahat juga bagian dari kesehatan mental.

 

5.    Refleksi berfokus untuk kebaikan dan ketenangan diri

Awal tahun adalah waktu yang baik untuk refleksi: apa yang dipelajari, bukan hanya apa yang gagal. Pendekatan reflektif lebih sehat dibandingkan evaluasi yang penuh kritik diri. Fokus untuk seimbang antara apresiasi diri dan juga hal yang perlu ditingkatkan. 

 

6.    Mengelola pikiran: menatang pikiran, mencari saluran, dan mencoba lebih objektif

Ketika banyak pikiran negatif yang muncul, cobalah untuk mencari penyaluran agar tidak memendam sendiri, apakah lewat bercerita pada orang lain, menulis, berolahraga, atau hal-hal yang fokus mengeluarkan energi lainnya. Penting juga untuk menantang pikiran lewat bukti-bukti atau fakta nyata yang ada agar tidak berputar pada asumsi saja dan bergerak menjadi lebih objektif menilai diri maupun hidup. 

January Blues Syndrome mengingatkan kita bahwa kesehatan mental tidak selalu berjalan seiring dengan kalender. Awal tahun bukan perlombaan untuk menjadi lebih cepat, lebih sukses, atau lebih baik dari orang lain. Justru, ini adalah kesempatan untuk memulai dengan kesadaran, welas asih pada diri sendiri, dan penerimaan terhadap proses. Semoga diberi kemudahan menjalani tahun 2026 ini ya!

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Kesehatan Mental

4 Kiat Sederhana Hidup Bahagia

28 Desember 2017

4.9
Kesehatan Mental

Flexing Tanda Tidak Percaya Diri?

24 Maret 2023

5.0
Kesehatan Mental

Tips Mengajarkan Anak Rasa Tanggung Jawab dari Kebebasan

27 Desember 2021

4.7
Kesehatan Mental

Inilah Berbagai Terapi dan Cara Mengatasi Gangguan Kecemasan

31 Agustus 2020

Berikan Pendapat Anda

5 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS