Informasi Artikel

Dirilis

27 Juli 2026

Penulis Artikel

Muthmainah Mufidah, M.Psi., Psikolog


Tag

Di usia dewasa, banyak orang mulai dihadapkan pada berbagai tuntutan kehidupan, seperti bekerja, membangun hubungan serius, menghadapi orangtua yang mulai lansia, mengambil keputusan penting, mengelola keuangan, hingga bertanggung jawab atas konsekuensi dari pilihan yang dibuat. Namun, tidak semua orang merasa siap menghadapi peran-peran tersebut. Sebagian individu cenderung menghindari tanggung jawab, enggan berkomitmen, dan lebih nyaman mempertahankan gaya hidup yang menyerupai masa remaja. Fenomena ini sering dikenal dengan istilah Peter Pan Syndrome. 

Istilah Peter Pan Syndrome diperkenalkan oleh psikolog Dan Kiley pada tahun 1983, terinspirasi dari tokoh Peter Pan dalam cerita karya J.M. Barrie yang menolak untuk tumbuh dewasa. Meskipun Peter Pan Syndrome bukan diagnosis resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental, istilah ini cukup sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku individu yang mengalami kesulitan menjalani tuntutan kedewasaan.

Peter Pan Syndrome dapat muncul pada pria maupun wanita, meskipun istilah ini awalnya lebih banyak digunakan untuk menggambarkan pria dewasa yang menunjukkan perilaku kekanak-kanakan. 

Individu dengan kecenderungan ini umumnya memiliki usia biologis yang sudah dewasa, tetapi secara emosional atau psikologis masih mengalami kesulitan menjalankan peran dewasa. 

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mungkin tampak menyenangkan, spontan, kreatif, dan mudah bergaul. Namun di balik itu, sering kali terdapat kecenderungan untuk menghindari tanggung jawab, menunda keputusan penting, atau bergantung pada orang lain untuk mengurus berbagai aspek kehidupannya. 

 

Ciri-Ciri Peter Pan Syndrome

Berikut ini beberapa ciri individu yang memiliki Peter Pan Syndrome.

 

1. Menghindari Tanggung Jawab

Individu cenderung kesulitan menjalankan tanggung jawab yang sesuai dengan usianya, seperti mengelola keuangan, menyelesaikan pekerjaan, atau memenuhi komitmen dalam hubungan. Ketika diberikan tanggung jawab, individu lebih memilih menghindar atau mengabaikannya dengan berbagai macam alasan. 

 

2. Sulit Membuat Keputusan

Individu sering merasa takut salah, takut gagal, atau merasa tidak cukup baik untuk mengambil keputusan. Tidak jarang individu berharap orang lain mengambil keputusan untuk mereka.

 

3. Ketergantungan Tinggi pada Orang Lain

Meskipun sudah dewasa, individu masih sangat bergantung pada orang tua, pasangan, atau orang terdekat dalam memenuhi kebutuhan emosional maupun penyelesaian masalah secara konkret. Ketika harus menjalani tantangan sendiri, individu merasa tidak nyaman dan umumnya memilih mundur.  

 

4. Takut Berkomitmen

Komitmen sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Akibatnya, individu cenderung menghindari hubungan serius, pernikahan, atau tanggung jawab jangka panjang. 

 

5. Cenderung Menyalahkan Faktor Eksternal

Ketika menghadapi masalah, individu mungkin lebih mudah menyalahkan keadaan, orang lain, atau nasib dibandingkan melakukan refleksi terhadap perannya sendiri. Individu cenderung memiliki kesulitan untuk melihat kedalam diri dan memperbaiki perannya.

 

6. Regulasi Emosi yang Kurang Matang

Individu dengan sindrom ini dapat menunjukkan reaksi emosional yang impulsif, mudah frustasi, atau kesulitan menerima masukan dari orang lain. Respon emosi yang dikeluarkan akhirnya seringkali memunculkan ketidaknyamanan bagi sekitar dan tidak jarang malah membuat kemunculan masalah baru.

 

Mengapa Peter Pan Syndrome Bisa Terjadi?

Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan pola ini.

 

1. Pola Asuh yang Terlalu Melindungi

Orangtua membimbing anak dalam menyelesaikan masalah atau tantangan adalah hal yang baik. Namun, jika selalu dibantu atau orangtua yang lebih aktif dalam menyelesaikan masalahnya, anak bisa menjadi tidak memiliki cukup kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan dan mengembangkan kemandirian. Ketika dewasa, mereka mungkin menjadi kurang percaya diri dalam mengelola kehidupan sendiri.

 

2. Pola Asuh yang Tidak Konsisten

Sebaliknya, lingkungan keluarga yang kurang stabil juga dapat memengaruhi perkembangan kedewasaan emosional. Anak mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar tanggung jawab secara bertahap dan aman. Banyak pesan membingungkan yang diberikan orangtua dapat membuat anak turut bingung dalam mengambil keputusan atau pun menjalani perannya sendiri di masa depan.

 

3. Takut Gagal dan Takut Ditolak

Sebagian individu menghindari peran dewasa karena khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi dan khawatir dengan konsekuensi ketika gagal, sehingga menghindari tanggung jawab menjadi cara untuk menghindari kemungkinan gagal. Tentu tidak ada orang yang ingin gagal dan ada ketakutan tersendiri dalam menjalani tanggung jawab, tetapi pada individu dengan sindrom ini, ketakutan menguasai dan membuat individu tersebut terperangkap didalamnya. 

 

4. Budaya Serba Instan dan Mengagungkan Kenyamanan

Media sosial dan budaya populer saat ini sering menampilkan gambaran hidup yang menyenangkan, bebas, dan serba instan. Hal ini dapat membuat sebagian orang melihat kedewasaan sebagai sesuatu yang membebani, membosankan, dan banyak pilihan lain yang lebih mudah daripada memilih dewasa.

 

5. Kurangnya Keterampilan Hidup (Life Skills)

Tidak semua orang memperoleh kesempatan belajar mengelola diri, menyelesaikan konflik, membuat keputusan, atau menghadapi konsekuensi. Banyak individu yang tumbuh berkembang dari lingkungan sekitar (bukan hanya rumah) yang tidak memberikan mereka akses untuk belajar skill-skill hidup, sehingga tuntutan kehidupan dewasa terasa sangat berat ketika harus dihadapi sendiri.

 

Bagaimana Caranya Keluar Dari Peter Pan Syndrom?

Kabar baiknya, kecenderungan Peter Pan Syndrome bukanlah sesuatu yang permanen. Kedewasaan bukan tujuan yang dicapai dalam semalam, melainkan proses yang terus berkembang sepanjang hidup dan semua orang bisa melatihnya. 

 

1. Mengembangkan Kesadaran Diri

Langkah pertama adalah mengenali pola yang selama ini dilakukan. Apakah kita sering menunda atau menghindari tanggung jawab? Apakah kita selalu bergantung pada orang lain? Dalam hal apa saja itu terjadi? Kesadaran diri membantu kita memahami area yang perlu dikembangkan.

 

2. Belajar Bertanggung Jawab Secara Bertahap

Tidak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari tanggung jawab kecil, seperti mengatur jadwal, mengelola keuangan pribadi, atau menyelesaikan tugas tanpa menunggu diingatkan.

 

3. Melatih Toleransi terhadap Ketidaknyamanan

Menjadi dewasa sering kali berarti menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Belajar menerima ketidaknyamanan sebagai bagian normal dari pertumbuhan dapat membantu seseorang lebih berani menghadapi tantangan.

 

4. Mengembangkan Growth Mindset

Kesalahan dan kegagalan bukan bukti bahwa seseorang tidak mampu, melainkan kesempatan untuk belajar. Kemampuan kita terus bisa berkembang dan dilatih, sehingga kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, masih selalu ada kesempatan. Dengan pola pikir berkembang (growth mindset) ini, individu lebih berani mencoba hal baru dan mengambil tanggung jawab.

 

5. Meningkatkan Keterampilan Regulasi Emosi

Kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi membantu seseorang menghadapi stres tanpa harus menghindari masalah. Teknik seperti mindfulness, journaling, atau refleksi diri dapat menjadi latihan yang bermanfaat.

 

6. Berkonsultasi dengan Profesional 

Apabila pola menghindari tanggung jawab sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kesejahteraan psikologis, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami akar permasalahan dan mengembangkan strategi perubahan yang lebih efektif.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait topik ini atau masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

Premium sparkles
5.0
Mengapa Social Battery Lebih Cepat Habis Saat Hari Raya?
Artikel Ahli
Sosial

Mengapa Social Battery Lebih Cepat Habis Saat Hari Raya?

19 April 2026

Premium sparkles
5.0
Tips Menjadikan Bulan Ramadan sebagai Momen Pendidikan Karakter Anak
Artikel Ahli
Sosial

Tips Menjadikan Bulan Ramadan sebagai Momen Pendidikan Karakter Anak

14 Maret 2026

Premium sparkles
5.0
5 Cara Mengungkapkan Bahasa Cinta Kepada Diri Sendiri
Artikel Ahli
Sosial

5 Cara Mengungkapkan Bahasa Cinta Kepada Diri Sendiri

25 Februari 2026

Premium sparkles
5.0
Memahami Child Grooming: Kedekatan Semu yang Diam-diam Melukai
Artikel Ahli
Sosial

Memahami Child Grooming: Kedekatan Semu yang Diam-diam Melukai

24 Februari 2026

Berikan Pendapat Anda